Tradisi Tari Inai

Dan Pendekar yang Senang ber-Gotong Royong
Pariwisata Indonesia
Foto: youtube.com

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata pernah mendengar istilah pesta malam lajang? Biasanya pesta ini diadakan pada malam sebelum pernikahan. Pesta yang sering kita lihat di film-film Hollywood ini, ternyata bukan hanya milik budaya barat, loh! Orang timur, termasuk Melayu juga memiliki budaya ini. Tentunya dengan dengan kearifan dan kekhasan tersendiri.

Umumnya, ‘malam lajang’ di budaya timur akan diisi dengan kegiatan doa dan mewarnai kuku serta tangan calon mempelai. Namun, ada beberapa hal unik dan berbeda selama ‘malam lajang’ di masing-masing tempat, seperti pada masyarakat Jambi.

Sebelum pelaksanaan pernikahan, masyarakat akan mengadakan upacara adat malam berinai, dimana calon mempelai akan diberi inai (pewarna kuku atau tangan), kemudian ditepungtawari. Salah satu hal yang unik dalam upacara ini adalah pertunjukan tari inai yang ditampilkan.

Sebagai informasi, Tari inai telah disahkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Tari ini termasuk tarian sakral dalam rangkaian upacara pernikahan, loh. Biasanya tari ini dibawakan pada malam hari, setelah sholat Isya, di kediaman calon mempelai wanita.

Pariwisata Indonesia

Menurut sejarah, Tari Inai ditampilkan untuk menjaga calon mempelai wanita dari gangguan baik oleh manusia maupun gangguan supranatural. Oleh karena itu, pada zaman dulu tari ini dibawakan oleh pendekar yang memiliki kesaktian yang mampu melindungi diri serta acara pernikahan. Para pendekar ini harus menguasai minimal 5 hingga 10 jurus pencak silat. Wah, keren, ya.

Pada zaman sekarang, selain menjadi tradisi turun temurun, Tari Inai juga disuguhkan sebagi hiburan pada malam berinai. Tari yang dibawakan oleh kaum laki-laki secara berpasangan atau tunggal ini, tetap menyuguhkan penampilan pencak silat dengan level rendah. Ada gerakan pukul, tangkis, maupun menjatuhkan. Ciaat!

Pariwisata Indonesia

Beberapa properti seperti lilin juga kerap digunakan untuk melengkapi penampilan. Diiringi dengan musik yang berasal dari akordion, biola, dan gendang ronggeng, gerakan Tari Inai akan menghasilkan sebuah pertunjukan yang menarik.

Para penari yang membawakan Tari Inai biasanya menggunakan pakaian adat khas Melayu, yaitu baju gunting cina atau baju kecak musang yang dipadu dengan celana panjang longgar. Kain sarung atau songket menjadi penghias di bagian pinggang para penari. Selain itu, para penari juga menggunakan peci sebagai penutup kepala. Udah seperti pendekar, kan?

Pariwisata Indonesia

Hal unik dari para penari Tari Inai ini adalah mereka jarang dibayar dengan uang. Umumnya, mereka diberikan ucapan terima kasih berupa nasi manis dan telur merah. Oleh karena itu, masyarakat yang membutuhkan pun tetap bisa menghadirkan tradisi turun temurun ini. Hal ini sangat sesuai dengan budaya gotong royong bangsa kita. Setuju nggak, Sobat Pariwisata?(Nita)