Mengenal Provinsi Sulawesi Tenggara yang 27 April Nanti, Usianya 58 Tahun (Seri-2)

Umi Kalsum Founder PVK Gruo dan Media PVK Grup,Presiden Jokowi,Berita Jokowi,GUBERNUR ALI MAZI,MEDIA ONLINE PARIWISATA INDONESIA TERFAVORIT 2020,MEDIA PARIWISATA INDONESIA,MEDIA PVK GRUP,MEDIA RESMI PARIWISATA INDONESIA,MENGENAL PROVINSI SULAWESI TENGGARA,PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA SULAWESI TENGGARA,SITUS ONLINE PARIWISATA INDONESIA TERFAVORIT 2020,SITUS PARIWISATA INDONESIA,SITUS RESMI PARIWISATA INDONESIA,WEBSITE PARIWISATA INDONESIA,WEBSITE PARIWISATA INDONESIA TERFAVORIT 2020,WEBSITE RESMI PARIWISATA INDONESIA

PariwisataIndonesia.id – Ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) adalah Kota Kendari, merupakan sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian tenggara pulau Sulawesi. Provinsi ini, ditetapkan sebagai Daerah Otonom Tingkat I berdasarkan Perpu No. 2 Tahun 1964 Juncto UU No.13 Tahun 1964.

Baca juga :  10 Destinasi Wisata Bikin Speechless tapi Bukan Bali (Seri-1)

Sekelumit sejarah Sulawesi Tenggara

Sejarah Sulawesi Tenggara mulai ada pada tahun 1952, melalui Peraturan Pemerintah Tahun 1952. Sebelumnya, wilayah ini dikenal sebagai Onderafdeling Boeton Laiwoi dengan pusat pemerintahan di Bau Bau yang dianugerahi oleh pemerintah Belanda.

Sekalipun Hindia Belanda kala itu menjajah Indonesia, ternyata ada sebuah pulau di Indonesia yang tidak bisa ditundukkan oleh Belanda. Nama tempatnya, Pulau Buton!

Dalam sejarahnya, Belanda tidak berhasil menjajah Pulau Buton, Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara merupakan bekas ibu kota Kesultanan Buton. Pulau yang ada di Indonesia ini, terkenal dengan “Negeri Seribu Benteng”.

Benteng Kesultanan Buton disebut-sebut tameng terkokoh dan ampuh, sanggup mematahkan serangan Belanda. Berkat julukan tersebut, terpaksa Belanda mengakui kemasyhuran kerajaan ini.

Baca juga :  Tarian Adat khas Sulawesi Tenggara

Sebab kekuatan pertahanan itu, Belanda menghormati dan menisbatkan Kesultanan dan Kerajaan di Sulawesi Tenggara khususnya Kesultanan Buton dengan status kewilayahan Buton, yakni Onderafdeling Boeton Laiwoi.

Status Onderafdeling diberikan oleh pemerintahan Hindia Belanda kepada daerah-daerah yang memiliki kekuasaan. Penisbatan tersebut, menurut Belanda, karena dianggapnya bukan daerah jajahan Belanda namun sebagai daerah yang memiliki jalinan hubungan dengan Belanda.

Pada masa kolonial Belanda, Sulawesi Tenggara merupakan wilayah administratif setingkat kawedanan dan diperintah oleh seorang wedana.

Kemudian lewat Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 1952 Sulawesi Tenggara ditetapkan menjadi satu Kabupaten, yaitu Kabupaten Sulawesi Tenggara.

Penyatuan Sulawesi Tenggara tersebut meliputi wilayah-wilayah bekas Onderafdeling Boeton Laiwui serta bekas Onderafdeling Kolaka.

Semua itu, menjadi satu bagian utuh dari Provinsi Sulawesi Tenggara. Lalu, pusat pemerintahan Sulawesi Tenggara terletak di Makassar (Ujung Pandang).

