Presiden Joko Widodo, Pariwisata Indonesia, Budaya Nusantara, Peresean sebagai Warisan Budaya Indonesia, Pariwisata Indonesia 2022, Pariwisata Indonesia, Culture Indonesia, Peresean Suku Sasak Nusa Tenggara Barat, Peresean adalah kesenian tradisional masyarakat Suku Sasak yang mempertarungkan dua laki-laki atau pepadu dengan menggunakan senjata dari tongkat rotan dan perisai, Tradisi masyarakat Lombok, Peresean ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda yang dimiliki bangsa Indonesia, Kapan peresean dipentaskan, peresean dipertunjukan dalam momen-momen tertentu seperti untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan Indonesia, Peresean ditampilkan saat Hari Jadi Kota atau Kabupaten Nusa Tenggara Barat, Peresean ditampilkan sebagai pertunjukan menjelang Bulan Ramadhan, Media Pariwisata Indonesia, Situs Online Pariwisata Indonesia, Media Online Pariwisata Indonesia, Trippers, PT Prima Visi Kreasindo, Tradisi Peresean adalah kesenian tradisional masyarakat Suku Sasak yang mempertarungkan dua laki-laki atau pepadu dengan memakai senjata dari tongkat rotan dan perisai. Kesenian ini merupakan tradisi lama Suku Sasak di Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat yang masih ada hingga sekarang, Nita Simamora
Tradisi Peresean adalah kesenian tradisional masyarakat Suku Sasak yang mempertarungkan dua laki-laki (pepadu) dengan memakai senjata dari tongkat rotan dan perisai. Kesenian ini merupakan tradisi lama Suku Sasak di Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang masih ada hingga sekarang. (Foto: Media PI/Dokumen Karya: RaiyaniM)

Peresean Suku Sasak, Nilai Kesatria dalam Adu Ketangkasan

Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Halo, Gaes! Masih dalam rangka memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, hari ini gue bakal ngajak lo terbang ke Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk melihat tradisi masyarakat Lombok saat 17-an.

Sat set sat set…! Seperti itulah, suara yang berasal dari senjata rotan ketika saling beradu di masyarakat Suku Sasak. Jika Jepang punya pertandingan kendo, Lombok juga punya adu ketangkasan yang bernama Peresean.

Hampir sama seperti kendo, pentas peresean juga menggunakan senjata berupa rotan berukuran sekitar satu meter yang disebut penjalin. Bedanya, dalam pertandingan peresean, petarung hanya dibekali perisai kayu yang dilapisi kulit sapi atau kerbau.

Perisai ini bertujuan untuk melindungi diri. Tidak seperti kendo, petarung dalam peresean sama sekali enggak menggunakan baju pelindung. Wow banget, bukan?

Kedua pepadu cuma memakai ikat kepala (saput) dan kain yang dililit di pinggang (bebadong).

Sat set sat set! Lo pun harus punya mental kuat buat nyaksiin peresean. Pasalnya nih, Gaes! Setiap gerakan menyerang atau bertahan dari pepadu, dijamin akan bikin jantung lo berasa mau copot.

Tapi, tenang aja. Dengan iringan suara gendang, suling, gong, dan rincik di peresean ini, juga bikin lu dan penonton lainnya, termasuk para pepadu untuk tetap semangat mengikuti jalannya pertandingan.

Sat set sat set! Pemenang peresean didapatkan, tatkala salah satu pepadu mengeluarkan darah atau jika pertarungan dihentikan oleh pekembar (wasit). Namun, apabila setelah 5 ronde belum juga didapatkan pemenangnya, maka sang juara ditentukan dari pepadu yang paling sedikit mendapat luka.

Setelah petarungan berakhir, kedua pepadu langsung saling berpelukan untuk meleburkan segala dendam yang mungkin singgah. Ini, nih, salah satu yang bikin peresean semakin keren. Karena, tidak sekedar adu ketangkasan, tapi juga mengandung nilai-nilai kesatria.

Menurut sejarahnya, peresean sudah ada sejak abad ke-13 dan masih dimainkan hingga sekarang. Awalnya, adu ketangkasan tersebut dilakukan sebagai ritual buat mendatangkan hujan saat kemarau panjang.

Kemudian di zaman kerajaan-kerajaan Lombok, pertandingan ini juga dijadikan sebagai ajang latihan para prajurit sebelum berangkat ke medan peperangan.

Nah, seiring perkembangan zaman. Persisnya, setelah Indonesia Merdeka dan kerajaan-kerajaan melebur di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia, peresean tidak lagi jadi ajang latihan perang. Tapi, tradisi ini tetap dilaksanakan turun temurun guna mempertahankan warisan budaya Suku Sasak Lombok, NTB.

Untuk mendukung warisan budaya bangsa ini tetap lestari dan tak punah, maka Pemerintah menetapkan permainan tradisional suku Sasak Lombok “Peresean” sebagai warisan budaya tak benda yang dimiliki bangsa Indonesia.

Tak cuma itu aja, bahkan peresean pun selalu dipentaskan dalam momen-momen tertentu seperti untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan Indonesia, Hari Jadi Kota atau Kabupaten, maupun ditampilkan sebagai pertunjukan menjelang Bulan Ramadhan.

So, kalo lo ke Lombok di waktu-waktu tersebut, jangan sampai lupa untuk menyaksikan olahraga tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Suku Sasak di Provinsi NTB ini, ya! (Anita)

Pewarta: Anita Basudewi Simamora
COPYRIGHT © PI 2022