I Love Indonesia, Jelajah Pariwisata Aceh

I Love Indonesia, Jelajah Pariwisata Aceh

Semarak Jelang Hut Kemerdekaan RI ke 75, Bangkitkan Cinta Tanah Air

Provinsi Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) terletak di ujung utara Pulau Sumatera. Aceh mendapat julukan sebagai kota Serambi Makkah (Sueramo Mekkah). Tahu juga kan, Aceh memiliki julukan lain sebagai Tanah Rencong? Rencong (Aksara Jawoë : رنچوڠ) atau dalam Bahasa Aceh ditulis dengan huruf latin dibacanya “Rintjong” adalah senjata khas Suku Aceh. Pemerhati Sejarah dan Budaya Aceh, Tarmizi Abdul Hamid menuturkan, “Tanah Rencong, itu senjata, karena semangat orang Aceh berjuang sejak Portugis dulu, kemudian Belanda. Semangat masyarakat Aceh dalam melawan penjajah begitu gigih berjuang.”

Rencong merupakan simbol identitas diri, keberanian, dan ketangguhan Suku Aceh. Menurut catatan sejarah, Rencong adalah senjata tradisional yang digunakan di Kesultanan Aceh semasa pemerintahan Sultan Ali Mughayat Syah, Sultan Aceh pertama. Kedudukan Rencong di Kesultanan Aceh sangatlah penting, Rencong selalu diselipkan di pinggang Sultan Aceh, selain itu para Ulee Balang dan masyarakat biasa juga menggunakan Rencong. Rencong emas milik Sultan Aceh bisa kita jumpai di Museum Sejarah Aceh, dari bukti sejarah tersebut dapat disimpulkan bahwa Rencong memang sudah terlahir sejak masa Kesultanan Aceh namun pembuat pertamanya sampai saat ini belum diketahui, siapa Dia?

View this post on Instagram

– Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves) Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Wishnutama memuji keindahan sektor wisata Aceh Singkil, saat berkunjung Rabu (11/3/2020). . Menurut Luhut, sejumlah destinasi wisata di Aceh Singkil sangat bagus, meliputi pantainya yang indah, serta pasirnya sangat putih. . “Paling penting saya sampaikan adalah kebersihan, sampah plastik jangan sampai buang sembarang. Pariwisata kalau jorok tidak ada gunanya. Terus harus ramah kepada turis yang datang,” ujarnya. . Selengkapnya di disbudparaceh(dot)id — Aceh as World's Best Halal Cultural Destination 2016 #thelightofaceh #cahayaaceh #pesonaindonesia #wonderfulindonesia #acehhalaltourism #acehsingkil 📷 by @disbudpar_aceh

A post shared by Disbudpar Aceh (@disbudpar_aceh) on

Dibagikan ilustrasi foto dan video untuk Jelajah Pariwisata Aceh dari laman resmi Disbudpar Aceh, Instagram dari pegiat konten kreatif yang turut membantu promosi Pariwisata Aceh. Dan dari Milenial Zaman Now yang dipandang pas untuk kita saksikan, I Love Indonesia. Yuk, langsung simak!

PariwisataIndonesia, Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Aceh

Foto: Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Aceh

Naah, logo ini adalah logo promosi pariwisata Aceh. Pemerintah Aceh bekerja sama dengan pemerintah kabupaten/kota. Upaya promosikan pariwisata Aceh dikemas dalam branding,

Baca Juga:  Pesona Indah di Pantai Lampuuk, Aceh

‘The Light of Aceh atau Cahaya Aceh’ Ini merefleksikan semangat bagi seluruh masyarakat yang disatukan melalui Syariat Islam yang Rahmatan lil ‘alamiin, sebagai cahaya benderang yang mengajak pada nilai-nilai kebaikan, kemakmuran, dan memberikan manfaat serta kebaikan bagi semua pihak.

