Coffee on the Bus, Wisata Cara Baru dari Jawa Timur

Foto: suaramerdekakedu.id

Pandemi COVID-19 agaknya memang membuat kita menjadi sulit untuk melalukan perjalanan wisata.

Keterbatasan amenitas hingga sulitnya keuangan membuat liburan juga harus ditunda. Hal ini tentu saja memengaruhi sektor bisnis pariwisata khususnya jasa transportasi.

Penurunan jumpah penumpang dan sepinya orderan memang kini dikeluhkan oleh banyak sekali pelaku jasa transportasi.

Salah satunya Mandala Wisata Tour and Transport. Selama pandemi berlangsung Mandala Wisata memutar otak agar tetap bisa bertahan dan berjalan.

Akhirnya armada bus Mandala Wisata “disulap” menjadi tempat ngopi sambil wisata.

Foto: seputarwisata.com

Dilansir dari Antara, pada Rabu, (30/12/2020) Pemiliknya, Mukti Ali menyatakan jika hanya menunggu pesanan dari wisatawan, pihaknya akan sulit untuk bisa bertahan di tengah pandemi COVID-19, karena kini masyarakat sudah tidak banyak yang melakukan perjalanan, apalagi sejumlah objek wisata di Madura dan Jawa Timur pada umumnya dibatasi.

Maka, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengubah fungsi bus, dari sekadar sebagai kendaraan angkutan bagi wisatawan, menjadi tempat nongkrong dan minum kopi (ngopi) bagi warga Madura sambil melakukan perjalanan di sekitar Pulau Madura.

Melalui konsep itu, Mukti Ali berupaya memfasilitasi kebutuhan para penikmat kopi di Pamekasan dan Madura di dalam bus, sambil keliling kota.

Caranya, perusahaan ini bekerja sama dengan pemilik kafe, sehingga bisnis jasa transportasi yang dikelola oleh PT Mandala Wisata Rangga Jaya ini tetap bisa beroperasi dan pemilik kafe yang diajak bekerja sama juga diuntungkan dengan pola bisnis yang memadukan konsep perjalanan dengan kuliner itu.

Dalam satu bus, disediakan empat meja dan pengusaha ini melengkapi dengan sistem suara (sound system) dan karaoke, sehingga selain bisa menikmati kopi dan makanan ringan yang disediakan pemilik kafe, para penumpang bus ini juga bisa karaoke.

“Hasilnya lumayan dibanding hanya menunggu pesanan orang berwisata,” katanya.

Paling tidak, sambung dia, dengan cara seperti itu, akan sedikit menutupi gagalnya pesanan perjalanan wisata akibat pandemi COVID-19.

Sebab, selama pandemi COVID-19 berlangsung, terjadi penundaan sewa transportasi dan paket tur keluar Madura sebanyak 85 perjalanan dengan tujuan antara lain, Malang, Yogyakarta, Bali, Jakarta, Bandung dan ziarah Wali Songo.

Paket tur gagal, akibat larangan bepergian ke luar daerah senilai Rp100 juta dan sewa bus sekitar Rp200 juta.

“Jadi, nilai total omzet yang terpaksa digagalkan mencapai Rp300 juta,” kata Mukti yang juga pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Pamekasan ini.

Mukti menjelaskan, dampak kasus corona pada sektor jasa dan pariwisata ini tidak hanya dialami dirinya, akan tetapi oleh semua pengusaha perjalanan  dan paket wisata di Madura. Apalagi, saat pemerintah masih memberlakukan penutupan semua objek wisata.

“Maka agar usaha kami tetap bisa bertahan, kami mengubah strategi dan berkolaborasi dengan pengusaha kafe, dan alhamdulillah, kami masih bisa bertahan di tengah kondisi yang serta tidak pasti dan belum tahu kapan pandemi akan berakhir,” katanya.