Tidak Untuk Membunuh Musuh

Langga, Seni Bela Diri dari Gorontalo
pariwisata indonesia

Bela diri merupakan salah satu keterampilan yang telah ada sejak zaman dahulu. Kemampuan ini sangat berguna terutama untuk mempertahankan diri dan melawan musuh, termasuk ketika melawan para penjajah. Seni bela diri pun berkembang di berbagai wilayah nusantara dengan teknik serta nama yang berbeda-beda. Di Gorontalo, seni bela diri tersebut bernama Langga.

pariwisata indonesia

Langga berasal dari kata helangga-langgawa (Bahasa Gorontalo) yang berarti gerak-gerik. Langga merupakan seni bela diri khas Provinsi Gorontalo. Sebenarnya, selain Langga, juga terdapat Longgo. Langga dilakukan dengan tangan kosong atau tanpa senjata. Sedangkan Longgo merupakan seni bela diri yang menggunakan senjata.

Seni bela diri Langga tergolong unik karena gerakannya berkaitan erat dengan aktivitas sehari-hari, seperti memanjat pohon kelapa, berkebun, menyeberang sungai, dan sebagainya. Meskipun termasuk keterampilan bela diri, Langga tidak digunakan untuk membunuh lawan. Keterampilan ini hanya difungsikan untuk melindungi diri dan melumpuhkan lawan.

pariwisata indonesia

Langga diyakini pertama kali dibawa oleh seorang awuliya atau wali, seorang ulama besar yang menyebarkan Islam di Gorontalo, yang bergelar Ju Panggola. Ju berarti ya, dan panggola berarti tua. Ju Panggola bisa diartikan sebagai ‘ya, Pak Tua’. Pemberian julukan ini dikarenakan Ju Panggola selalu hadir dalam sosok kakek tua berjanggut yang mengenakan jubah putih.

Menurut sejarah, Ju Panggola juga memiliki nama lain, yaitu Ilato, yang berarti kilat. Ilato memiliki kesaktian, yaitu bisa menghilang dan kembali ke Gorontalo secepat kilat. Biasanya, Ilato datang ketika Gorontalo dalam kondisi gawat.

Selain memiliki kesaktian, Ju Panggola juga memiliki kemampuan bela diri yang diturunkan kepada para muridnya. Uniknya, konon untuk menurunkan kemampuan ini, Ju Panggola hanya perlu meneteskan cairan ke mata sang murid. Seketika, sang murid akan menguasai keterampilan bela diri Langga.

Ju Panggola meninggal pada abad ke-14 dan dimakamkan di Kelurahan Dembe, Kecamatan Kota Barat, Gorontalo. Hingga kini, lokasi makamnya masih dianggap masyarakat sebagai salah satu kompleks suci.

pariwisata indonesia

Langga mulai berkembang pesat di abad ke-16 Masehi terutama pada masa kerajaan-kerajaan di Gorontalo. Kemampuan bela diri ini sangat populer dan dijadikan sebagai salah satu alat untuk mencapai kedudukan sosial di masyarakat. Orang yang memiliki kemampuan ini, akan disegani oleh masyarakat.

Pada masa Pemerintahan Belanda, Langga menjadi bekal para pemuda untuk mengusir penjajah. Puncaknya pada tanggal 23 Januari 1942, di mana para pemuda di bawah pimpinan Nani Wartabone menyerang pasukan penjajah.

Pada zaman sekarang, selain menjadi keterampilan bela diri, Langga juga menjadi olahraga. Seni bela diri ini juga diwujudkan dalam sebuah kesenian yang bernama Tari Langga. Pada tahun 2016, Langga ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Provinsi Gorontalo. Langga pun menjadi salah satu identitas masyarakat dari Bumi Serambi Madinah. Sobat Pariwisata bisa menemukan Tugu Langga saat berlibur ke Gorontalo.(Nita)