Tari Tor Tor, Sakral Tarian Tradisional Batak Toba [Seri-1]

Yuk, melawan lupa. Ada peristiwa sejarah bikin terenyuh. Negri Jiran, negara tetangga, Malaysia menyatakan tarian tor-tor jadi hak cipta Negeri Serumpun Bambu. Tari Tor-tor Tarian Tradisional dari Sumatera Utara. Untuk itulah, memupuk multikulturisme kebangsaan dalam nilai nilai kearifan lokal, kearifan sosial dan kearifan budaya dapat dijadikan sebagai rajutan tali kebhinnekaan. Dasar multikulturisme mengakui dan menghargai keberagaman kelompok masyarakat. Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia, haruslah selalu dijaga bersama. Tari Tor-tor telah membuktikan itu. Jangan lupa peristiwa ini. 'Horas!'
Bhinneka Tunggal Ika,Budaya Batak,Puan Maharani dsambut Tari Tor Tor di Tapanuli Utara,Media PVK,Pariwisata Indonesia,Semangat Kebangsaan Lewat Tarian Tradisional,Tarian Tradisional Nusantara,Tari Tor Tor,Tari Tor Tor dari Batak Toba,Tari Tor Tor sering dapat MURI,Tari Tor Tor Tarian Tradisional dan Sakral,Tari Tor Tor Tarian Tradisional Provinsi Sumatera,Pariwisata Pemprov Sumatera Utara,umikalsum
Mba Puan saat kampanye di Tapanuli Utara disambut tarian tor-tor, Foto: Merdeka.com

Provinsi Sumatera Utara tidak cuma kaya akan peninggalan budaya. Provinsi ini pun kaya akan kesenian seperti tari-tarian, lagu, dan alat musik tradisional. Sobat Pariwisata Indonesia, redaksi mengulas salah satu tarian yang terkenal dari Batak Toba, Tari Tor-tor namanya dikenal dan mendunia.

Sebelum masuk pada tarian tradisional dari Sumatera Utara, yuk melawan lupa. Ada peristiwa sejarah bikin anak bangsa terkaget-kaget, bikin terenyuh. Negri Jiran, negara tetangga, Malaysia menyatakan tarian tor-tor jadi hak cipta Negeri Serumpun Bambu. Jangan lupa peristiwa ini!

Bermula dari usai meresmikan Perhimpunan Anak-anak Mandailin di Malaysia dan Menteri Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia, Datuk Seri Dr Rais Yatim mengatakan:

“Tarian ini akan diresmikan sebagai salah satu cabang warisan negara,” sebut Menteri Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia, Datuk Seri Dr Rais Yatim dikutip dari situs www.bernama.com, Kamis(14/6/2012).

“Tarian tersebut harus dipertunjukkan dengan gendang dan dimainkan di depan publik sendiri,” sebut Menteri Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia, Datuk Seri Dr Rais Yatim dikutip dari situs www.bernama.com, Sabtu(16/6/2012).

Media bernama ‘Bernama’ atau Bernama(Pertubuhan Berita Nasional Malaysia) merupakan Kantor Berita resmi milik pemerintah Malaysia. Saat itu, Negri Jiran bersiap untuk Tari Tor-tor dan Gordang Sembilan (Gondang Sembilan) dari Mandailing, didaftarkan dalam Seksyen 67 sebagai Akta Warisan Kebangsaan 2005.

Dalam keterangannya disebutkan, Rais tetap mendaftarkan tarian dan alat musik tersebut sebagai warisan kebudayaan Malaysia. Alasannya, menurut Konvensi Jenewa, tarian dan alat musik itu tidak dimiliki siapapun.

Rasa nasionalisme bergerak merajut kebangsaan menguatkan multikultural dan kebhinnekaan. Merembet pada pewarisan tradisi, kultur dan varian budaya Merah-Putih, Indonesia.

Semua bergerak, isu pun bergulir cepat. Dan mengarah pada kontelasi bilateral. Potensi hubungan bilateral yang dinamis Indonesia-Malaysia terganggu. Lupa? Jangan, ya!