View this post on Instagram

Saleum sobat wisata, bulan Ramadhan merupakan bulan yang di segala ruang memiliki berkah dan rahmat. Segala amal perbuatan diberikan ganjaran yang berlipat. . Di bulan yang penuh berkah ini, mari kita saling berbagi kepada sesama dan mereka yang kurang beruntung. . Semoga dengan segala keikhlasan kita menjadi keringanan saudara kita pada masa pandemi Covid-19 ini. . Mari berbagi . . Kunjungi situs resmi www.acehtourism.travel __________ Ikuti Informasi kami juga di: FB : http://bit.ly/fb-acehtourism IG : http://bit.ly/ig-acehtourism TW : http://bit.ly/tw-acehtourism YT : http://bit.ly/yt-acehtourism . #TheLightOfAceh #PesonaIndonesia #wonderfulindonesia #acehhalaltourism #lovelikeandshareaceh #BersatuLawanCorona #DiRumahAja #RamadhandiAceh

A post shared by acehtourism.travel (@acehtourism.trave) on

Sering banget saat pandemi wabah corona slogan sering kita mendengar kalimat ‘Cinta Tanah Air’. Tapi sebenarnya bagaimana sih cara kita mencintai tanah air ini?

Baca Juga:  Mengenal Taman Putroe Phang Banda Aceh

Nah, kamu bisa teladani beberapa contoh sikap cinta tanah air berikut ini, dengan satu caranya kenali budaya Indonesia.

Baca Juga:  Mengenal Pakaian Adat Aceh

Kebudayaan Indonesia dan Destinasi Alam Indonesia begitu kaya, indah, memesona dan memikat hati.

Kita memulainya dari Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Aceh, Provinsi Indonesia. Dan jangan lupa, follow instagram@pariwisataindonesiaofficial.

View this post on Instagram

Selamat Datang ‘New Normal’ “Sosialisasi Kebijakan dan Simulasi Protokol Kesehatan Bagi Industri Parekraf di Masa Covid-19" Dalam siaran pers yang disampaikan Kepala Biro Komunikasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf RI) Agustini Rahayu, meyakini kebijakan dan protokol kesehatan sangat dibutuhkan bagi para pelaku usaha di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di tanah air untuk kembali beraktivitas secara aman sehingga lebih produktif di Jakarta(8/7). Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Menparekraf Angela Tanoesoedibjo dalam sambutannya saat membuka ‘Sosialisasi Kebijakan & Simulasi Protokol Kesehatan bagi Industri Parekraf di Masa COVID-19’ di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Rabu (8/7/2020). Angela menjelaskan bahwa protokol kesehatan dapat dijadikan sebagai acuan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan aktivitas yang produktif dengan cara yang aman serta berdampak positif dalam membangun kembali kepercayaan wisatawan domestik dan mancanegara. Pandemi Covid-19 telah menyebabkan munculnya era adaptasi kebiasaan baru dimana terjadi perubahan kebiasaan masyarakat, seperti: menggunakan masker, jaga jarak, tidak berjabat tangan, serta menggunakan teknologi untuk menghindari terjadinya kerumunan. 11 “Pandemi Covid-19 juga telah mengubah perilaku konsumen baik dalam menentukan pembelian produk/jasa kreatif maupun dalam menentukan perjalanan wisata.” Angela Tanoesoedibjo, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. #jokowi #newnormal #kemenparekraf #pariwisataindonesia #pariwisataindonesiaofficial #angelatanoesoedibjo

A post shared by Pariwisata Indonesia (@pariwisataindonesiaofficial) on

View this post on Instagram

Akhir-akhir ini banyak sekali diskusi seputar sustainable development goals (SDGs) dan ini sangat relevan dengan pengembangan Parekraf. Pengembangan yang inklusif (termasuk gender equality), bertanggung jawab terhadap alam dan budaya, serta memberi dampak ekonomi dan sosial yang positif bagi masyarakat lokal. Masih banyak regulasi dan insentif yang perlu dibenahi agar praktek berkelanjutan ini diminati industri. Ini adalah saat yang tepat, apalagi saat ini banyak anak muda yang sudah memiliki kesadaran akan hal ini. Banyak anak muda yang ingin “work and give back”. – Disini saya berdiskusi dengan beberapa pihak, mengenai pengembangan investasi berbasis sosial, juga ttg penggunaan limbah menjadi salah satu bahan dasar produk ekraf. Kedepannya akan kita terus dorong social entrepreneurship dan sustainable value chain/ supply chain.

