Tak usah heran pula saat berwisata, ehh terdengar bunyi-bunyian seperti suara “mendecit” berasal dari tarikan alat tenun. Karena riuh suara jahitan yang sayup-sayup itu memang menyatu dengan kawasan tersebut.
Diduga, hampir semua rumah di kawasan perkampungan ini memiliki mesin tenun tradisional. Bila diperhatikan seksama, para pengrajin didominasi kalangan “emak-emak usia paruh baya” dan terkenal ramah-ramah, loh!
Ada cerita menarik lainnya di balik “Sarung Hatta”, kisahnya bermula ketika Bapak Koperasi Indonesia yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden pertama Republik Indonesia tengah melakukan kunjungan kerja ke kota Samarinda, dan singgah ke kawasan ini.
Salah satu pengrajin terkemuka di tempat itu, sontak sodorkan karyanya berbentuk sarung hitam bermotif suku Dayak, dan Bung Hatta pun berminat.
Selepas sarung itu menjadi ‘buah tangan’ Bung Hatta, timbul ide dari sang penjual untuk menyematkan nama “Bung Hatta”, sebab selama dia berniaga belum terpikirkan untuk menyematkan “brand” di produknya. Itulah cerita di balik kisah nama “Sarung Hatta”.
Sobat Pariwisata, saat sekarang, “Sarung Hatta” atau disebut juga dengan sarung “Balo Hatta”, motifnya sudah semakin berkembang pesat dan menjadi salah satu produk kriya yang populer di kawasan tersebut.
Melekatnya nama Bung Hatta, tak ayal menarik minat banyak wisatawan untuk membelinya. Sementara itu, sarung Samarinda bermotif “Balo Hatta” memiliki ciri khusus yaitu terdapat pola garis-garis yang dipadukan dengan warna merah-hitam sebagai ciri khas di sarung tersebut.

Namun, pengrajin juga akan memberikan penawaran alternatif yang tentu tak kalah menariknya, seperti motif Ayam Pelopo, Burica dan jenis sarung sutera kembang dengan motif Balo Negara, Balo Siparape, Balo Sipukebalong, Balo Ta’bagolo, Sa’bi Pucuk, Balo Ma’bunga, Balo Bontang, Balo Suharto dan Balo Garanso.
Kampung Wisata Tenun Samarinda sudah difasilitasi sarana dan prasarana sebagai pendukung untuk memudahkan orang berwisata, salah satu yang paling mencolok terlihat di gapuranya.
Untuk menuju kawasan ini, ada baiknya menggunakan kendaraan pribadi, dan rombongan yang menggunakan bus ukuran besar hanya diperbolehkan sampai di muka gapura. Perjalanan berikutnya, mesti dilanjutkan lagi dengan berjalan kaki sejauh 500 meter.
Dengan berwisata ke tempat ini, Sobat Pariwisata tidak sekedar liburan semata, melainkan ikut membantu dalam melestarikan budaya.
Mari kita saling bergandengan tangan untuk memberikan support satu dengan lainnya, diharapkan berwisata ke tempat ini bisa meningkatkan status sosial dan ekonomi masyarakat setempat, mendorong terciptanya lapangan kerja, lebih jauh lagi memantik semangat pemulihan ekonomi nasional.
Puas mengunjungi Kampung Wisata Tenun Samarinda, jangan lupa untuk menyambangi Cagar Budaya Rumah Adat yaitu bangunan tua yang diklaim lebih tua dari Masjid Shiratal Mustaqiem yang dibangun pada 1881 silam.
Rumah tua lebih dari tiga abad ini lokasinya berada di Jalan Pangeran Bendahara, Samarinda Seberang. Sobat Pariwisata, Anda tertarik untuk melakukan tur ke Kampung Wisata Tenun Samarinda dan cagar budaya ini?





































Leave a Reply