Mengantar Remaja Menuju Dewasa

Tradisi Karia
Pariwisata Indonesia

Kadekiho polambu, ane paeho omandehao kofatawalahae ghabu”, jangan engkau menikah sebelum engkau memahami empat penjuru atau sisi dapur. (Filosofi orang tua Muna).

Pariwisata Indonesia
foto by news, okezone,com

Setiap suku di Indonesia memiliki cara masing-masing dalam mendidik dan membesarkan anak mereka. Beberapa di antaranya bahkan memiliki upacara khusus yang wajib ditunaikan dalam masa pertumbuhan anak. Seperti upacara Karia yang dilakukan oleh masyarakat Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

Karia berasal dari kata kari yang berarti pembersihan atau sikat. Secara filosofis, Karia merupakan upacara pembersihan diri seorang anak perempuan. Upacara ini telah dilakukan sejak masa pemerintahan Raja Muna ke-16, La Ode Husein (1716-1767). Pada masa itu, raja yang bergelar Omputo Sangia ini melakukan upacara Karia bagi anak perempuannya yang bernama Wa Ode Kamomono.

Karia atau pingitan merupakan upacara adat yang diperuntukkan bagi gadis remaja yang telah beranjak dewasa. Upacara ini merupakan salah satu kewajiban orang tua sebelum sang anak perempuan menikah. Anak perempuan yang menikah, tapi belum melakukan Karia, akan merasa tersisih dan dikucilkan oleh lingkungan.

Upacara ini biasanya berlangsung selama empat hari empat malam, dua hari dua malam, atau sehari semalam. Lamanya waktu upacara tergantung pada status sosial keluarga dalam masyarakat. Selain itu, dapat juga didasarkan pada kesepakatan antara kaparapuuno (pihak keluarga) dengan pomantoto (ketua adat).

Karia diawali dengan mengambil air di sungai tertentu, yang kemudian disemayamkan di rumah Raja Muna terakhir, La Ode Pandone. Air ini nantinya akan digunakan oleh kalambe (gadis peserta Karia) untuk mandi dan juga berwudhu.

Pariwisata Indonesia

Selanjutnya, para kalambe akan melakukan kafoluku, yaitu dipingit atau dimasukkan dalam satu kamar khusus. Kamar bagi putri Raja disebut suo dan bagi golongan masyarakat umum disebut songi. Kafoluku merupakan simbol dari keberadaan manusia di alam arwah, sehingga kamar khusus ini tidak memiliki penerang.

Selama proses pingitan, makan, minum, dan jam tidur para kalambe diatur. Saat tidur, kalambe harus menjalankan aturan khusus yang disebut kabansule, yaitu proses perubahan posisi tidur. Pada awalnya, kalambe tidur menghadap barat dengan tubuh miring ke kanan. Selanjutnya berbalik menghadap timur dengan tubuh miring ke kiri. Kabansule merupakan simbol dari perpindahan dari alam arwah ke alam aj’san.

Selain itu, para kalambe juga diberi berbagai petuah, nasehat, dan pelajaran terkait kehidupan. Hal ini sebagai bekal untuk mengarungi rumah tangga kelak. Bagi masyarakat Muna, perempuan adalah tonggak penting yang akan melakukan pendidikan akhlak bagi keturunannya nanti.

Pariwisata Indonesia

Sebelum masa pingitan berakhir, para kalambe melakukan kalempagi yang diawali dengan dhebalengka (membuka pintu pingitan). Para kalambe akan dimandikan dan dirias dengan model kalempagi. Ritual ini bermakna proses peralihan dari remaja ke usia dewasa.

Selanjutnya para kalambe dibawa keluar menuju bhawono koruma (panggung). Ritual yang disebut kafosampu ini dilakukan menjelang magrib. Pada proses pemindahan, kalambe tidak diperbolehkan menginjak atau menyentuh tanah. Oleh karena itu, kalambe harus disoda atau dipapa oleh dua laki-laki dari lingkaran keluarga yang kedua  orang tua nya masih hidup.

 

Ritual selanjutnya yaitu katandano wite, di mana pomantoto mengambil sejumput tanah dari piring untuk disentuhkan pada bagian ubun-ubun dan dahi membentuk gambar huruf alif. Selain itu, tanah juga disentuhkan di seluruh persendian hingga telapak kaki. Ritual ini menjadi simbol pertemuan antara Adam (tanah) dengan Hawa (kalambe).

Ritual yang paling dinantikan dalam upacara Karia adalah Tari Linda. Tari yang menggunakan selendang ini dibawakan dengan gerakan lemah lembut, kontras dengan lantunan irama yang cepat dari musik pengiring. Hal ini sebagai simbol bahwa gadis remaja akan mengalami banyak cobaan dan godaan dari lingkungan.

Sang gadis tidak boleh terpengaruh pada kemaksiatan dan harus tenang serta fokus untuk dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk. Pada saat pelaksanaan tarian ini, para tamu akan melemparkan hadiah sebagai ucapan syukur dan gembira karena kalambe telah bekerja keras menuntaskan proses pingitan.

Pada keesokannya dilakukan kahapui yaitu pemotongan pisang yang telah ditanam oleh pihak keluarga. Pemotongan ini bermakna bahwa kehidupan akan silih berganti. Rangkaian upacara Karia ditutup dengan kahgorono bhansa, yaitu menghanyutkan mayang pinang yang digunakan untuk memukul kalambe di sungai. Ritual ini merupakan simbol untuk melepaskan segala etika buruk para kalambe.

Upacara Karia masih terus dilangsungkan hingga sekarang. Bahkan, upacara ini juga menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Pada tahun 2014, Karia ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Provinsi Sulawesi Tenggara.(Nita)