Cap Go Meh Singkawang Memang Beda!

Tatung, Atraksi yang Selalu Dinanti
Pariwisata Indonesia

Artikel berkode ‘R(Restricted)’ Terbatas. Redaksi perlu mengingatkan, anak-anak berusia di bawah 17 tahun membutuhkan pendampingan orangtua, dan orang dewasa saat membaca. Tulisan mengandung unsur kekerasan, konten dewasa seperti aktivitas orang dewasa, bahasa, fotografi, grafis dan video, maupun sejenisnya. Peruntukan untuk kategori usia pembaca dewasa.

Pariwisata Indonesia

Cap Go Meh merupakan salah satu rangkaian perayaan Tahun Baru China (imlek) yang dilakukan oleh masyarakat keturunan Tionghoa. Perayaan yang dilakukan setiap tanggal 15 bulan pertama China ini bisa ditemukan di berbagai belahan dunia. Biasanya, perayaan dimulai dengan doa di Vihara yang kemudian dilanjutkan dengan pawai atau arak-arakan.

Akan tetapi, ada yang berbeda dengan perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat, yaitu hadirnya para Tatung dalam pawai. Para Tatung ini akan berpenampilan seperti dewa, jenderal, panglima perang China, hingga kepala Suku Dayak. Parade Tatung ini sulit bahkan mungkin tidak bisa ditemukan di belahan bumi yang lain.

Tatung berasal dari Bahasa Hakka, yang berarti roh dewa. Tatung bisa diartikan orang-orang yang kerasukan roh dewa atau para leluhur ketika perayaan Cap Go Meh. Para Tatung kerap melakukan atraksi-atraksi yang bagi masyarakat awam terlihat ekstrem dan membahayakan, seperti duduk di atas pedang tajam, mengiris-iris tubuh dengan Mandau (senjata khas Suku Dayak), memakan pecahan lampu, hingga menusukkan besi ke mulut dan lidah. Selintas, atraksi Tatung hampir mirip dengan Debus dari Banten, tapi berbeda.

Tatung bukan hanya terbatas pada perayaan Cap Go Meh. Pada kehidupan sehari-hari, para Tatung diyakini memiliki kekuatan supranatural, seperti bisa meramal dan mengobati penyakit. Tidak semua orang bisa mendapatkan kekuatan Tatung karena kekuatan ini diwariskan turun-temurun dari para leluhur. Meskipun ada juga orang-orang berbakat yang bisa mendapatkan kekuatan ini dengan belajar dari para guru yang merupakan Tatung.

Meskipun tidak mengikuti perayaan Cap Go Meh, para Tatung tetap akan kerasukan roh-roh pada hari tersebut. Uniknya, roh-roh yang memasuki Tatung akan keluar dari tubuh manusia menjelang tengah hari. Pada saat-saat tersebut, para Tatung harus segera bersiap untuk menyudahi atraksi-atraksi mereka. Jika tidak, mereka akan terluka.

Roh-roh yang memasuki para Tatung pun beragam. Ada Tatung yang dimasuki oleh roh leluhur Tiongkok dan ada Tatung yang dimasuki oleh roh leluhur Suku Dayak. Sikap dan tingkah laku para Tatung yang kerasukan akan sangat berbeda, sesuai dengan roh yang memasukinya. Misalnya, tiba-tiba berbicara Bahasa Mandarin, padahal dalam keseharian selalu menggunakan Bahasa Hakka.

Pariwisata Indonesia

Para Tatung juga memiliki ritual khusus masing-masing yang harus dijalankan. Misalnya, ada Tatung yang tidak boleh makan daging setiap tanggal 1 dan tanggal 15, juga ada yang harus menjadi vegetarian selama tujuh hari sebelum pelaksanaan Cap Go Meh. Jika ritual tersebut dilanggar, maka para Tatung akan mengalami kecelakaan saat melakukan atraksi, seperti terluka atau berdarah.

Keberadaan Tatung di Singkawang diyakini sudah lebih dari 200 tahun. Menurut sejarah, Tatung sudah ada sejak terjadi gelombang migrasi Suku Tionghoa Hakka dari Yunan dan Hoppo, Cina Selatan ke Pulau Kalimantan. Pada saat itu, banyak para migran yang bekerja di penambangan emas Monterado (39 kilometer dari Singkawang). Kekurangan tenaga medis, menyebabkan para pekerja yang sakit meminta bantuan dari para Tatung yang ikut melakukan migrasi maupun yang kerasukan roh.

Pariwisata Indonesia

Pada masa orde baru, pertunjukan Tatung sempat dilakukan secara diam-diam. Setelah masa berganti, Tatung pun mulai kembali dipertunjukan di Singkawang hingga sekarang.

Pada tahun 2020, Cap Go Meh dan Tatung Singkawang telah diitetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Banyaknya orang yang ingin menyaksikan Tatung, membuat perayaan Cap Go Meh di Singkawang selalu padat dan ramai. Bahkan para perantau yang tidak memiliki darah Tionghoa akan sengaja pulang untuk sekadar menyaksikan perayaan ini.

Di tahun 2019 Tatung juga pernah mengisi perayaan Cap Go Meh di Jakarta, tepatnya di TM Season City. Dengan semakin banyaknya pertunjukan, diharapkan Tatung bisa menjadi salah satu kekayaan bangsa Indonesia yang semakin populer bahkan hingga di dunia internasional.(Nita)