Bagajah Gamuling Baular Lulut

Baju Pengantin Tertua di Kalimantan Selatan
Pariwisata Indonesia
Baju Pengantin Kalimantan Selatan foto by borneochannel

Sobat Pariwisata! Ada yang berbeda dengan Provinsi Kalimantan Selatan. Jika umumnya provinsi di Pulau Kalimantan didominasi dengan Suku Dayak, maka tidak dengan provinsi yang beribukota di Banjarmasin ini. Penduduk terbanyak di provinsi ini berasal dari Suku Banjar. Oleh karena itu, provinsi ini memiliki banyak perbedaan dengan provinsi-provinsi tetangga, termasuk dari baju tradisional.

Pariwisata Indonesia

Salah satu baju tradisional yang terkenal dari Kalimantan Selatan adalah Bagajah Gamuling Baular Lulut. Pakaian ini dipercaya sebagai pakaian pengantin tertua yang ada di Kalimantan Selatan. Dalam perkembangan selanjutnya, busana tradisional di Kalimantan Selatan mengalami banyak modifikasi yang dipengaruhi oleh budaya dan agama baru yang datang.

Pada zaman dahulu, Bagajah Gamuling Baular Lulut merupakan busana yang dikenakan oleh keturunan raja dan bangsawan. Seiring perkembangan zaman, baju ini pun kerap menjadi busana pengantin dalam pernikahan adat Kalimantan Selatan bahkan hingga sekarang.

Bagajah Gamuling Baular Lulut diyakini telah ada sejak abad ke-15 Masehi. Baju ini banyak dipengaruhi oleh unsur agama Hindu yang bercampur dengan budaya Banjar. Percampuran ini menghasilkan satu busana yang eksotis sekaligus indah.

Atasan Bagajah Gamuling Baular Lulut untuk kaum laki-laki biasanya mengenakan baju poko (kemeja lengan pendek tanpa kerah). Namun, ada juga yang tidak mengenakan atasan atau bertelanjang dada untuk menunjukkan keperkasaan. Bagian bawahnya mengenakan celana panjang yang dihiasi motif pucuk rebung dari manik-manik.

Sementara di bagian luar celana, ditumpuk dengan kain selutut yang menambah kewibawaan. Busana ini juga dilengkapi dengan ikat pinggang dan keris pusaka yang disampirkan di pinggang.

Pariwisata Indonesia

Atasan untuk kaum perempuan umumnya mengenakan kemben yang disebut udat. Meskipun ada beberapa yang mengenakan baju lengan pendek yang dihiasi dengan payet. Atasan tersebut dipadupadankan dengan kain panjang yang berbentuk rok dan dilengkapi dengan ikat pinggang.

Kain yang digunakan oleh perempuan dan laki-laki dalam busana Bagajah Gamuling Baular Lulut, dipercantik dengan taburan payet, manik dan sulaman benang emas yang berbentuk motif halilipan (hewan lipan). Motif ini menjadi perlambang hewan yang memiliki kecerdikan dan tidak suka pamer kekuatan meskipun sangat berbisa.

Pariwisata Indonesia

Bagian kepala laki-laki dan perempuan mengenakan mahkota yang terbuat dari lingkaran logam bundar. Logam ini dibentuk menjadi dua ular lidir yang melingkar dengan kedua kepala bertemu di bagian tengah seolah-olah sedang memperebutkan kumala. Sedangkan kedua ekornya disatukan dengan garuda mungkur paksi melayang. Mahkota asli bagi raja dibuat dengan material emas dan permata.

Namun, pada zaman sekarang mahkota ini lebih sering terbuat dari logam kuningan. Selain mahkota, di bagian kepala perempuan juga dihiasi dengan kembang goyang yang jumlahnya ganjil.

Kedua pengantin juga dilengkapi dengan ragam aksesoris berupa ronce bunga mawar dan melati yang disebut dengan bogam. Bunga mawar menjadi simbol keberanian, sedangkan melati menjadi simbol kesucian. Selain itu, juga ada rangkaian kuncup bunga melati yang disebut karang jagung. Rangkaian ini menjadi perlambang bahwa sang pengantin masih dalam keadaan gadis.

Di bagian belakang kepala juga dihias dengan anyaman janur berbentuk halilipan yang melambangkan sifat rendah hati, tidak takabur, jujur, dan tidak akan mengganggu jika tidak diganggu lebih dulu.

Busana yang memiliki banyak nilai filosofis ini masih diminati hingga saat sekarang. Banyak yang menggunakan busana klasik dan eksotis ini terutama saat menjadi raja dan ratu sehari. (Nita)