Mau Nari? Kerasukan Dulu!

sang penari tersebut harus dalam keadaan suci dan bersih, sebelum melakukan pementasan
Foto: YouTube Sintren Cirebon

Kota yang terletak di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah ini merupakan kota yang sangat unik. Bukan hanya dari segi objek wisatanya saja, nilai-nilai budaya di Cirebon juga sangat unik dan menarik.

Perpaduan antara budaya Jawa dan Sunda sekaligus membuat nilai-nilai budaya pada masyarakat Cirebon menjadi sangat khas. Bahasa Cirebon yang dikenal mirip bahasa Sunda namun diberi langgam Jawa dan beberapa bahasa juga menggunakan kosakata bahasa Jawa.

Keunikan ini salah satunya terdapat pada kesenian tarinya yang “nyentrik”. Penari yang melenggang atraktif di bawah alunan musik sambil memakai kacamata hitam, apa lagi kalau bukan Sintren. Melansir dari situs resmi pemerintah kota Cirebon, Asal mula nama sintren salah satunya berasal dari kata sindir (bahasa Indonesia : sindir) dan tetaren (bahasa Indonesia : pertanyaan melalui syair-syair yang perlu dipikirkan jawabannya) maksudnya adalah menyindir dengan menggunakan sajak-sajak atau syair-syair.

Pada awalnya sebelum terbentuk struktur sintren yang ada seperti sekarang ini yang berupa tarian dengan wanita ditengahnya, dahulu awal kesenian ini dipercaya dimulai dengan aktifitas berkumpulnya para pemuda yang saling bercerita dan memberikan semangat satu sama lain terutama setelah kekalahan besar pada perang Besar Cirebon yang berakhir sekitar tahun 1818.

Dalam cerita lisan masyarakat Indramayu dikenal nama Seca Branti yang dipercaya sebagai abdi pangeran Diponegoro yang berhasil lolos dari Belanda setelah kekalahan perang Diponegoro yang berakhir pada tahun 1830, dikatakan bahwa Seca Branti melarikan diri ke wilayah Indramayu disana dia bergaul dengan para pemuda dan suka membacakan sajak-sajak perjuangan, pada musim panen tiba disaat para pemuda sedang banyak berkumpul, Seca Branti kemudian ikut bergabung dan menyanyikan sajak-sajak perjuangannya.

Foto: goodnewsfromindonesia.com

Untuk menjadi seorang penari sintren maka sang penari tersebut harus dalam keadaan suci dan bersih, sebelum melakukan pementasan maka sang penari harus melakukan puasa terlebih dahulu dan menjaga agar tidak berbuat dosa, hal ini ditujukan agar roh tidak akan mengalami kesulitan untuk masuk dalam tubuh penari.

Kesenian tari sintren merupakan kesenian tradisional yang harus terus dijaga dan dilestarikan agar tidak menghilang apalagi di tengah arus globalisasi yang mana saat ini telah banyak hiburan canggih yang berasal dari luar negeri dan sedikit demi sedikit akan semakin menggusur kesenian tradisional, untuk itu pemerintah dan masyarakat perlu memperhatikan kelangsungan dari tari sintren ini.