Siwaluh Jabu

Rumah Adat Suku Karo, Sumatera Utara
foto: laketoba.travel

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terdiri dari beragam macam sub suku. Keanekaragaman ini menghasilkan banyak peninggalan budaya, termasuk rumah adat. Salah satu rumah adat yang bisa kita temukan di provinsi yang beribukota Medan ini adalah Rumah Siwaluh Jabu.

Pariwisata Indonesia
foto: kebudayaan.kemendikbud.go.id

Siwaluh Jabu berasal dari Bahasa Karo, yaitu waluh yang berarti delapan dan jabu yang berarti rumah. Siwaluh Jabu dapat berarti rumah yang memiliki delapan ruangan dan dapat ditinggali oleh delapan keluarga.

Material yang digunakan untuk membangun Siwaluh Jabu terdiri dari kayu untuk tiang, kerangka, lantai dan dinding, bambu untuk kerangka atap dan teras, serta ijuk untuk bagian atap yang tidak membuat ruangan panas di siang hari, tapi juga tahan akan hujan. Rumah ini memiliki desain rumah panggung dan dalam pembuatannya yang tidak menggunakan paku satu pun.

Siwaluh Jabu memiliki empat bagian. Yang pertama adalah bagian bawah atau kolong. Pada zaman dulu, bagian kolong rumah ini dipergunakan untuk memelihara berbagai hewan ternak. Namun, saat ini ternak ditaruh di kandang yang jaraknya cukup jauh untuk menjaga kesehatan para penghuni rumah.

Bagian kedua adalah bagian tengah atau inti rumah, tempat para penghuni melakukan berbagai kegiatan, seperti tidur, makan, hingga memasak. Di bagian ini terdapat 8 ruangan yang ada di kedua sisi. Ruangan-ruangan ini dipisahkan dengan sekat dan ditutup kain. Setiap dua ruangan memiliki satu dapur di bagian depan yang dapat digunakan bersama oleh dua keluarga.

Untuk masuk ke dalam rumah, terdapat pintu yang dibuat kecil yang membuat para tamu harus menundukan tubuh saat memasuki rumah. Hal tersebut menjadi simbol penghormatan kepada pemilik rumah. Selain itu juga terdapat jendela di tiap-tiap ruangan untuk sirkulasi udara dan pencahayaan.

Bagian ketiga Siwaluh Jabu adalah bagian atas. Bagian ini digunakan untuk menyimpan cadangan kayu bakar yang dipakai untuk memasak. Terakhir, bagian luar atau ture (teras) yang terletak di depan maupun di belakang. Biasanya, para wanita menghabiskan waktu senggang dengan menganyam tikar di bagian ture.

Untuk membangun sebuah Siwaluh Jabu diperlukan waktu berbulan-bulan bahkan hingga dua tahun. Hal tersebut dikarenakan banyaknya tahapan dan ritual yang harus dilakukan. Tahapan pertama, padi-padiken tapak rumah, di mana pihak keluarga akan mencari letak dan arah rumah yang akan dibangun dengan bantuan guru si baso (dukun).

Tahap kedua, ngempak yaitu memilih pohon di hutan dan menentukan tanggal untuk menebangnya. Tahapan ini juga membutuhkan bantuan guru si baso. Ketiga, ngerintak kayu, yaitu memohon bantuan pada warga desa untuk membantu membawa pohon-pohon yang telah ditebang. Pihak keluarga akan membagikan sirih dan menggelar acara makan besar.

Keempat, pebelit-belitken yaitu mengumpulkan para pekerja untuk menentukan waktu pembangunan dan besar upah yang akan dibayarkan. Kelima, mahat yaitu tahap memahat dan memotong pohon-pohon yang telah tersedia. Keenam, ngampen tekang yaitu pemasangan balok di pondasi yang telah dibuat. Ketujuh, ngampekan ayo yaitu memasang anyaman bambu untuk bagian atap. Terakhir, pemasangan tanduk kerbau yang diyakini sebagai penolak bala. Pemasangan tanduk ini dilakukan di malam hari.

Pada zaman sekarang, Siwaluh Jabu sudah mulai sulit untuk ditemukan. Rumah ini hanya bisa menemukannya di Desa Dokan dan Lingga, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Sobat Pariwisata juga bisa melihatnya di Jalan Bunga Herba 5, Nomor 89, Kota Medan. Siwaluh Jabu di tempat ini dibawa langsung dari Karo dan telah berusia lebih dari 120 tahun.

Sobat Pariwisata! Pada tahun 2013, Siwaluh Jabu ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Sumatera Utara.