Cawot, Pakaian Khas Orang Rimba Jambi

Cawot atau cawat adalah pakaian khusus laki-laki Orang Rimba. Pakaian ini hanya memiliki fungsi seperti pakaian dalam, yaitu untuk menutup bagian kelamin. Penggunaannya pun cukup mudah, yaitu dengan melilitkan cawat dari bagian pinggang, kemudian ke belakang, lalu ke depan. Berikut ulasan lengkapnya.
BEAUTIFUL INDONESIA, BUSANA KHAS ORANG RIMBA JAMBI,BUSANA KHAS SUKU ANAK DALAM,CAWOT,CULTURE TRAVELLING AND TOURISM,EXPLORE INDONESIA,HALO INDONESIA,INDONESIA CULTURE AND TOURISM,INDONESIA'S OFFICIAL TOURISM WEBSITE, MEDIA PARIWISATA INDONESIA,MEDIA PVK GRUP,PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA JAMBI,SITUS PARIWISATA INDONESIA,WARISAN BUDAYA TAK BENDA DARI PROVINSI JAMBI,WEBSITE PARIWISATA INDONESIA,WEBSITE PARIWISATA INDONESIA OFFICIAL,WEBSITE PARIWISATA INDONESIA TERFAVORIT 2020, WISATA BUDAYA JAMBI,WONDERFUL INDONESIA, Umi Kalsum Founder PVK Grup dan CEO Media PVK Grup
Suku Anak Dalam Jambi dan pria memakai cawot

PariwisataIndonesia.id – Sobat Pariwisata, Orang Rimba atau yang pada tahun 1970 dinamakan Suku Anak Dalam, merupakan salah satu penduduk asli yang mendiami Provinsi Jambi. Mereka umumnya masih tinggal secara nomaden (berpindah-pindah) di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas.

Setidaknya terdapat tiga versi tentang asal muasal Orang Rimba. Versi pertama, bahwa Orang Rimba adalah sisa laskar Kerajaan Pagaruyung Minangkabau yang tersesat saat berada dalam perjalanan untuk membantu Ratu Jambi.

Dalam versi kedua, Orang Rimba diduga merupakan sisa masyarakat Desa Kubu Karambia Kerajaan Pagaruyung yang menolak untuk memeluk agama Islam. Dan dalam versi terakhir, Orang Rimba diyakini sebagai keturunan Bujan Perantau dan Putri Kelumpang yang berkelompok dan menetap di hutan.

Orang Rimba memiliki beragam tradisi dan kebudayaan yang menjadi identitas diri, bahkan tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional. Seperti melangun (berpindah saat ada anggota keluarga yang meninggal), ubat ramuan orang rimba, hingga cawot orang rimba.

Cawot atau cawat adalah pakaian khusus laki-laki Orang Rimba. Pakaian ini hanya memiliki fungsi seperti pakaian dalam, yaitu untuk menutup bagian kelamin. Penggunaannya pun cukup mudah, yaitu dengan melilitkan cawat dari bagian pinggang, kemudian ke belakang, lalu ke depan.

Pada zaman dahulu, Cawot Orang Rimba terbuat dari kulit kayu ipuh (Antiaris toxicaria). Untuk melenturkan bahan cawot yang kaku, pelepah kayu harus direndam selama tiga hari, kemudian ditumbuk hingga pipih. Proses tersebut dilakukan selama berkali-kali hingga didapatkan pelepah yang kelenturannya hampir mendekati kain. Biasanya, proses ini bisa memakan waktu hingga satu bulan.

Selain kaum laki-laki, kaum perempuan juga menggunakan kulit kayu ipuh sebagai pakaian. Kulit kayu tersebut dibuat menjadi pakaian dengan bentuk kemben.

Sekitar tahun 1970, ketika Orang Rimba mulai berinteraksi dengan masyarakat luar, penggunaan Cawot dari kulit kayu digantikan dengan kain. Selain karena lebih lentur, penggunaan kain juga menghindarkan Orang Rimba dari kutu kulit kayu yang membuat tubuh gatal-gatal.

Redaksi Pariwisata Indonesia perlu memberikan catatan, Suku Anak Dalam tidak semua primitif. Terbukti pemakai cawot bisa beradaptasi dan hidup normal, pernah mencuri perhatian publik. Videonya viral di media sosial, sobat pariwisata masih ingat sosok Prajurit Dua (Prada) Budi?

Dalam tayangan tersebut, Budi rela berjalan kaki selama 9 jam untuk bisa menjenguk orangtuanya yang sakit. Ia tampak gagah mengenakan seragam warna hijau loreng yang disambut histeris oleh sejumlah gadis dan ibu-ibu yang juga memakai baju khas Suku Anak Dalam.