A post shared by Angela H Tanoesoedibjo (@angelatanoesoedibjo) on

Aceh adalah provinsi di Indonesia yang ibu kotanya berada di Banda Aceh. Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang diberi status sebagai daerah istimewa dan juga diberi kewenangan otonomi khusus. Yuk, follow instagram@vceh.co!

View this post on Instagram

••• Museum Rumoh Aceh, Banda Aceh • Museum Rumoh Aceh dibangun menyerupai rumah tempat tinggal tradisional masyarakat Aceh, berbentuk rumah panggung. Lantai bangunan ini dirancang setinggi 9 kaki atau lebih dari permukaan tanah. Bersandar pada tiang-tiang penyangga dari kayu dengan ruang kolong di bawahnya. Luas lantai bangunan ini lebih dari 200 meter persegi dengan tinggi atap pada bagian rabung lebih kurang 8 m. Keistimewaan “Rumah Aceh” dan sejenisnya terletak pada segi kekokohan bangunannya; walaupun bagian-bagian rumah hanya dipersatukan dengan ikatan tali ijuk, pasak serta baji sebagai pangganti paku dan sekrup. • Tiang-tiang rumah ini terbuat dari jenis kayu keras pilihan yang rata-rata berdiameter lebih kurang 20 cm, dan berjumlah 44 buah tegak berjajar dalam posisi 4 x 11 memanjang dari Timur ke Barat. Penempatan tangga dengan jumlah anak tangga genap masing-masing 14 buah, di ujung Timur bawah “seuramoe keue” dan di ujung Barat bawah “seuramoe likot”, berkesan tidak biasa. • Dalam masyarakat Aceh tidak dikenal adanya istilah rumah adat. Fungsi masing-masing ruangan ini ditata agar sedapat mungkin menggambarkan fungsi pokok-pokok ruangan pada rumah tempat tinggal tradisional masyarakat Aceh. Untuk memasuki Rumoh Aceh, pertama-tama harus melewati “reunyeun” (tangga). Dengan menaiki “reunyeun” dan melalui pintu depan sampailah di “seuramoe ukeue” (serambi depan). Seramoe keue” (serambi depan) adalah ruang tamu yang terbentang sepanjang rumah. Ruang ini dipakai untuk menerima tamu, menjalankan kegiatan agama dan sebagai tempat musyawarah keluarga. • Artikel lengkapnya : https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbaceh/museum-rumoh-aceh/ • Sumber : @rdhmellyza

A post shared by ACEH CLUB (@vceh.co) on

Aceh terletak di ujung utara pulau Sumatra dan merupakan provinsi paling barat di Indonesia. Satunya tampan dan pasangan wanitanya, tampak elegan, Instagram@yunie_s99, Tampak serasi keduanya. Follow yuk!

Semangat cinta tanah air adalah sikap patriotisme. Dan rasa cinta kepada bangsa ini adalah semangat nasionalisme. Keduanya harus melekat pada diri kita semua. Semangat Nasionalisme dan Sikap Patriotisme. Netizen yang satu ini, sudah cantik, ditambah pakai Baju Traditional Aceh, oalah cantiknya makin-makin. Kepoin yuk, follow deh langsung Instagram@cutriskakamila!

Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa termasuk butir-butir pancasila, sila ketiga. Bunyi sila ketiga, ‘Persatuan Indonesia.’ Sebagai warga Indonesia harus mengembangkan rasa cinta tanah air dan bangsa sebagai pengamalan terhadap pancasila. Follow Instagram@langsapesona, yuk!

Mau tahu banyak kebudayaan Aceh, yuk klik dan jangan lupa, follow lima instagram di bawah ini ‘Gaees, keren-keren deh.