Tapi pesan dan hikmah yang dipetik dalam peristiwanya terkandung banyak mutiara. Indonesia dijajah bisa 350 tahun karena mudah dipecah belah. Jangan bangsa ini terpecah belah dan luka dulu simpan duka. Pelajaran panjang Tanah Air, mau kita dijajah kembali?

Jika Sobat Pariwisata sibuk waktu itu, dan tak sempat baca berita. Santai dan tenang saja, redaksi PariwisataIndonesia.id suguhkan kembali rangkuman berita, inilah dia:

Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada Rabu, 20 Juni 2012 panggil utusan resmi pemerintah. Sebelum versi pemerintah, simak ucapan Punguan Simbolon Dobot Boruna Se Indonesia, Effendi Simbolon.

Anggota DPR RI Effendi Simbolon yang juga Raja (Ketua) Bolon seluruh Indonesia (Punguan Simbolon Dohot Boruna Se-Indonesia/PSBI) mengatakan, pemerintah Indonesia tidak perlu marah terhadap klaim Malaysia.

“Cukup dengan mengajukan nota diplomatik, maka Pemerintah Indonesia akan mendapatkan jawaban jelas atas isu kontroverisal tersebut. Sejujurnya kita harus berterima kasih pada Malaysia, karena kalau gak ada ramai-ramai seperti ini mana ada kepeduliannya,’’ tegas politisi PDIP ini di Kantor Pusat PBSI, Pejompongan, Jakarta Pusat, kemarin, (18/06).

Kutipan Simbolon diambil dari situs negarahukum.com, pada 19 Juni 2012 dengan judul “Tari Tor-Tor Diklaim Malaysia”

Selanjutnya laman tempo.co, pada Rabu, 20 Juni 2012 dengan judul “Lima Tanggapan Pemerintah Soal Klaim Tari Tor-Tor”, dan masih tak sempat baca beritanya? Jika Sobat Pariwisata tak sempat membaca perkembangan berita lalu. PariwisataIndonesia.id merangkum 5 tanggapan Pemerintah Indonesia ihwal klaim Malaysia terhadap Tari Tor-tor dan alat musik Gordang Sambilan yang perlu Sobat ketahui. Berikut rangkuman 5 tanggapan versi pemerintah. 

Lima tanggapan Pemerintah Indonesia ihwal klaim Malaysia terhadap Tari Tor-tor dan alat musik Gordang Sambilan:

1. Budaya bersifat dinamis karena mobilitas pendukungnya, tetapi budaya adalah prinsip dan harga diri jika menyangkut identitas. Wajar dan sah-sah saja jika kemudian Malaysia mengembangkan dan menawarkan potensi budaya Mandailing atau budaya Indonesia yang lainnya yang ada di Malaysia.

2. Tidak dapat dipungkiri bahwa ada etnis Mandailing yang tinggal, bermukim dan memiliki kewarganegaraan Malaysia (versi Perhimpunan Anak-anak Mandailing di Kuala Lumpur mencatat kehadiran etnis Mandailing di wilayah Malaysia sejak tahun 1800 M).

3. Malaysia wajib menyatakan bahwa tari Tor-tor yang akan didaftarkan itu berasal dari Mandailing, Sumatera Utara. Hal tersebut ditekankan karena sejatinya tari Tor-tor adalah milik semua warga Batak di Indonesia.

4. Pemerintah Malaysia (melalui etnis Mandailing yang berkewarganegaraan Malaysia) berhak mengembangkan budaya Mandailing, tetapi tidak bisa menganggap budaya Mandailing sebagai hak milik Malaysia. Karena asal muasal dan sejarahnya merupakan milik masyarakat Sumatera Utara, Indonesia.

5. Sebagai tindak lanjut dari rapat dengan Kementerian Luar Negeri, disampaikan bahwa sudah ada pernyataan lisan dari pihak Pemerintah Malaysia dalam hal ini Kementerian Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan yang akan mengirimkan Nota Penjelasan kepada Pemerintah RI melalui Kemlu paling lambat hari Rabu, 20 Juni 2012.

