Di kesempatan yang sama, Kepala BNN RI Petrus Reinhard Golose dalam sambutannya mengatakan, berdasarkan hasil uji publik survey prevalensi yang dilakukan BNN RI bersama BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dan BPS (Badan Pusat Statistik).
Menurutnya, angka prevalensi setahun terakhir penyalahguna narkoba meningkat dari 1,80% pada tahun 2019 menjadi 1,95% di tahun 2021 atau naik dari 3.419.188 menjadi 3.662.646.
Namun, tidak demikian di wilayah pedesaan. Sebab, terjadi penurunan angka prevalensi. Data lain yang dipaparkan orang nomor satu di lingkungan BNN menjelaskan, bahwa untuk resiko perempuan terpapar narkoba di perkotaan lajunya mengalami kenaikan yang mencolok dari 0,20% (2019) menjadi 1,21% (2021).
“Dari hasil prevalensi tersebut menunjukan bahwa program kegiatan yang BNN RI lakukan dengan konsep Desa Bersinar berhasil, dan selanjutnya untuk pencegahan di perkotaan kedepan kita galakan program Kota Tanggap Ancaman Narkoba (KOTAN), sehingga program kegiatan yang dilakukan berkesinambungan demi terwujudnya Indonesia Bersinar,” kata Kepala BNN.
Lebih lanjut, Petrus Golose mengapresiasi para pejabat di tingkat madya dan pratama. Pasalnya, berkat dukungan dan kerja keras mereka berhasil mewujudkan implementasi P4GN terutama Bidang Rehabilitasi di wilayah masing-masing sehingga masyarakat memiliki keyakinan terhadap peran BNN RI di Indonesia.
“Pelaksanaan sinergitas RAN P4GN ini juga harus dilakukan secara periodik antara BNN RI dengan Kementerian/Lembaga,” pungkasnya.
Di akhir keterangannya, Kepala BNN mengingatkan para Kepala BNNP/Kab/Kota agar mengoptimalkan dan memonitor pelaksanaan Inpres Nomor 2 Tahun 2020 tentang RAN P4GN.
Pernyataannya tak berhenti sampai di situ. Dilanjutkan dengan membilangkan bahwa dibutuhkan komitmen bersama dan dukungan penuh dari semua pemangku kepentingan terhadap suksesnya pelaksanaan program P4GN. (Ben)





































Leave a Reply