Saya Cuma Seorang Pengamen (Seri-2)

“Dalam dekade per dekade untuk membudayakan kebaikan di tengah masyarakat, nyatanya kembang kempis. Timbul tenggelam. Bangkit, terpuruk lagi. Begitu terus berulang-ulang. Oleh karenanya, saya mempunyai pandangan untuk hal tersebut. Tapi mohon dicatat, ini menurut hemat saya loh,” Saptoto Nugroho selaku pendiri grup musik Toto & Stars mencurahkan perasaannya saat diwawancara oleh redaksi PariwisataIndonesia.ID. Penasaran? Silakan baca ulasan lengkapnya.
SAPTOTO NUGROHO,SAPTOTO NUGROHO PENDIRI GRUP MUSIK TOTO & STARS,umi kalsum founder dan ceo media pvk grup,17 AGUSTUS 1945,GRUP MUSIK TOTO & STARS,HARI KEMERDEKAAN INDONESIA,HARI ULANG TAHUN KEMERDEKAAN RI YANG KE 76,INDONESIA OFFICIAL TOURISM WEBSITE,MEDIA PVK GROUP DENGAN 10 SITUS PARIWISATA DAN E MAGAZINE,MEDIA PVK GRUP,MEDIA RESMI PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA INDONESIA
Saptoto Nugroho Pendiri Grup Musik Toto & Stars (Foto: Website PariwisataIndonesia.ID)

PariwisataIndonesia.IDArtikel ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Saptoto Nugroho selaku pendiri grup musik Toto & Stars mencurahkan perasaan kepada redaksi PariwisataIndonesia.ID dan merasa prihatin, sambungnya, bangsa ini telah menghilangkan pendidikan budi pekerti.

Saptoto Nugroho, Sosok Penting di Balik Nama Toto & Stars (Seri-1)  <<< Baca artikel sebelumnya

“Dihilangkan, nek diselamur menjadi mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila.Red) atau PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.Red). Padahal, pendidikan budi pekerti adalah dasar untuk menemukan kemerdekaan itu sendiri,” curhatnya saat diwawancara oleh redaksi PariwisataIndonesia.ID, pada Kamis (19/8).

Ia berpandangan bahwa Indonesia ini bisa merdeka seutuhnya jikalau semua pihak musti sadar dan jangan bertengkar. Pendapatnya, karena nilai-nilai yang terkandung dalam budi pekerti akan kembali pada diri kita sendiri.

“Dalam dekade per dekade untuk membudayakan kebaikan di tengah masyarakat, nyatanya kembang kempis. Timbul tenggelam. Bangkit, terpuruk lagi. Begitu terus berulang-ulang. Oleh karenanya, saya mempunyai pandangan untuk hal tersebut. Tapi mohon dicatat, ini menurut hemat saya loh,” kritiknya.

Kalau pemahaman budi pekerti sudah tertanam dan dipegang erat-erat. Maka sudah bisa dipastikan sesama anak bangsa akan hidup berdampingan dengan rukun dan damai.

“Kita mengerti dan sadar, ya kalau itu menyangkut agama tentu akan membicarakan akhlakul karimah atau apa sajalah itu. Saya tidak paham, karena bukan ahli agama. Namun yang jelas, atau benang merah keperibadiaan setiap orang yang sudah tertanam nilai-nilai budi pekerti. Anda tak perlu lagi bertanya soal agama, suku dan budaya serta lainnya. Alasannya, kita ini semua sama. Iya, sama-sama manusia,” usulnya.

Redaksi mengulik perjalanan karirnya sebelum ngehits seperti sekarang, dan Toto tidak sungkan membagikan kisah hidupnya saat menapaki setiap “Anak Tangga” untuk berhasil meraih kesuksesan.

Dia pun berharap, secuil pengalamannya dapat berguna bagi generasi muda yang akan meniti karir lewat jalur musik dan mereka bisa lebih hebat dari grup musik Toto & Stars.

“Saya cuma seorang pengamen. Pernah sekolah SMA (Sekolah Menengah Atas.Red) dan tidak lulus. Setelah itu, beli ijazah SMA. Berbekal ijazah tadi, bisa keterima di kampus. Itu pun, tidak lulus. Akhirnya, saya beli lagi ijazah kuliah,” kenangnya.

Keberadaan ijazah bisa dibeli tentu ini mengundang tanya. Rasa penasaran berkecamuk dan mengusik pikiran redaksi.

Lalu, meminta penegasannya, apakah sekedar guyonan atau benar-benar menjadi realita dalam kehidupannya?

“Itu betul, karena Indonesia terlalu lentur seperti bambu. Ijazah saja bisa dibeli, ya saya beli. Peristiwanya terjadi sekitar tahun 1990-an. Saya beli saja untuk mendapatkan Ijazah tersebut. Tidak menampik, long life education saya memang besar di jalanan,” terangnya.

Keusilan Toto karena ingin membuktikan “kebenaran” bahwa ijazah dapat dibeli dengan uang. Walaupun merogoh kocek sendiri. Kendatipun itu ilegal. Nyata-nyatanya “diperjualbelikan” di Indonesia.

“Saya akui memang membeli ijazah itu. Ehh, kok dilalahnya bisa untuk kuliah. Ya sudah, saya lewati prosesnya. Tetapi, kalau bicara tentang ilmu. Apa yang diperoleh saya adalah pengalaman hidup. Pengalaman hidup adalah ilmu yang sesungguhnya,” pendapat Toto.

“Ilmu tidak bisa dijalani tanpa kita menjalani perjalanan hidup itu sendiri. Kita hanya mengerti teori. Kita memahami taktisnya tetapi Anda tidak akan menemukan benar dan salahnya saat menjalani kehidupan. Memahami itu benar, sudah pasti karena kita melewati salah,” tambahnya.

Kala itu, ia memulai karirnya dari mengamen sampai mengadu nasib ke Jakarta. Kemudian, terlibat dengan banyak kolaborasi bersama untuk mensupport musisi di Tanah Air yang tak terbilang jumlahnya.

Seiring waktu, Toto pun memperoleh kesempatan dan memiliki panggung sendiri. Singkat cerita, “Perjalanan hidup yang saya geluti yaitu musisi dan seniman,” kisahnya.

Di akhir wawancara, redaksi menanyakan musisi yang sangat legendaris di Indonesia versi Toto.

“Ibu saya, dong,” jawabnya. Alasannya? “Beliau membesarkan saya dan mengajarkan tentang musik itu sendiri sampai sekarang,” tambahnya.

Redaksi kembali mempertegas pertanyaan, khawatir salah persepsi. Arah pertanyaannya dibuat mengerucut dengan meminta penilaian Toto untuk menyebutkan nama musisi di Indonesia yang legendaris.

Tetap saja, Toto bersikukuh “ibunya” dan dia memaparkan.

“Musisi legendaris itu relatif, bicara legend karena dia sudah bisa berkarya dan diakui oleh khalayak ramai. Disebut legend karena sering diputar dan diperdengarkan. Akhirnya, terkenal. Kemudian, publik menyebut itulah yang disebut musisi legend,” paparnya.

“Sementara makna dari legend berasal dari kata legenda. Sangat pantas jika menyebutkan musisi yang melegenda dan berpengaruh dalam kehidupan maupun kepribadiaan saya tentu Ibu saya. Mengapa? Karena Ibu saya sinden di keraton Jogjakarta, penyanyi dengan suara yang sangat merdu,” tutupnya. (Soet/Ss/Eh)