Tradisi Balimau

Adat dan Tradisi Bersuci Menyambut Bulan Suci
Pariwisata Indonesia
Foto: harianhaluan.com

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, bulan Ramadhan menjadi bulan suci yang paling dinanti oleh umat Islam. Demi menyambut bulan mulia ini, umat Islam melakukan banyak persiapan baik secara fisik maupun psikis. Selain itu, di beberapa tempat juga dilakukan berbagai tradisi untuk menyambut bulan tersebut. Salah satunya tradisi Balimau di Sumatra Barat.

Pariwisata Indonesia
Foto: m.mediaindonesia.com

Balimau merupakan tradisi mandi dengan mengunakan limau atau jeruk nipis. Tradisi ini biasanya dilakukan seminggu atau sehari menjelang Bulan Ramadhan atau pada akhir Bulan Syaban. Balimau dilaksanakan di kawasan yang memiliki aliran sungai atau pemandian umum. Tradisi ini dapat dilakukan oleh siapa saja, baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan.

Tidak ada catatan pasti kapan tradisi ini mulai dilaksanakan. Namun, Balimau diyakini merupakan pengaruh dari kebudayaan India. Masyarakat India memang kerap melakukan mandi di Sungai Gangga dalam berbagai momen khusus, seperti Makara Sankrati (pemujaan Dewa Surya), Raksabandha (penguat tali kasih sesama), atau Vasanta Panchami (penyucian diri).

Bagi masyarakat Minang, mandi di aliran sungai memiliki makna tersendiri. Tradisi yang telah dilakukan turun temurun dan menjadi kebiasaan ini, melambangkan penyucian diri, lahir dan batin, untuk menghadapi bulan yang mulia. Hal ini juga menjadi bukti bahwa orang tersebut siap untuk memasuki bulan Ramadhan.

Pariwisata Indonesia
Foto: koran.tempo.co

Penggunaan limau atau jeruk nipis dalam tradisi ini serupa dengan sabun. Pada zaman dahulu, sebelum sabun ditemukan, masyarakat menggunakan limau untuk menghilangkan kotoran dan minyak yang ada disekujur tubuh, karena sifatnya yang dapat melunturkan lemak atau minyak.

Selain sebagai metode untuk menghilangkan kotoran secara lahir maupun batin, tradisi Balimau juga digunakan sebagai momen untuk silaturahim. Tradisi itu juga menjadi salah satu momen berkumpulnya Ninik Mamak, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, hingga anggota masyarakat. Dalam momen tersebut, setiap orang melakukan tradisi maaf-memaafkan sebagai salah satu upaya untuk membersihkan hati demi menyambut bulan suci.

Selain di Provinsi Sumatra Barat, beberapa daerah di sekitarnya juga melakukan tradisi Balimau, seperti di Kabupaten Pelalawan dan Kampar, Provinsi Riau. Masyarakat di kedua daerah ini juga kerap melakukan tradisi Balimau Kasai (balimau: mandi dengan limau, kasai: wangi-wangian).

Meskipun awalnya memiliki tujuan yang baik, tapi akhir-akhir ini tradisi Balimau mengalami banyak penyimpangan. Tradisi yang dulunya dijadikan sebagai sarana untuk menyucikan diri, malah digunakan sebagai tempat untuk berbaur dan mandi bersama antara laki-laki dan perempuan.

Padahal, hal tersebut sangat dilarang dalam ajaran Islam, terutama untuk masyarakat Minang yang memegang erat ungkapan “Adaik basandi syara’, syara’ basandi kitabullah (Adat bersendi syariat, syariat bersendi kitab Allah). Mengembalikan tradisi Balimau sesuai dengan tujuan awalnya, menjadi PR besar bagi masyarakat Minang, juga di daerah lain.

Sobat Pariwisata, pada tahun 2015, Balimau ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Provinsi Sumatera Barat. (Nita)