Rendang Khas Ranah Minang

Dari Minangkabau untuk Dunia
pariwisata indonesia, rendang, rendang padang, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat Novrial Rajo Mangkuto, Novrial Sumatera Barat, Kadispar Sumatera Barat, Orang No Satu Membuat Pariwisata Sumatera Barat Besar, Berjasa Bikin Sumbar Mendunia, Novrial Rajo Mangkuto, Pariwisata Indonesia, Media PVK Grup, Pariwisata Sumatera Barat,Mentawai, Kota Padang, Presiden Jokowi, Berita Pariwisata, Media Pariwisata Indonesia, Situs Pariwisata Indonesia, Pariwisata, Website Pariwisata Indonesia, Indonesia Culture and Tourism, Halo Indonesia, Explore Indonesia, Indonesia Investment, Media Resmi Pariwisata Indonesia, Website Resmi Pariwisata Indonesia, Situs Resmi Pariwisata Indonesia, Indonesia Media Tourism, Umi Kalsum Founder PVK Grup, Pulau Siberut, Suku Siberut, Tari Toga
Foto: mamikos, com

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, pasti sudah tidak asing lagi dengan nama rendang. Meskipun berasal dari Sumatra Barat, tapi kuliner ini telah memanjakan lidah-lidah masyarakat nusantara. Bersama nasi goreng, sate, soto, dan gado-gado, rendang ditetapkan sebagai kuliner nasional pada tahun 2018 oleh Kementerian Pariwisata RI. Nah, kali ini redaksi akan mengulas kuliner pedas gurih asal Ranah Minang ini.

pariwisata indonesia
Foto: medium,com

Nama rendang atau randang sebenarnya merujuk pada proses memasak kuliner ini. Marandang berarti memasak santan hingga kering secara perlahan. Tidak ada catatan pasti kapan kuliner ini pertama kali dibuat. Namun, rendang diyakini telah ada sejak masyarakat Minang membuat acara adat pertama. Nama rendang juga dapat ditemukan dalam kesusastraan Melayu Klasik seperti Hikayat Amir Hamzah. Hal tersebut membuktikan bahwa pada pertengahan abad ke-16, rendang telah dikenal oleh masyarakat.

Rendang diduga kuat mendapat pengaruh dari Gujarat karena kemiripannya dengan kari, baik dalam penggunaan rempah maupun penampilan. Berdasarkan sejarah, pada abad ke-2 Masehi, Tanah Minang memang menjadi salah satu tempat yang didatangi para pedagang dari India.

Pada awalnya, rendang hanya menggunakan daging kerbau (hewan penting dalam budaya Minang) dan disajikan pada acara-acara adat tertentu. Oleh karena itu, proses pemasakannya pun berlangsung lama (sekitar 3-7 jam) dengan menggunakan api kecil, untuk membuat daging kerbau empuk. Bagi masyarakat Minang, rendang memiliki kasta tertinggi dan sering disebut kepalo samba (induk makanan).

pariwisata indonesia
Foto: wikiwand,com

Bagi Suku Minang, rendang memiliki filosofi musyawarah dan mufakat yang berasal dari perpaduan empat unsur utama. Dagiang (daging) melambangkan niniak mamak (para pemimpin suku adat), karambia (kelapa) melambangkan cadiak pandai (kaum intelektual). Lado (cabai) melambangkan alim ulama yang tegas mengajarkan syariat agama. Serta rempah-rempah (serai, lengkuas, kunyit, jahe, bawang putih, bawang merah, dan lainnya) melambangkan keseluruhan masyarakat Minangkabau.

Bagi masyarakat Minang, proses memasak rendang juga mewakili tiga makna sikap, yaitu kesabaran, kebijaksanaan, dan ketekunan. Tiga hal ini akan menghasilkan rendang yang baik dan lezat.

pariwisata indonesia
Foto: harianaceh,co,id

Berdasarkan penyajiannya, terdapat dua jenis rendang. Pertama rendang yang berupa bongkahan 1 kilogram daging tanpa dipotong-potong. Rendang jenis ini biasanya disajikan dalam upacara adat. Sedangkan rendang kedua adalah rendang yang dipotong kecil-kecil yang disajikan dalam acara lain.

Salah satu hal unik dari kuliner ini adalah masa simpan yang cukup lama. Rendang yang dimasak dengan baik dan benar, bisa bertahan hingga tiga atau empat minggu dalam suhu ruangan. Hal ini membuat rendang menjadi salah satu bekal yang kerap dibawa oleh para perantau Minang dan akhirnya membuat kuliner ini terkenal di seluruh Nusantara bahkan hingga Semenanjung Melayu.

pariwisata indonesia
Foto: resepkoki,id

Berdasarkan kandungan airnya, terdapat dua jenis rendang, yaitu rendang basah dan rendang kering. Rendang kering adalah rendang yang dimasak hingga airnya benar-benar habis sehingga didapatkan penampilan yang kering dan warna mendekati hitam. Rendang inilah yang merupakan rendang khas Minang. Sementara rendang basah atau sering disebut kalio adalah rendang yang dimasak dalam waktu sebentar sehingga masih menyisakan kuah santan dan warnanya masih kecokelatan.

Dalam perkembangannya, rendang tidak hanya dibuat dari daging kerbau. Hari ini dapat kita temukan berbagai variasi rendang seperti rendang daging (kerbau, sapi, kambing, domba), rendang ayam, rendang bebek, rendang hati, rendang telur, rendang paru, rendang ikan tongkol, rendang suwir (daging sapi atau ayam yang disuwir) khas Payakumbuh, rendang kerang, rendang pensi (kerang air tawar), hingga rendang belut.

pariwisata indonesia
Foto: travistory,com

Kepopuleran rendang menjadikan kuliner ini kerap menjadi salah satu hidangan masyarakat Indonesia dalam berbagai acara, seperti pesta rakyat, jamuan makan, hingga hidangan saat hari raya. Rendang juga dengan mudah ditemukan di berbagai rumah makan Padang yang tersebar hampir di seluruh Indonesia.

Pada tahun 2013, rendang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Sumatera Barat. Kuliner ini juga dinobatkan oleh CNN internasional sebagai peringkat pertama dari daftar World’s 50 Most Delicious Foods (50 Hidangan Terlezat Dunia) tahun 2011. Sobat Pariwisata juga pasti menyukai hidangan lezat ini, kan?(Nita)