Demikian pernyataan resmi versi pemerintah, mengeluarkan tanggapan atas klaim Malaysia terhadap tari Tor-tor dan alat musik Gordang Sambilan asal Mandailing, Sumatera Utara. Tanggapan itu disampaikan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Wiendu Nuryanti, dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI di gedung MPR DPR, Senayan, Jakarta, Rabu, 20 Juni 2012.

Terpisah dari rapat Pemerintah versus Wakil Rakyat tadi. Sebelum Malaysia berencana mencatatkan tari tor-tor sebagai khazanah kebudayaan nasionalnya, ternyata pemerintah Indonesia telah lebih dulu mencatat kebudayaan asal Sumatera Utara tersebut ke dalam warisan budaya nasional (warbudnas). Tari tor-tor telah dicatatkan oleh pemerintah ke dalam warbudnas sejak tahun 2010.

“(Tari) Tortor itu masuk nomor 652 dan tercatat pada tahun 2010,” ujar Wamendikbud Wiendu Nuryanti disampaikan kepada wartawan Detik.com di Jakarta, pada Rabu (20/6/2012).

Menurut Wiendu sedikitnya ada 2.107 kebudayaan Indonesia dicatatkan ke dalam warbudnas, dan tari tortor terkonfirmasi pada nomor 652. Ia menjelaskan, inventarisasi kebudayaan nasional oleh pemerintah ke warbudnas adalah benteng kokoh jika kebudayaan-kebudayaan Indonesia di klaim negara lain dan bukan warisan kebudayaan Indonesia.

Apa kata netizen, bacalah:

phee (Malang) 20,06,2012 23:39
Sebelum bangsa lain mengklaim budaya ataupun kekayaan bangsa kita yang lainnya, sebaiknya pemerintah khususnya pihak terkait segera mungkin mendata, menyeleksi dan mendaftarkan kekayaan bangsa kita.Jangan sampai kejadian ini terulang lagi untuk kesekian kali. Pemeritah ataupun warga baru kebakaran jenggot ketika muncul wacana tersebut. Yang perlu dijadikan wacana juga bahwasannya warga Indonesia tidak hanya berdomisili di Indonesia, banyak diantaranya menetap dan menjadi WNA sehingga budaya ataupun kesenian dari indonesia juga diterapkan di luar negeri, sehingga jangan hanya memandang satu pihak yag bersalah sehingga menimbulkan ketegangan antar negara.

wildan (Malang) 24,06,2012 pukul: 12:22
Mending semua kebudayaan indonesia di daftarin ke UNESCO biar ga di akui negara lain

hatman (INdonesia) 25,06,2012 pukul: 14:25
Sungguh mengherankan, kenapa saat ada klaim baru protes. Coba pemerintah klasifikasi semua budaya di Indonesia setelah itu langsung daftarkan semuanya ke UNESCO. Pemerintah hanya duduk santai menunggu klaim, baru bertindak saat ada klaim.

Komentar muncul di laman voaindonesia.com, dan telah tayang berjudul “Indonesia akan Daftarkan Tari Tor Tor ke UNESCO’ pada 20/06/2012. Silakan klik beritanya:  www.voaindonesia.com/Indonesia-akan-daftarkan-tari-tor-tor-ke-unesco/1215882.html

Untuk itulah, memupuk multikulturisme kebangsaan dalam nilai nilai kearifan lokal, kearifan sosial dan kearifan budaya dapat dijadikan sebagai rajutan tali kebhinnekaan. Dasar multikulturisme mengakui dan menghargai keberagaman kelompok masyarakat. Etnis, ras, budaya, gender, strata sosial, agama, perbedaan kepentingan, keinginan, visi sesama anak bangsa berbeda, tradisi dan keyakinan harus sejalan dan kondusif dengan perubahan perilaku masyarakat Indonesia.

Tidak bisa juga dibantahkan, perbedaan adalah kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, tetapi perbedaan itu untuk dipersatukan dalam bingkai multikulturisme kebangsaan. Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia, haruslah selalu dijaga bersama. Tari Tor-tor telah membuktikan itu. ‘Horas!’