Wisata Candi Dadi dan Kutukan Jomblo

Pariwisataindonesia.id Saat anda berkunjung ke Tulunggagung, Jawa Timur, tidak ada ruginya berkunjung ke Candi Dadi. Bangunan bersejarah yang terletak di Dusun Mojo, Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu ini menyimpan kisah misteri yang tersebar dari mulut ke mulut.

Dalam laporan tahun 1920-an, selain Candi Dadi disebutkan masih ada beberapa bangunan candi lainnya, seperti candi buto, candi gemali, dan candi lain yang sudah tak karuan bentuknya. Hingga sekarang hanya tersisa Candi Dadi saja yang masih berbentuk.

Butuh waktu sekitar 40 menit untuk menuju candi ini karena letaknya yang berada di puncak bukit Walikukun. Namun rasa lelah bisa langsung terbayar ketika sampai di lokasi Candi Dadi. Karena kita bisa menikmati keindahan Kecamatan Boyolangu dan sekitarnya dari ketinggian.

 

Candi Dadi menyimpan misteri tentang asal muasal pembangunannya. Masyarakat sekitar percaya bahwa candi ini bermula ketika salah seorang pangeran melamar seorang putri Dusun Kedungjalin.

Kemudian putri tersebut mau menerima lamaran dengan syarat dibuatkan empat candi dalam satu malam. Pangeran pun menyetujui persyaratan tersebut dan dimulailah pembuatannya.

Maka ketika keempat candi hampir jadi, dan waktu masih cukup, maka putri yang sejatinya ingin menolak lamaran pangeran tersebut mencari akal untuk menggagalkan pembuatan candi yaitu dengan menyuruh beberapa ibu desa membunyikan suara lesung.

Maka candi yang keempat pun belum selesai dibuat karena pangeran mengira waktu sudah pagi. Candi yang keempat ini selanjutnya oleh masyarakat dinamakan Candi Urung, karena bentuknya yang tidak sempurna.

Kata “Urung” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang artinya Belum. Setelah pangeran tahu tipu muslihat itu, maka ia marah dan mengutuk para perempuan di desa itu, mereka tidak akan mendapatkan jodoh melainkan setelah usianya menginjak tua.

Sedang penamaan Candi Buto, karena menurut masyarakat, dulu di atas candi tersebut terdapat sebuah arca besar yang sekarang tidak terlihat karena disembunyikan makhluk halus. Sedangkan nama Candi Gemali atau Lingga Gemali sendiri diambil karena di lokasi itu terdapat lingga yang mempunyai makna kesuburan lelaki.

“Hal itu memungkinkan karena perempuan-perempuan Dusun Kedungjalin menikah di usia tua,” imbuh Triyono.

Menurut Ketua Museum Tulungagung, Drs Haryadi, banyak pendapat mengenai fungsi Candi Dadi pada masanya. Ada yang mengatakan untuk pendermaan, ada yang mengatakan untuk pertapaan, ada juga yang mengatakan untuk pengabuan (pembakaran mayat,red).