View this post on Instagram

– Sesuai arahan Pemerintah karena adanya pandemi Covid-19, Museum Tsunami Aceh ditutup sementara sejak 16 Maret 2020 hingga saat ini belum dibuka untuk publik dan wisatawan. . Kordinator Museum Tsunami Aceh Hafnidar, menyebutkan, pembukaan kembali museum belum ada instruksi dari Pemerintah. . “Baik dari Pemerintah Aceh melalui Disbudpar Aceh dan juga dari Pemerintah Kota Banda Aceh belum mengeluarkan instruksi terkait untuk dibukanya kembali tempat atau objek wisata tertutup,” sebut Hafni, Selasa (21/7/2020). . Selengkapnya di disbudparaceh(dot)id — Aceh as World's Best Halal Cultural Destination 2016 #thelightofaceh #cahayaaceh #pesonaindonesia #wonderfulindonesia #acehhalaltourism #museumtsunami 📷 by @disbudpar_aceh

A post shared by Disbudpar Aceh (@disbudpar_aceh) on

Jangan lupa Klik juga ini, Klik  Aceh Tourism

Baca Juga:  Mie Aceh, Kuliner Khas Kota Serambi Mekah, Pedasnya Menggoda!

Tempat Wisata Menakjubkan di Aceh, dan Ragam Budaya Aceh Pilihan

Di era yang serba canggih saat ini, generasi muda diharapkan tidak melupakan nilai-nilai budaya kedaerahan. Mari kita mendukung setiap upaya dalam memperkuat kebudayaan Indonesia.

Baca Juga:  Mengenal Tari Laweut dari Aceh

Milenial Zaman Now, perlu gaul dan kenali semua budaya di tanah air.

Nggak boleh dong, generasi muda lupa nilai-nilai budaya kedaerahan. Kamu wajib mengenali semua budaya di Indonesia, nah hari ini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional Indonesia. Tentu, momentum pas untuk yuk perkuat rasa cinta tanah air.

View this post on Instagram

Melihat aktivitas para nelayan di TPI Lampulo Banda Aceh. Kebetulan sekali, pas aku kesini kemarin baru saja merapat dua kapal nelayan yang lagi menurunkan isi kapalnya, yaitu ikan-ikan segar. Kayaknya nasib baik kemarin. Biasanya jarang sekali terlihat pemandangan ini tiap kali aku kemari. Mungkin karena faktor cuaca kali ya, jadi banyak kapal nelayan yang tidak pergi melaut. Ikan-ikan dari dua kapal besar ini memang terlihat kecil-kecil. "Ini karena faktor musim laut, bila ingin mendapatkan ikan yang lebih besar lagi itu ada waktunya", ujar bapak nelayan yang masih muda itu, tapi namanya lupa aku tanya. "Ikan-ikan ini akan dikirim ke Medan, dibikin ikan kaleng" ujar bapak itu lagi saat aku tanya. Nah kamu tau enggak sampai kemana saja kapal-kapal besar nelayan ini mencari ikan? Ternyata mereka mengarungi lautan cukup jauh, sampai ke lautan lepas sana loh. Biasanya mereka menghabiskan waktu 3 sampai 1 minggu sekali pulang pergi untuk mencari ikan. Backsound: Ikson – Together Edit rekam tetap pake HP #samsungphotography #samsunggalaxys7edge #mobilephotography #samsunggalaxy #wisataaceh #videooftheday #instavideo #bandaaceh #lampulo #tpilampulo

A post shared by cekmus (@musdeoranje) on

Indonesia dilahirkan oleh generasi muda dulu yang idealisme, cinta tanah air dan bangsa, jika tidak, mungkin saja, Bangsa ini masih tetap dijajah bangsa lain. Indonesia mau dijajah kembali?

Maka dari itu, kita harus berterimakasih kepada pahlawan yang berjuang di masa penjajahan. Yuk kuatkan dan recharge! Jiwa dan berkobar di dadamu, rasa cinta tanah air dan bangsa. Wahai generasi muda, hello? Kamu loh, generasi penerus bangsa ini. Dan anak muda hari ini, Milenial Zaman Now yang ke depan akan pimpin negri ini.

Lanjutkan ceritamu ‘Gaees, Pariwisata Aceh dalam Foto dan Video, Klik! | (Bersambung)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )