Gema Dol yang Mendunia

Alat Musik Tradisional Bengkulu
Alat musik Dol

Bengkulu memang terkenal dengan bunga Rafflesia arnoldii, bunga terbesar di dunia yang merupakan bunga endemik. Selain bunga tersebut, Bengkulu juga memiliki kekayaan yang merupakan satu-satunya di dunia, loh! Kekayaan itu adalah alat musik tradisional bernama Dol.

Dol merupakan alat musik tradisional sejenis bedug atau perkusi. Hanya saja, alat musik memiliki keunikan tersendiri, yaitu bagian bawahnya tertutup sehingga suara yang dihasilkan pun berbeda. Dol yang biasanya memiliki diameter 70-125 cm dengan tinggi 75-100 cm. Alat musik tradisional ini terbuat dari bonggol kelapa atau bagian batang yang paling dekat dengan akar. Biasanya, bonggol yang digunakan adalah bonggol dari pohon kelapa yang telah berusia lebih dari 10 tahun. Bonggol ini terkenal kuat dan ringan.

Pariwisata Indonesia

Bonggol yang telah ditebang akan dilubangi bagian tengahnya. Sementara ujung atas dan bawah yang berlubang akan ditutup dengan kulit kambing, kulit lembu, atau kulit domba. Setelah itu, bagian luar bonggol akan dirapihkan dan dicat sehingga menghasilkan dol yang menarik. Pembuatan dol biasanya memakan waktu hingga tiga minggu.

Dengan penutup dikedua lubangnya, suara yang dihasilkan alat musik ini pun membahana, menggema hingga kemana-mana. Hentakan iramanya membuat suasana lebih bersemangat. Dol dimainkan secara beramai-ramai, sehingga musik yang dihasilkan semakin meriah. Biasanya, permainannya juga disandingkan dengan alat musik lain seperti tassa, sejenis rebana yang dipukul dengan memakai rotan.

Pariwisata Indonesia

Untuk memainkannya, digunakan alat pemukul berdiameter 5 cm dan memiliki panjang hingga 30 cm. Alat musik ini bisa dimainkan dengan tiga teknik yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi dimana Dol dimainkan. Teknik suweno atau lambat, umumnya dimainkan pada suasana dukacita. Teknik tamatan atau cepat dan konstan, umumnya dimainkan dalam suasana gembira, sehingga menghasilkan music yang meriah dan bersemangat. Sementara teknik suwari atau satu-satu, dimainkan saat mengiringi parade.

Pada awalnya, alat musik yang memiliki berat hingga 30 kg ini, hanya dimainkan saat acara adat Tabot digelar. Tabot adalah festival yang dilangsungkan pada tanggal 1 hingga 10 Muharam, untuk memperingati kematian Hasan dan Husein, cucu Nabi Muhammad saw. Dalam festival itu, dol dimainkan untuk mengiringi arak-arakan yang ditanggul oleh banyak orang. Irama dol yang cepat dan menghentak, membawa semangat dan membuat festival semakin meriah.

Perayaan Tabot sendiri pertama kali dilakukan oleh Syeh Burhanuddin (Imam Senggalo) pada tahun 1685. Imam Senggalo menikahi wanita Bengkulu dan memiliki keturunan yang disebut sebagai keturunan tabot. Aslinya, Dol hanya boleh dimainkan oleh keturunan tabot ini.

Seiring perkembangan zaman, alat musik tradisional ini mulai dimainkan oleh banyak kalangan di berbagai kesempatan. Para seniman di Provinsi Bengkulu juga giat memperkenalkan dol di kancah nasional maupun internasional. Dol juga pernah dimainkan pada Asian Games tahun 2018 dan pembukaan Asian Para Games 2018 lalu.

Sebagai satu-satunya alat musik tabuh yang tidak memiliki lubang, Dol telah menarik perhatian dunia. Sobat Pariwisata juga bisa memiliki Dol ini dengan mengeluarkan kocek dari sekitar 850.000 hingga jutaan, tergantung dari besar kecilnya.(Nita/RPI)