Presiden RI Ir. H. Joko Widodo

Presiden RI Ir. H. Joko Widodo

Pesan Multikulturisme Lewat Busana Adat

Dikutip dari situs www.indonesiatraveler.id, Jokowi adalah Presiden ke-7 Indonesia yang mulai menjabat sejak 20 Oktober 2014. Terpilih dalam Pemilu Presiden 2014, Jokowi menjadi Presiden Indonesia pertama sepanjang sejarah yang bukan berasal dari latar belakang elite politik atau militer Indonesia.

Sebagai orang nomor satu di Indonesia, Jokowi selalu tampil mengesankan dan disukai seluruh masyarakat. Yang selalu jadi kebiasaannya adalah beliau selalu mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Ini menjadikan ciri khas Jokowi tampil sehari-harinya. Bahkan, dalam memimpin rapat, pria kelahiran 21 Juni 1961 ini tetap tampil bersahaja dengan kemeja putih dan celana hitamnya ini.

Baca Juga:  Presiden Jokowi Dinobatkan ‘Bapak Bhinneka Tunggal Ika’

Jokowi dengan Baju Adat

Namun, di luar kebiasaannya mengenakan kemeja putih dan celana hitam ini, Jokowi beberapa kali memakai pakaian adat. Bahkan, terbilang sering mengenakan pakaian adat. Yah, Presiden Joko Widodo sangat mencintai warisan kebudayan Indonesia. Beliau kerap mengekspresikannya lewat pakaian yang ditunjukkannya dalam berbagai aktifitas resmi kesehariannya sebagai Presiden RI.

Baca Juga:  Baju Adat dari Kalimantan Utara

Bahkan, ia pula yang mendobrak kebiasaan mengenakan jas dalam upacara kenegaraan memperingati HUT RI dengan memakai busana tradisional ini. Ide pengenaan baju adat dalam acara-acara penting itu memang bukan hal baru. Namun sepertinya Jokowi paham betul bahwa ide orisinil atau biasa sekalipun bisa membawa efek luar biasa jika diterapkan pada momentum yang tepat. Jokowi mengakui bahwa dia hanya ingin mengenakan pakaian adat yang berbeda dari tiap daerah dalam berbagai kesempatan.

Anak pertama dari empat bersaudara ini, pernah mengenakan baju adat khas Suku Sasak yang sekilas agak menyerupai dengan pakaian adat Bali, dalam pidato kenegaraan di Sidang Tahunan MPR 2019 tahun lalu. Pakaian adat pria suku sasak ini disebut dengan pegon. Pegon yang berbentuk seperti jas ini memiliki akulturasi dan pengaruh dari tradisi Jawa dan jas Eropa. Hal ini dianggap sebagai lambang keagungan dan kesopanan. Biasanya pegon memiliki warna hitam polos. Namun kali ini Jokowi mengenakan pakaian adat Sasak berwarna coklat keemasan. Bahan polos ini dimodifikasi di bagian belakangnya sebagai tempat menyelipkan keris. Sebagai penghiasnya, kain songket berbenang emas digunakan di bagian pinggangnya. Ikat pinggang ini dikenal juga dengan nama leang. Nama lainnya tampet atau dodot. Pakaian adat suku sasak juga memiliki ikat kepala, bernama sapuq atau sapuk.

Saat peringatan HUT ke-74 RI, Jokowi mengenakan baju adat Klungkung lengkap dengan kain batik sebagi bawahan dan penutup kepala. Sementara itu, Iriana memakai baju adat Simalungun, Sumatera Utara lengkap dengan aksesoris kepalanya. Beliau pun membawa tas yang bertuliskan ‘Horas’.

Bapak yang memiliki tiga orang anak bernama Gibran Rakabuming, Kaesang Pangarep dan Kahiyang Ayu ini, juga pernah mengenakan pakaian adat yang berasal dari Provinsi Aceh yang didominasi warna hitam dan memakai penutup kepala warna merah. Busana yang dikenakannya ini biasanya digunakan untuk upacara adat atau acara pemerintahan lainnya yaitu meukasah, siluweu, ijo krong, meukeutop, dan senjata tradisional khas Aceh yaitu rencong. Sementara Ibu Negara, Iriana Joko Widodo yang saat itu turut mendampingi, memakai baju adat yang berbeda yaitu dari Minangkabau.

Baca Juga:  BPIP Lakukan MOU tentang Kebhinnekaan dan Toleransi

Suatu ketika Jokowi juga pernah mengenakan baju adat asal Makassar, Sulawesi Selatan. Busana yang dikenakannya ini dikenal juga dengan sebutan baju bella dada. Merujuk pada pakaian adat Makassar, busana ini dikenakan bersama paroci (celana), lipa garusuk (kain sarung) dan passapu (tutup kepala seperti peci). Model baju adat ini biasanya hadir dengan bentuk jas tutup berlengan panjang dengan kerah dan kancing sebagai perekat. Baju ini dilengkapi saku di bagian kiri dan kanan. Yang menarik dalam pilihan busana Jokowi kali ini adalah permainan warna. Padu padan baju hitam dengan kain sarung merah menyala bermotif serta peci warna emas menjadi satu kesatuan yang sangat serasi. Serta masih banyak lagi baju-baju adat khas daerah Indonesia lainnya yang sudah dikenakan Jokowi.

Gaya berpakaian Presiden Joko Widodo tak ada habis-habisnya menyita perhatian masyarakat. Bagi Jokowi, menyampaikan pesan multikulturisme lewat busana jauh lebih penting. Ada pesan kuat pada gaya berpakaian adat yang selalu dikenakannya ini. Sebagai kepala negara, Jokowi ingin menunjukkan keberagaman Indonesia sekaligus mengajak penduduk Indonesia tetap bersatu. Dan inilah yang membedakannya dengan Presiden Indonesia lainnya. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menyebut bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya dan memiliki banyak pakaian adat yang harus dilestarikan, yang harus diperlihatkan ke seluruh dunia.

Artikel ini telah tayang di situs www.indonesiatraveler.id dengan judul: Presiden RI Ir. H. Joko Widodo” dan ditulis oleh Nilia Andrini.

View this post on Instagram

Kejayaan minyak dan kayu sudah selesai. Kejayaan komoditas sumber daya alam juga sudah hampir selesai. Untuk ke depan, percayalah, kita harus membangun pondasi sumber daya manusia yang berkualitas, yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan kualitas SDM itu harus dibangun, sejak di dalam kandungan. Oleh sebab itu, tidak boleh ada lagi yang namanya stunting pada anak. Kesehatan ibu dan anak menjadi kunci, terutama pada usia emas, sampai tujuh atau delapan tahun. Lalu, kita tingkatkan kualitas pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Bukan hanya untuk membuat generasi muda menjadi pintar dan mampu berkarya, tetapi juga jangan lupa, mencetak generasi Pancasilais, yang toleran, yang kokoh bergotong royong.

A post shared by Joko Widodo (@jokowi) on

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )