Tari Tide-tide

Tari Pergaulan dari Halmahera Utara
foto: arsip,simpulrakyat,co,id

Provinsi Maluku Utara merupakan salah satu provinsi kepualauan yang ada di Indonesia. Dari 1.474 pulau yang ada, 89 di antaranya dihuni. Pulau-pulau ini dihuni oleh berbagai suku yang memiliki kesenian dan kebudayaan masing-masing, sehingga membentuk identitas masyarakat Maluku Utara. Salah satu kesenian yang terkenal dari provinsi yang beribukota di Sofifi ini adalah Tari Tide-tide.

Pariwisata Indonesia

Tari Tide-tide adalah tari tradisional yang berasal dari Suku Togela (Tobelo dan Galela), Halmahera Utara, Maluku Utara. Tidak ada catatan pasti kapan tari ini pertama kali diciptakan. Namun, konon tari ini berasal dari sebuah nyanyian atau lantunan.

Tarian ini  termasuk ke dalam tari pergaulan yang dibawakan oleh pemuda dan pemudi secara berpasang-pasangan. Biasanya, jumlah penari mulai dari dua hingga enam pasang. Setiap gerakan dalam tari ini memiliki makna masing-masing.

Penari perempuan yang belum menikah melakukan gerakan tangan memutar ke dalam yang berarti menerima persahabatan dari siapa saja. Sedangkan penari perempuan yang telah menikah melakukan gerakan tangan keluar yang berarti penolakan.

Selain gerakan mengangkat tangan, ada juga gerakan mengayunkan langkah baik maju, mudur, maupun ke samping. Gerakan kaki penari laki-laki yaitu menyamping sambil terus melangkah maju, menggambarkan kehidupan seorang laki-laki yang harus terus ia lewati. Sementara gerakan mengayunkan kaki pada penari perempuan menggambarkan bahwa dalam kehidupan, perempuan harus banyak berpikir sebelum melangkah dan mengambil keputusan.

Gerakan lain yang ada dalam tari ini adalah gerakan menari sambil jongkok, juga gerakan berpegangan tangan seperti dansa. Gerakan dalam Tari Tide-tide menggambarkan keharmonisan, kebersamaan, kekompakkan, dan pergaulan yang akrab antara pemuda pemudi di Halmahera Utara.

Tari tradisional ini diiringi dengan melodi yang berasal dari berbagai alat musik, seperti biola yang berfungsi sebagai komando gerak, serta tifa (4 hingga 10 buah) dan gong yang berfungsi sebagai pengiring tarian.

Pariwisata Indonesia

Penari Tide-tide menggunakan kostum daerah. Penari laki-laki memakai kemeja putih yang menandakan kesucian dipadukan dengan celana panjang hitam. Sementara bagian kepala menggunakan tuwala (ikat kepala) dan bagian pinggang diikat dengan selendang. Umumnya kain dan selendang ini berwarna merah sebagai simbol kegagahan dan kejantanan.

Penari perempuan mengenakan kebaya putih lengan panjang dengan tujuh buah kancing warna emas di bagian depan. Di bagian pundak dilingkarkan selendang kotak persegi. Kebaya putih ini dipadupadankan dengan sarung khas Maluku. Rambut para penari perempuan dibentuk model sanggul dan diberi hiasan berupa bulu cendrawasih dan tujuh buah kembang goyang yang menandakan tujuh tahapan yang dilalui seorang perempuan sejak lahir hingga dewasa.

Pariwisata Indonesia

Tari Tide-tide biasanya dibawakan saat upacara adat, seperti pernikahan. Pada pesta pernikahan, tari ini dibawakan oleh keluarga mempelai perempuan dan keluarga mempelai laki-laki sebagai simbol bersatunya dua keluarga. Selain itu, tari ini juga kerap dipertunjukan dalam berbagai pesta rakyat, penyambutan tamu kehormatan, festival budaya, hingga promosi pariwisata.

Dalam perkembangannya, tari ini mendapatkan berbagai modifikasi baik dari segi busana hingga gerakan. Namun, tetap tidak menghilangkan keasliannya. Meskipun termasuk tarian kuno, Tari Tide-tide tetap digemari dan dibawakan oleh masyarakat lokal, serta menjadi identitas budaya setempat.

Pada tahun 2016, Tari Tide-tide ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Maluku Utara.(Nita)