Para wanita tadi berlari menghampiri dan berebut sambil tersipu malu menyalami Orang Rimba yang sukses menjadi prajurit TNI AD. Budi dikerumuni bak seorang bintang.

Prada Budi tak sendiri, bersama Prada Yogi lulus menjadi prajurit TNI AD di tahun 2017. Keduanya berasal dari Suku Anak Dalam yang menjadi “tentro” atau tentara. Mereka ditempatkan dalam satuan tugas pengamanan perbatasan atau Satgas Pamtas Yonif Raider 143/Kj.

Masa kecilnya pernah mengecap pahitnya kehidupan, tinggal di tengah hutan dan belajar dengan daun dan arang. Kisah inspiratif Prada Budi telah membuktikan bahwa keadaan tidak menentukan masa depan seseorang.

Dalam video berdurasi 12.50 menit, menggambarkan sosok Prada Budi memperkenalkan diri di depan kelas untuk memotivasi serta mencerdaskan anak-anak yang tinggal di daerah perbatasan RI-RDTL (Republik Indonesia-Republik Demokratik Timor Leste).

Budi menceritakan pengalamannya di masa kecil yang hidup serba kekurangan.

“Kakak ingin memperkenalkan diri. Nama kakak adalah kakak Budi yang berasal dari Suku Anak Dalam,” kata Budi memperkenalkan diri di depan anak-anak yang belajar.

Dialog berikutnya, “Suku Anak Dalam itu lebih parah dari sini, kakak belajar di hutan-hutan seperti yang ada di sana. Kakak dulu belajarnya di bawah pohon. Kami pakai daun, pakai arang nulisnya, tapi bisa seperti ini karena semangat belajar dan keinginan kuat,” tulis dalam postingan instagram@tni_angkatan_darat, pada Jumat (20/9/2019).

Kala itu, dirinya ditugasi untuk memotivasi anak-anak murid SD 1 Motaain Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dalam video YouTube TNI AD tadi, terlihat juga pria tua sangat antusias menyambut Budi. Setelah bersalaman, kakek tua yang hanya mengenakan celana dalam atau cawot langsung meraba pundak Budi hingga terus mengiringi dari belakang. Bahkan mencium pundak “prajurit penembak jitu” yang jago membidik sasaran.

Ekspresi kakek tua yang memakai cawot itu, menggambarkan kerinduan yang luar biasa. Wajahnya berseri-seri, sang kakek tampak senang bisa melepas rasa rindunya.

Dalam tayangan berikutnya, datang lagi anak muda yang menghampiri Budi. Merangkul dan menarik untuk menuju sebuah tenda. Tibanya di kampung halaman bukan tanpa alasan. Dorongan Budi pulang untuk melihat kondisi keluarganya yang mengalami sakit keras.

Prada Budi, BEAUTIFUL INDONESIA, BUSANA KHAS ORANG RIMBA JAMBI,BUSANA KHAS SUKU ANAK DALAM,CAWOT,CULTURE TRAVELLING AND TOURISM,EXPLORE INDONESIA,HALO INDONESIA,INDONESIA CULTURE AND TOURISM,INDONESIA'S OFFICIAL TOURISM WEBSITE, MEDIA PARIWISATA INDONESIA,MEDIA PVK GRUP,PARIWISATA INDONESIA,PARIWISATA JAMBI,SITUS PARIWISATA INDONESIA,WARISAN BUDAYA TAK BENDA DARI PROVINSI JAMBI,WEBSITE PARIWISATA INDONESIA,WEBSITE PARIWISATA INDONESIA OFFICIAL,WEBSITE PARIWISATA INDONESIA TERFAVORIT 2020, WISATA BUDAYA JAMBI,WONDERFUL INDONESIA, Umi Kalsum Founder PVK Grup dan CEO Media PVK Grup
Prada Budi mengenakan cawot / Foto : Tempo.co

Seiring perkembangan zaman, Orang Rimba membatasi penggunaan cawot. Mereka hanya mengenakan pakaian warisan nenek moyang ini ketika berada di dalam hutan. Sementara, ketika sedang berinteraksi dengan masyarakat di luar, Orang Rimba menggunakan pakaian biasa.

Karena tidak lagi digunakan sebagai bahan cawot, kulit kayu ipuh beralih fungsi sebagai bahan pembuatan kerajinan tangan. Sobat Pariwisata, pada tahun 2017, Cawot Orang Rimba ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Provinsi Jambi. (Nita/Kusmanto).