Pariwisata Indonesia, Teuku Badruddin Syah
Tradisi Samadiah, Peusijuek dan prosesi penabalan gelar Sultan Malik Teuku Haji Badruddin Syah Samudera Pasai Zhillullah Fil 'Alam menjadi Sultan Samudera Pasai ke-21 / (Foto: Media PI/Dok. Pribadi)

Penerus Dinasti Samudera Pasai Ke-21 Dapat Gelar Sultan Malik Teuku Haji Badruddin Syah Samudera Pasai Zhillullah Fil ‘Alam

Lewat kilang minyaknya di Tanah Rencong, Sultan Samudera Pasai Ke-21 bercita-cita ingin makmurkan masyarakat Aceh. Pengusaha yang bergerak di sektor migas ini menyatakan ingin masuk Surga dari pintu sedekah terungkap saat jaringan situs online Pariwisata Indonesia di bawah naungan Media PVK Grup mewawancarai Sultan Malik Teuku Haji Badruddin Syah. Yuk, simak wawancara lengkapnya!

Lewat kilang minyaknya di Tanah Rencong, Sultan Samudera Pasai Ke-21 bercita-cita ingin makmurkan masyarakat Aceh. Pengusaha yang bergerak di sektor migas ini menyatakan ingin masuk Surga dari pintu sedekah terungkap saat jaringan situs online Pariwisata Indonesia di bawah naungan Media PVK Grup mewawancarai Sultan Malik Teuku Haji Badruddin Syah. Yuk, simak wawancara lengkapnya!

Visi dan Misi Sultan Samudera Pasai ke-21

Teuku Badruddin Syah bercita-cita ingin menjadikan Aceh kuat secara ekonomi melalui pendekatan adat dan budaya, juga kembali menguatkan posisi Islam di Bumi Serambi Mekkah agar tercipta negeri yang “Rahmatan Lil Alamin”.

Saat ditanyakan tentang apa yang dirasakannya ketika menjadi Sultan Samudera Pasai ke-21, Abu Turki menjawabnya, ini adalah sebuah tanggung jawab dan amanah yang harus dijalankannya. Meski begitu akan selalu ada pula yang pro dan kontra.

Menyoroti hal tersebut, kata dia, itu adalah hal biasa. Selama niatnya baik, maka tak perlu cemas dan terus saja menatap masa depan Aceh untuk menjadi lebih baik.

Menyaksikan kondisi tanah kelahirannya sekarang-sekarang ini, ia meyakini bahwa pendekatan pembangunan ekonomi harus melalui adat dan budaya. Sandainya dibangun berdasarkan pendekatan politik, maka itu akan memunculkan konflik kepentingan.

Apalagi bila ekonomi di Aceh dibangun berdasarkan kooptasi politik, sudah tentu akan membawa Aceh menjadi lebih miskin dan tidak akan maju-maju, malah pembangunan Bumi Darussalam bakal mengalami stagnasi.

Ditambahkannya, Aceh sejak dulu sudah terkenal kaya terutama saat di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Kini, Aceh jadi provinsi termiskin di Indonesia. Menanggapi hal tersebut, Abu Turki memaparkan sejumlah alasan. Mengawalinya ia menyebutkan, karena Umara dan Ulama tidak bejalan beriringan.

Menurutnya, Sultan Malikussaleh dan Sultan Iskandar Muda dalam memerintah kesultanannya selalu didampingi oleh seorang atau beberapa Qadin Malikul Adil (penasehat dalam bidang agama).

Mereka bertugas untuk memberi nasehat buat sultan dan memberikan putusan-putusan kepada sultan, serta mengingatkan sultan jika ditemukan kebijakan-kebijakan yang menyimpang. Atas dasar itu, ia menilai sangat wajar bila Aceh mencapai masa keemasannya di zaman tersebut.

Pariwisata Indonesia, Teuku Badruddin Syah
PIN Emas yang diberikan kepada Teuku Badruddin Syah menandai penabalan gelar Sultan Malik Teuku Haji Badruddin Syah Samudera Pasai Zhillullah Fil ‘Alam, ilustrasi foto juga menceritakan rangkaian aktvitas terkait penobatan Sultan Samudera Pasai ke-21 / (Foto: Media PI/Dok. Pribadi)

Songsong masa depan Aceh lebih baik, ini sejumlah langkah strategis yang akan ditempuh Sultan Samudera Pasai ke-21

Pertama, ia ingin mempersatukan wareh/nasab/garis keturunan yang bertalian darah yang telah tercerai berai untuk kemudian diajak bersatu dalam membangun Aceh.

Wabilkhusus, penguatan di bidang ekonomi, dan Abu Turki juga menceritakan tentang sejumlah peternak sapi yang sukses di Australia disebutnya merupakan keturunan Samudera Pasai dan sudah menyatakan kepada dirinya, bahwa mereka akan membantu dalam mengembangkan dan memakmurkan Aceh.

Kedua, dalam berbagai kesempatan, baik di majelis taklim, di masjid, maupun di pengajian lainnya, ia bertekad buat diri dan keluarganya untuk kembali pada tuntunan dan syariat yang diajarkan dalam agamanya dengan meneladani dan menjaga perilaku sesuai dengan akhlak Rasulullah atau Ahlusunnah Wal Jamaah.

Yaitu, menjadi penjaga sunah Nabi Muhammad SAW, dan jangan ditiru ideologi aliran kebudayaan luar, namun bila hal itu bisa memberikan kebaikan silakan diambil dan begitu juga sebaliknya.

Sebab, dampak buruk dari infiltrasi budaya asing, manakala kearifan lokal setempat tidak diperkuat dan tak dijaga untuk tetap lestari.

Penerus dinasti Samudera Pasai yang baru dilantik ini dengan tegas mengatakan, bila hal tersebut dibiarkan akan memberi dampak langsung terhadap adat dan budaya Aceh yang kian lama makin tergerus di makan zaman.

Ketiga, Kesultanan Aceh tetap berada di bawah payung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Lalu, adat dan budaya Aceh harus mampu melapisi ‘NKRI’.

Pewarta  :  Erwin Herlambang
Editor       :  I Gusti Bagus WS