Rumah Bersama

Sasaddu, Rumah Adat Khas Halmahera Barat
Pariwisata Indonesia
Rumah Adat Sasadu foto: artisanalbistro.com

Beragam suku bangsa di Indonesia serta perbedaan sumber daya alam, menjadikan negeri ini kaya akan rumah adat. Rumah-rumah adat tersebut juga memiliki fungsi masing-masing. Ada yang berfungsi sebagai tempat tinggal, tempat ibadah, hingga tempat musyawarah. Salah satunya adalah Sasadu, rumah adat dari Halmahera Barat, Maluku Utara.

Pariwisata Indonesia

Rumah adat Sasadu berasal dari kata sasa yang artinya besar dan tatadus yang berarti berlindung. Berdasarkan Bahasa, rumah Sasadu dapat diartikan sebagai tempat berlindung yang besar atau luas. Hal tersebut sesuai dengan ukuran rumah tradisional yang merupakan karya asli Suku Sahu dari Halmahera Barat.

Fungsi utama rumah adat Sasadu adalah sebagai tempat perkumpulan, baik untuk melakukan musyawarah maupun perkumpulan tanpa tujuan khusus. Selain itu, rumah adat Sasadu juga digunakan untuk berbagai keperluan seperti pemilihan ketua adat, penyambutan tamu kehormatan, upacara pernikahan, hingga upacara kelahiran.

Pariwisata Indonesia

Salah satu ciri khas rumah adat Sasadu adalah jumlah tiang yang dimiliki. Namun, meskipun memiliki banyak tiang sebagai pondasi, tapi rumah adat Sasadu bukanlah rumah panggung. Tiang-tiang rumah Sasadu terdiri dari : ngasu o lamo (8 tiang induk), ngasu u dudu (12 tiang di sepanjang pinggiran luar) berfungsi untuk menopang kerangka atap yang miring, serta ngasu u taba (12 tiang di antara ngasu o lamo dan ngasu u dudu) yang berfungsi untuk menopang rangka atas.

Keunikan lain rumah adat Sasadu adalah tidak adanya dinding maupun penyekat. Hal ini memungkinkan sirkulasi udara yang baik saat melakukan musyawarah yang dihadiri oleh banyak warga. Meskipun tidak memiliki dinding, rumah adat ini memiliki rangka-rangka di seluruh sisi bangunan serta beberapa buah pintu di setiap pojok. Pintu yang berada di bagian tengah digunakan oleh para petinggi, sedangkan sisanya untuk masyarakat biasa.

Keunikan lain rumah adat Sasadu adalah atap bagian depan yang lebih rendah dibandingkan langit-langit rumah, sehingga tamu yang akan datang harus menunduk untuk dapat masuk. Atap ini mengandung filosofi bahwa siapapun wajib menghormati aturan atau adat istiadat setempat.

Di bagian ujung atap rumah Sasadu tergantung bola-bola yang bermakna bahwa manusia yang berada di puncak harus bersikap rendah hati. selain itu, di bagian sambungan rangka juga terdapat kain merah dan putih yang menjadi simbol kerukunan warga meskipun memiliki agama yang berbeda.

Material utama yang digunakan untuk membuat rumah adat Sasadu diambil dari hasil alam yang banyak terdapat di wilayah Halmahera. Bagian tiang dan kerangka rumah ini menggunakan batang kayu sagu, batang pohon kelapa, dan bambu. Sedangkan untuk bagian atap menggunakan ijuk, daun sagu, dan daun kelapa.

Pada rumah Sasadu modern, bagian lantai menggunakan material semen agar lebih memudahkan proses pembersihan dan perawatan serta terkadang menggunakan seng pada bagian atap.

Rumah adat sasadu biasanya dihias dengan berbagai ukiran. Beberapa orang meyakini bahwa ukiran tersebut memiliki makna tersendiri, sementara yang lain meyakini ukiran tersebut hanya berfungsi untuk memperindah rumah, tanpa maksud apapun.

Beberapa ukiran yang biasanya terdapat di rumah adat Sasadu antara lain,

  1. Motif flora, seperti daun gadihu, yaitu daun yang digunakan untuk acara pernikahan.
  2. Motif fauna, seperti ular yang merupakan binatang yang cerdik dalam menghadapi bahaya atau kura-kura yang merupakan hewan yang diam tetapi aktif saat menghadapi bahaya.
  3. Motif yang berkaitan dengan agama dan kepercayaan, seperti perahu di bagian atap yang menjadi kebanggaan dan simbol masyarakat Maluku Utara sebagai masyarakat yang gemar melaut serta dipercaya sebagai kendaraan para roh.

Sobat Pariwisata! Rumah adat Sasadu bisa ditemukan di beberapa desa di Halmahera Barat. Biasanya rumah ini terletak di tengah perkampungan dan tidak jauh dari jalan. Selain agar mudah dijangkau siapapun, hal tersebut sesuai dengan fungsi utama rumah adat ini yaitu sebagai ‘rumah bersama’.(Nita)