Rahasia di Balik Malioboro

Pusat wisata yang menyajikan oleh-oleh hingga jajanan khas Yogyakarta
Foto: Redaksi Pariwisataindonesia.id

Siapa yang tidak kenal dengan Yogyakarta, kota yang penuh dengan kearifan lokal ini dinobatkan menjadi ASRAN City of Culture. Penobatan ini tentu bukan tanpa sebab, pasalnya Yogyakarta memiliki begitu banyak nilai-nilai budaya bahkan ditiap sudut kotanya. Salah satunya bisa kita jumpai di penamaan jalannya.

Malioboro. Tentu setiap wisatawan pernah bertandang ke tempat ini, tak hanya itu, wisatawan yang belum pernah ke Yogyakarta pun mengenal apa itu Malioboro. Pusat wisata yang menyajikan oleh-oleh hingga jajanan khas Yogyakarta ternyata memiliki rahasia unik terkait filosofinya. Pernahkah, Sobat Pariwisata bertanya kenapa jalan ini dinamai Malioboro?

Foto: brilio.net

Keberadaan Malioboro sendiri tidak bisa dipisahkan dengan dua jalan yang mendampinginya secara sejajar, yaitu Marga Utama dan Marga Mulya. Ketiganya merupakan simbol dari proses seorang manusia menuju kemuliaan yang sejati.

Nama Malioboro ini jika dibedah, terbagi menjadi dua bagian yaitu Malio dan Boro. Malio sendiri memiliki arti Jadilah Wali atau Mewalio, sedang Boro berasal dari Mboro/ngumboro atau mengembara. Jadi, Malioboro sendiri memiliki arti Jadilah Wali dalam Pengembaraan. Tentu ini merupakan tahap kelanjutan dari tahap awal yaitu Margo Utomo atau jalan keutamaan.

Dalam tata ruang kota, ketiga jalan ini berurutan dari Utara ke Selatan dimulai dari Margo Utomo, Malioboro dan Margo Mulyo. Ketiga jalan ini disusun dan dibuat searah, bayangkan saja, pemerintah daerah sangat detil dalam pelestarian nilai budaya, bahkan filosofi ini diterapkan dalam arus lalu lintas kota.

Foto: Redaksi Pariwisataindonesia.id

Margo Utomo yang merupakan jalan keutamaan yaitu jalan pencarian hakikat hamba terhadap Tuhannya. Kemudian setelah mendapatkan ilmu dan pencerahan dari guru/wali di jalan keutamaan, manusia harus menempuh proses kedua yaitu Malioboro. Manusia harus menjadi wali dalam perjalanan/kehidupannya. Menjadi wali bukan berarti benar-benar menjadi wali secara harfiah. Namun menjalani jalan dakwah dalam menyebarkan ilmu “keutamaan” yang didapat pada proses sebelumnya.

Penegasan Malioboro sebagai jalur pencerah di tandai dengan adanya pemasangan obor (kini replika obor), sepanjang Jalan Malioboro. Kemudian, setelah menjalani proses kedua. Manusia akan sampai pada jalur ketiga yakni Marga Mulya atau Jalan Kemuliaan. Tahapan ini akan didapatkan jika kedua jalur sebelumnya sudah dilalui dengan kesungguhan hati.

Dari Malioboro, kita bisa belajar sesuatu yang penting dalam menjadi manusia. Perjalanan hidup manusia untuk menuju kemuliaan adalah untuk mencerahkan bukan untuk menyulut api yang merusak. Api obor pencerahan dalam Malioboro merupakan pencerah kehidupan, yang didapat dari jalan keutamaan. Mari kita menjadi api obor yang mencerahkan, bukan menjadi penyulut yang membakar dan merusak keseimbangan hidup terutama dalam bermasyarakat dan bernegara.