Calong

Alat Musik Tradisional Khas Mandar
Pariwisata Indonesia

Sulawesi Barat merupakan salah satu provinsi muda di Indonesia. Provinsi yang berdiri pada tanggal 5 Okteber 2004 ini merupakan pemekaran dari Provinsi Sulawesi Selatan. Meskipun demikian, provinsi ini kaya akan budaya dan kesenian yang telah diwariskan turun-temurun. Salah satunya alat musik tadisional Calong.

Pariwisata Indonesia

Calong merupakan alat musik yang berasal dari daerah Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Alat musik ini diperkirakan berasal dari kata caq (bumi yang dikeluarkan saat bilah dipukul) dan long, yang berasal dari kata tillotillong (suara mendayu-dayu). Calong diperkirakan mulai berkembang pada masa Kerajaan Balanipa, tepatnya sekitar abad ke-15 dan disebut merupakan pengembangan dari alat musik ganding-ganding yang telah ada sebelumnya.

Calong memiliki bentuk yang menyerupai kolintang, tapi dengan tatakan resonansi berasal dari buah kelapa. Cara memainkannya pun sama, yaitu dengan memukul-mukul bilah bambu tersebut. Calong terbuat dari bahan utama bambu (Bambuseae). Bambu merupakan salah satu tumbuhan yang banyak dijumpai di daerah Sulawesi Barat. Selain bambu, alat musik ini juga menggunakan buah kelapa (Cocus nucifera).

Pariwisata Indonesia

Pembuatan Calong dimulai dengan membelah bambu menjadi beberapa bilah dan memotongnya dengan panjang sekitar 30 cm. Bilah-bilah bambu ini tidak memilki panjang yang sama agar nada yang dihasilkan pun beragam. Bambu yang telah dipotong lalu dikeringkan dengan cara dijemur. Proses penjemuran ini bisa berlangsung selama enam bulan.

Setelah kering, bilah-bilah bambu tersebut disusun di atas buah kelapa yang sebelumnya telah dilapisi dengan dua buah batang kayu agar lebih kokoh. Sebelum menyusun bilah, bagian atas dan bawah buah kelapa harus dipotong sebagian. Buah kelapa yang digunakan harus merupakan buah pilihan, yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Buah kelapa juga tidak boleh terlalu basah dan terlalu kering, agar kulitnya tidak mudah mengelupas. Untuk menyatukan bilah dengan kelapa, digunakan kawat dan sumbu kompor.

View this post on Instagram

#alatmusikcalong!!! #latihan

A post shared by Arpa Yanti Asnur (@arvha04) on

Satu Calong terdiri dari empat buah bilah bambu. Pada zaman dahulu, Calong merupakan alat musik pentatonik yang hanya memiliki empat buah nada, yaitu do, re, mi, dan si. Seiring perkembangan zaman, para seniman pun melakukan pengembangan pada alat music tradisional ini. Beberapa Calong yang disusun dapat menghasilkan nada diatonik, yaitu nada lengkap yang tersusun dari nada do, re, mi, fa, so, la, si, dan ditutup dengan do tinggi.

Pada zaman dahulu, Calong dimainkan para petani sebagai hiburan saat menunggu hasil panen di sawah. Sobat Pariwisata, alat musik ini bisa terdengar hingga jarak 3-5 kilometer loh! Seiring perkembangan zaman, alat musik ini kerap menjadi instrumen pengiring dalam tari-tarian tradisional.

Sobat Pariwisata! Calong juga dapat dimainkan secara solo atau dimainkan dengan alat musik lain, seperti rebana, tifa, dan sebagainya. Pada perkembangannya, Calong pun kerap dikolaborasikan dengan berbagai jenis musik, seperti jazz, pop, hingga rock. Sejak tahun 2016, Calong ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Provinsi Sulawesi Barat.(Nita)