Masuk Kampung Ini Serasa Lewati Dimensi Waktu Ke Zaman Kolonial

PariwisataIndonesia.id – Sebagai negeri yang pernah melewati zaman kolonial, Indonesia memiliki banyak peninggalan sejarah berupa bangunan tua yang dibangun pemerintahan kolonial Belanda saat itu.

Malang, kota wisata alam di Jawa Timur ini menyimpan banyak warisan budaya. Salah satunya adalah Kampung Heritage Kayutangan. Ini adalah objek wisata sejarah berupa perkampungan tua, yang memiliki banyak rumah kuno yang masih terawat keasliannya.

Kampung ini bisa diakses dari koridor Talun ( Jl. Arief Rahman Hakim ) dan koridor Kayutangan ( Jl. Basuki Rahmat ). Letaknya yang dekat degan Alun-alun kota Malang menjadikan Kampung Kayutangan nyaman dinikmati sebagai wisata jalan kaki.

Ada 60 rumah tua yang berhasil diidentifikasi di kampung ini. Seluruhnya relatif terjaga bentuk aslinya. Di depan rumah dipasang plakat informasi usia bangunan sampai pemilik pertamanya. Rumah tertua dicatat dibangun pada 1870.

Banyak pula yang dibangun dalam kurun 1920-1940 dengan model atap pelana atau biasa disebut rumah jengki. Wisata heritage Kayutangan diresmikan sejak 2018 lalu. Sejak itu pula para pelancong datang silih berganti.

Misalnya rumah Ester. Dibangun pada 1940, pernah digunakan pengobatan sinshe. Meski tidak lagi ada praktik pengobatan, keturunannya masih menjual jamu tradisional. Ada pula menyediakan pernak – pernik seperti kamera lawas maupun perabotan kuno untuk berfoto.

Ada versi cerita rakyat yang berkembang perihal awal muasal nama Kayutangan. Nama itu mengambil dari pohon yang berbentuk menyerupai tangan manusia. Dahulu kawasan ini adalah hutan belantara ditumbuhi pohon patangantangan.

Rizal Fahmi, Ketua Pokdarwis Kayutangan menyebut pohon itu tumbuh menyerupai tangan manusia. Hutan ini jadi tempat persembunyian Ken Arok.

“Warga biasa menyebut pohon dengan kayu, jadilah pohon patangantangan itu disebut kayutangan,” kata Rizal Fahmi, Ketua Pokdarwis Kayutangan.

Menurutnya, pohon jenis itu sekarang sudah langka. Konon di Malang tersisa sedikit saja, di antaranya masih tumbuh di wilayah Gunung Kawi.
Wilayah Kayutangan ada sejak masa kerajaan kuno dan terus berkembang di masa kolonial Belanda. Wilayah Kayutangan yang masuk koridor Talun memiliki sejarah panjang. Kawasan ini tercatat dalam Prasasti Ukir Nagara berangka tahun 1198 Masehi sebagai desa perdikan.

Nama daerah ini disebut-sebut dalam Kitab Paraton. Salah satu tempat Akuwu Tunggul Ametung saat memburu Ken Arok dipersembunyiannya. Kawasan ini semakin berkembang saat Belanda menguasai Malang.

Jadi salah satu permukiman baru di regenschaap atau Kabupaten Malang pada 1822 yang didirikan Belanda. Saat gementee atau Kotamadya Malang ditetapkan pada 1914, wilayah ini makin berkembangan.

Koridor Kayutangan di Jalan Basuki Rahmat masuk bagian rencana pengembangan kawasan atau bouwplan Kotamadya Malang. Sebagai zona perdagangan di masa kolonial. Hal itu tertulis dalam Kroniek der Stadsgemeente Malang 1914 – 1939.

Sejak itu pula, perlahan tapi pasti koridor Kayutangan jadi salah satu koridor utama. Pusat bisnis dan perdagangan, terlebih setelah Belanda juga membangun jalur trem. Kawasan ini banyak menyumbang sejarah penting bagi perkembangan Kota Malang.