Tari Toga

Tari Pengampunan dari Siguntur
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat Novrial Rajo Mangkuto, Novrial Sumatera Barat, Kadispar Sumatera Barat, Orang No Satu Membuat Pariwisata Sumatera Barat Besar, Berjasa Bikin Sumbar Mendunia, Novrial Rajo Mangkuto, Pariwisata Indonesia, Media PVK Grup, Pariwisata Sumatera Barat,Mentawai, Kota Padang, Presiden Jokowi, Berita Pariwisata, Media Pariwisata Indonesia, Situs Pariwisata Indonesia, Pariwisata, Website Pariwisata Indonesia, Indonesia Culture and Tourism, Halo Indonesia, Explore Indonesia, Indonesia Investment, Media Resmi Pariwisata Indonesia, Website Resmi Pariwisata Indonesia, Situs Resmi Pariwisata Indonesia, Indonesia Media Tourism, Umi Kalsum Founder PVK Grup, Pulau Siberut, Suku Siberut, Tari Toga
Fto: youtube,com

Sobat Pariwisata, pada masa lalu Nusantara terdiri dari banyak kerajaan, baik kerajaan kecil maupun kerajaan besar. Kerajaan-kerajaan ini meninggalkan banyak kesenian dan kebudayaan yang di antaranya masih diwariskan oleh keturunannya. Salah satunya adalah Tari Toga.

Tari Toga adalah tari yang berasal dari Nagari Siguntur, sebuah nagari yang terletak di Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.

Toga berasal dari Bahasa Siguntur yaitu kata togaan yang berarti larangan. Tari ini memiliki gerakan lemah lembut yang mirip dengan tari tradisional dari Minang dan Melayu.

Tari Toga diperkirakan telah ada pada awal abad ke-13 Masehi. Tari ini diyakini berasal dari satu kisah di Kerajaan Siguntur. Pada satu hari, keluarga Kerajaan Siguntur hendak melakukan perburuan babi. Sebelum pelaksanaannya, pihak istana memberi perintah pada seluruh rakyat untuk tidak membiarkan hewan ternak mereka berkeliaran di hari perburuan.

Baca juga :  Songket Pandai Sikek

Sayangnya pada hari perburuan, seorang rakyat lupa atas perintah tersebut. Singkat cerita, kerbau miliknya menanduk putra mahkota yang menyebabkannya meninggal. Hal tersebut membawa kemurkaan pada raja. Pemilik ternak tersebut dipanggil dan diadili selama berhari-hari dengan tuntutan hukum pancung seperti yang biasanya dilakukan.

Saat itu berbagai masukan telah diberikan pada raja, termasuk bahwa menghukum sang pemilik ternak atas kesalahan hewan ternaknya adalah hal yang berlebihan. Namun, raja tetap pada keputusannya. Hingga di satu hari, masyarakat membawakan sebuah tarian untuk menghibur hati raja.

Tarian yang akhirnya dikenal dengan Tari Toga itu mampu menyentuh hati sang raja sehingga mengurangi hukumannya. Pemilik ternak tersebut terbebas dari hukuman pancung dan harus mengabdi di istana seumur hidupnya.

Baca juga :  Rendang Khas Ranah Minang

Sejak saat itu, Tari Toga menjadi tarian resmi istana. Tari ini kerap dipentaskan saat batagak gala (penobatan raja), penobatan penghulu (pucuk adat), merancang galanggang (mencari jodoh), perkawinan anak raja, serta turun mandi cikal bakal raja (pengganti raja).

Ketika penjajah Belanda tiba di Siguntur tahun 1908, Tari Toga dilarang untuk dipentaskan. Lama-kelamaan tari ini mulai dilupakan oleh masyarakat Siguntur. Hanya beberapa gelintir orang yang kerap mendendangkan syairnya saat melakukan batoto (gotong royong dalam mengerjakan sawah atau ladang). Hal tersebut dilakukan sebagai hiburan dan mengisi waktu luang.

pariwisata indonesiaKepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat Novrial Rajo Mangkuto, Novrial Sumatera Barat, Kadispar Sumatera Barat, Orang No Satu Membuat Pariwisata Sumatera Barat Besar, Berjasa Bikin Sumbar Mendunia, Novrial Rajo Mangkuto, Pariwisata Indonesia, Media PVK Grup, Pariwisata Sumatera Barat,Mentawai, Kota Padang, Presiden Jokowi, Berita Pariwisata, Media Pariwisata Indonesia, Situs Pariwisata Indonesia, Pariwisata, Website Pariwisata Indonesia, Indonesia Culture and Tourism, Halo Indonesia, Explore Indonesia, Indonesia Investment, Media Resmi Pariwisata Indonesia, Website Resmi Pariwisata Indonesia, Situs Resmi Pariwisata Indonesia, Indonesia Media Tourism, Umi Kalsum Founder PVK Grup, Pulau Siberut, Suku Siberut, Tari Toga
Foto: sahdieng, blogspot,com

Pada tahun 1980, pewaris Kerajaan Siguntur, Putri Marhasnida menemukan seorang kakek yang mengaku masih hafal syair dalam Tari Toga. Dengan seluruh informasi yang didapatkan, pada tahun 1989 sang putri menghidupkan kembali Tari Toga yang pernah menghilang.

Tari Toga hasil modifikasi ini pun mulai dipentaskan di berbagai acara Kerajaan Siguntur termasuk di Radio Republik Indonesia (RRI) Padang pada tahun 1990.

Baca juga :  Ragam Kuliner dari Sumatera Barat

Dalam sebuah pertunjukan Tari Toga, diperlukan tiga unsur utama. Pertama, pendendang yang berjumlah 6 orang. Mereka adalah orang yang menyanyikan syair dalam Tari Toga. Kedua, pemusik yang berjumlah 6 orang. Para pemusik ini membawakan alat musik tradisional yang terdiri dari momongan, konang, gong, canang, dan gendang. Ketiga, penari yang juga jumlahnya berjumlah 6 orang.

Baca juga :   Novrial : Kami Anggap Pandemi ini Pit Stop

Selain ketiga unsur utama tadi, Tari Toga juga didukung oleh unsur pelengkap yaitu para pemain drama yang berperan sebagai raja, hulu balang, dayang-dayang, serta terdakwa. Masing-masing pemain drama ini berjumlah satu orang. Sehingga dalam sebuah pertunjukan Tari Toga diperlukan sekitar 22 orang.

Kostum yang digunakan dalam Tari Toga berbeda-beda sesuai dengan tugas yang dilakukan. Para penari menggunakan baju kurung yang dipadupadankan dengan songket, mahkota, dan selendang. Pemeran raja menggunakan pakaian raja Melayu yang dilengkapi dengan mahkota dan tongkat. Hulu balang menggunakan baju teluk belango yang dilengkapi dengan ikat kepala dan senjata. Sedangkan terdakwa menggunakan pakaian berwarna hitam.

Di masa sekarang, Tari Toga kerap dipertunjukan pada hari ulang tahun Kabupaten Dharmasraya, penobatan raja, pertemuan raja-raja se-Minang Kabau, dan peringatan hari-hari besar lainnya. Pada tahun 2014, Tari Toga ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Sumatera Barat. (Nita)