PariwisataIndonesia.ID – Tarian adat yang berasal dari daerah Provinsi Sumatra Utara (Sumut), jumlahnya tak sedikit, dan beragamnya tarian ini bisa dibedakan dari jenis tarian, pakaian yang dikenakan, pola lantai yang dipilih hingga makna filosofis yang terkandung di dalamnya.
Termasuk, bila ditinjau dari aspek sejarah pada tarian adat khas Sumut, maka tak bisa pula dilepaskan dari golongan etnis yang mendiami wilayah ini, sudah tentu erat hubungannya dengan penduduknya yang terdiri dari penduduk asli, penduduk pendatang dan penduduk asing.
Untuk penduduk asli Sumut, terdiri suku-suku, seperti suku Melayu, Batak Karo, Simalungun, Pakpak/Dairi, Batak Toba, Mandailing, Pesisir dan Nias.
Penduduk pendatang Sumut terdiri dari golongan pribumi yang mendiami di bagian lain di wilayah Indonesia, mereka itu seperti suku Minangkabau, Palembang, Minahasa, Riau, Jawa, Ambon, dan seterusnya.
Begitu pula dengan penduduk asing Sumut yang tinggal di masa lampau, seperti orang-orang Arab, India, Cina dan bangsa-bangsa lain.
Dikutip dari situs resmi Pemerintah Provinsi Sumut, maka berdasarkan letak geografisnya, provinsi ini berada di bagian barat Indonesia yang berbatasan dengan wilayah lainnya, sebagai berikut; batas sebelah utara: Provinsi Aceh (NAD), batas sebelah timur: Selat Malaka, batas sebelah selatan: Provinsi Riau dan Provinsi Sumatera Barat, batas sebelah barat: Samudera Hindia, dan provinsi ini terletak antara 10 – 40 LU, 980 – 1000 B.T.
Sangat pantas menilik penjelasan di atas, bila provinsi ini disebut kaya akan budayanya, salah satunya seperti yang akan diulas oleh Penulis dengan merangkum jadi satu “3 Tari Adat Khas Sumut yang Mengagumkan” yang tidak kalah menariknya untuk diketahui.
Berikut rangkumannya.
1. Tari Piso Surit
Tari ini merupakan salah satu tarian khas suku Batak Karo di Sumut, yang menggambarkan seorang gadis yang tengah menantikan tambatan hatinya, walau sudah menunggu lama, dan tak mengerti di mana keberadaan sang kekasih, gadis ini tetap setia sepanjang waktu.
Hal tersebut, seringkali terasa berat untuk dijalani karena membuat hati terpaksa harus lebih bersabar. Lantaran tak kunjung tiba tentu menimbulkan rasa sedih berkepanjangan, dan mengulik nama tari ini, diambil dari kata “peso surit” yang dalam masyarakat Batak Karo artinya sejenis burung yang suka bernyanyi.
Bersambung ke halaman berikutnya
Terhadap kerinduan yang memuncak .. “





































Leave a Reply