Jam Gadang, Sejarah & Landmark Bukittinggi

Jam Gadang, Sejarah & Landmark Bukittinggi

Jam Gadang, sebuah menara jam yang sangat megah berdiri tegak di pusat Kota Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar).  Objek wisata ikonik Sumbar ini tidak hanya terkenal di Indonesia saja, tapi sampai ke mancanegara.

Namanya berasal dari Minangkabau yang artinya Jam Besar, karena di empat sisinya memiliki jam yang berukuran besar. Menara yang berusia hampir satu abad ini, menjadi simbol keindahan Kota Bukittinggi dan kebanggaan masyarakat Sumbar.

Lokasi Jam Gadang sangat strategis, berada di tengah Taman Sabai Nan Aluih, tepatnya di Jalan Istana Kelurahan Bukit Cangang, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukittinggi.  Jam Gadang juga dijadikan penanda atau markah tanah dan titik nol Kota Bukittinggi.

Jam Gadang, Sejarah & Landmark Bukittinggi

 

Keberadaan Jam Gadang telah ditetapkan sebagai cagar budaya, hal ini tertuang melalui SK Nomor PM.05/PW.007/MKP/2010, tertanggal 8 Januari 2010. Penetapan ini menjadi jaminan bahwa warisan budaya Jam Gadang harus dilestarikan.

Sejarah Jam Gadang

Jam Gadang dirancang pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan merupakan hadiah dari Ratu Belanda Wilhelmina, untuk memperingati 100 tahun kota Fort deKock (sekarang Kota Bukittinggi).  Hadiah ini menjadi simbol apresiasi pemerintah kolonial Belanda terhadap pentingnya kota Fort deKock.

Dibangun antara tahun 1925 – 1927 atas prakarsa Hendrik Roelof Rookmaaker, yang menjabat sebagai sekretaris kota Fort de Kock. Sementara Yazid Rajo Mangkuto, seorang arsitek asal Koto Gadang mendapat mandat sebagai penanggung jawab pembangunan, dan pelaksana pembangunan ditangani oleh Haji Moran dengan mandornya St.Gigi Ameh.

Pembangunan Jam Gadang menghabiskan biaya sekitar 15.000 Gulden di luar biaya upah pekerja sebesar 6.000 Gulden. Dengan memadukan unsur Eropa dan tradisional local, arsitektur Jam Gadang sangat unik dan menarik.

Pada awalnya, atap Jam Gadang berbentuk bulat seperti kubah gereja dengan patung ayam jantan yang diletakkan di puncaknya.  Ini merupakan simbolis, yaitu kokok ayam jantan yang dapat membangunkan masyarakat setempat setiap pagi.

Jam Gadang, Sejarah & Landmark Bukittinggi

Lalu pada masa pendudukan Jepang, bentuk atap diubah menyerupai Kuil Shinto. Namun, setelah Indonesia merdeka, atap tersebut diganti menjadi bentuk gonjong, ciri khas arsitektur tradisional Minangkabau, melambangkan identitas budaya lokal.

Jam Gadang memiliki denah dasar persegi berukuran 13 X 4 meter dengan tinggi 26 meter, dan pada bagian dalam menara jam terdapat lima tingkat. Pada tingkat teratas merupakan tempat penyimpanan bandul.  Sementara, ukuran ke-empat jam besar yang ditempatkan pada sisi luar bagian atas memiliki diameter 80 cm.

Jam ini digerakkan secara mekanik oleh mesin yang didatangkan langsung dari Rotterdam, Belanda melalui pelabuhan Teluk Bayur.  Uniknya, di dunia ini hanya ada dua jam yang memakai mesin penggerak yang sama, yaitu Jam Gadang dan Big Ben di London, Inggris.

Mesin jam dan permukaan jam terletak pada satu tingkat di bawah tingkat paling atas. Pada bagian lonceng tertera pabrik pembuat jam yaitu Vortmann Relinghausen. Vortman adalah nama belakang pembuat jam, Benhard Vortmann, sedangkan Recklinghausen merupakan nama kota di Jerman yang memproduksi mesin jam pada tahun 1892.

Jam Gadang, Sejarah & Landmark Bukittinggi
Banyak aktivitas dilakukan

Selain berfungsi sebagai landmark, Jam Gadang juga memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia. Pada tahun 1945, ketika proklamasi kemerdekaan diumumkan, bendera merah putih untuk pertama kalinya berkibar di puncak Jam Gadang.

Selain itu pada tahun 1958 – 1961, Jam Gadang juga menjadi saksi peristiwa tragis selama masa Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), yaitu terjadinya pertempuran antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan pasukan PRRI.  Ratusan warga sipil dan pejuang PRRI menjadi korban dalam pertempuran tersebut.

Saat ini, taman sekitar Jam Gadang telah mengalami revitalisasi dan diperluas. Taman tersebut menjadi ruang interaksi masyarakat baik pada hari kerja maupun pada hari libur.  Fasilitas tambahan seperti air terjun warna-warni, taman dengan bangku-bangku, dan toilet yang bersih membuat kawasan Jam Gadang semakin menarik bagi wisatawan. Bahkan, berbagai acara budaya serta festival lokal seringkali diadakan di sekitar sini.

Tak heran, saat ini Jam Gadang tidak hanya berfungsi sebagai objek wisata, namun pusat aktivitas sosial dan budaya Bukittinggi.(*)