Peraturan Pemerintah terus disempurnakan, terbit lagi Undang-Undang No. 29 Tahun 1959. Peraturan ini, mengatur pemekaran Kabupaten Sulawesi Tenggara dibagi menjadi empat kabupaten, yaitu: Kabupaten Buton; Kabupaten Kendari, Kabupaten Kolaka; dan Kabupaten Muna.

Pemekaran tersebut, masih menemukan banyak hambatan. Terutama, ketimpangan dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan maupun pelaksanaan tugas pembangunan.

Selain itu, masih terjadi pemberontakan DI/TII. Gerakan DI/TII Kahar Muzakkar juga merangsak ke Sulawesi Tenggara. Pemberontakan ini membawa dampak buruk terhadap ketahanan nasional yang berdimensi politik, ekonomi, sosial budaya hingga menimbulkan kegoncangan stabilitas di daerah Sulawesi Tenggara, stabilitas nasional atau disintegrasi bangsa.

Gangguan keamanan tersebut, sudah pasti, mempersulit pelaksanaan tugas-tugas pembangunan di pedesaan. Atas pertimbangan itu, tokoh-tokoh masyarakat Sulawesi Tenggara, kembali membentuk Panitia Penuntut Daerah Otonom Tingkat I Sulawesi Tenggara.

Dasar perembukan, mengingat potensi daerah Sulawesi Tenggara terdiri dari wilayah daratan dan kepulauan yang cukup luas, mengandung berbagai hasil tambang yaitu aspal dan nikel, maupun sejumlah bahan galian lainya.

Alasan lainnya, potensi lahan pertanian cukup menarik untuk dikembangkan. Lalu, ada pula berbagai hasil hutan berupa rotan, damar serta berbagai hasil hutan lainya. Termasuk pesona alam Sulawesi Tenggara yang indah nan cantik.

Alhasil, realisasi pembentukan Provinsi Sulawesi Tenggara terjadi lagi pada tanggal 27 April 1964. Ditandai dengan serah terima kekuasaan dari Gubernur Sulawesi Selatan Tenggara (Sulselra) Kol. Inf. A.A. Rifai kepada Gubernur Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, J. Wajong. Sejak saat itu, setiap tanggal 27 April, diperingati sebagai hari lahir Provinsi Sulawesi Tenggara. 

Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), Tahun 2017 Provinsi Sultra terus berkembang menjadi 15 kabupaten, 2 kota, 222 kecamatan dan 2.290 desa/kelurahan.

Tiga kabupaten termuda adalah Kabupaten Buton Tengah, Buton Selatan, dan Muna Barat. Kabupaten dengan kecamatan terbanyak, yaitu 29 kecamatan, adalah Kabupaten Konawe.

Tinjauan geografis, provinsi Sultra letaknya di semenanjung bagian tenggara Pulau Sulawesi. Berada di bagian selatan Garis Khatulistiwa, memanjang dari Utara ke Selatan di antara 02°45′- 06°15′ Lintang Selatan dan 120°45′ – 124°30′ Bujur Timur.

Untuk sebelah utara, berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tengah. Sementara, sisi di bagian selatan, berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur di Laut Flores.

Lalu, sebelah timurnya ada Provinsi Maluku yang langsung terhubung dengan Laut Banda. Kemudian sisi sebelah barat, beririsan Provinsi Sulawesi Selatan khususnya Teluk Bone.

Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 56 Tahun 2015 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan, menyebutkan, provinsi Sultra ditetapkan sebagai daerah otonom sejak tahun 1964, dengan mempunyai wilayah daratan seluas 38.140 km² (3.814.000 ha); perairan (laut) seluas 110.000 km² (11.000.000 ha). Luas daratan tersebut, terdiri dari dua kota dan 15 kabupaten (2017).

Halaman selanjutnya >>> Ayo Berlibur ke Sulawesi Tenggara Saja, Let’s Go!

Halaman
1    2