Arak-arakan perahu (pompong) merupakan cara Suku Duano dalam mengenang leluhur serta merayakan identitasnya sebagai nelayan pesisir Jambi
Suku Duano adalah sekumpulan masyarakat yang berada di tepi perairan Kampung Laut, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi yang erat kaitannya dengan laut. Mereka kerap dikenal dengan sebutan ‘Orang laut’, yang tinggal di pesisir timur Jambi dan menggantungkan sumber kehidupan mereka pada keberadaan laut.
Tinggal di rumah panggung dengan bertiang nibung di tepi laut, Suku Duano menggantungkan kehidupan mereka pada laut, dengan mencari ikan, udang, kerang, hingga sumbun, se-jenis kerang yang biasa ditemukan di beting. Dengan menggunakan pompong sebagai kendaraan mereka dalam menjemput rezeki di laut, pompong telah menjadi rumah kedua bagi para nelayan Suku Duano.

Tak heran, pompong juga menjadi bagian tradisi yang terus dijalankan dalam mewarnai kehidupan masyarakat Suku Duano, yaitu tradisi arakan pompong.
Arakan Pompong dilaksanakan di pesisir timur Jambi, tepatnya di perairan dekat pemukiman Suku Duano di Kampung Laut, Lorong Trio Perkasa, Kelurahan Tanjung Solok, Kecamatan Kuala Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Kegiatan yang menjadi symbol identitas Suku Duano ini, selalu melibatkan seluruh masyarakat suku Duano, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Acara ini sekaligus menjadi pengingat mereka akan perjuangan para leluhur yang bermigrasi, menempuh rute perjalanan cukup jauh, dari pesisir Riau menuju Tanjung Jabung Timur dengan menggunakan pompong (perahu) sebagai alat transportasi utama.

Tradisi lainnya yang masih dijaga dan dijalankan oleh Suku Duano yaitu penggunaan bedak sejuk dan tenggolok. Ini menjadi ciri khas mereka, terutama saat hendak melaut atau ke beting, sekumpulan pasir atau endapan lumpur yang menggarisi tepi laut.
Bedak sejuk terbuat dari tepung beras, air mawar, dan rempah-rempah khas. Bedak sejuk sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika hendak turun ke laut dan ke beting. Hal ini berfungsi untuk menjaga kulit agar tidak terbakar kala terpapar sinar matahari. Bedak ini tidak hanya mencerminkan kearifan lokal, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya suku pesisir ini.
Sedangkan tenggolok adalah penutup kepala yang terbuat dari kain yang dilipat dan dibentuk secara khusus, yang mencerminkan identitas budaya pemakainya. Biasanya, tenggolok dikenakan saat melaut atau dalam upacara adat sebagai simbol penghormatan terhadap tradisi dan leluhur.

Kegiatan Arakan Pompong hadir sebagai bentuk penghormatan, pengingat akan perjuangan nenek moyang, sekaligus melambangkan kebersamaan masyarakat pesisir. Dengan diramaikan oleh pompong yang dihias sangat meriah, pompong kemudian diarak menyusuri perairan dan diiringi sorak-sorai masyarakat.
Tradisi Arakan Pompong melambangkan wujud kebersamaan, menjaga sejarah sekaligus identitas Suku Duano, meskipun tantangan modernisasi dan perubahan ekosistem laut ada di depan mata. Kegiatan ini berpotensi untuk menjaga kekayaan budaya nusantara, daya tarik wisata budaya yang berkelanjutan terutama memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir.(*)




































