Eva diledek Rahma, “Hihihihi, Kakak tegas tapi sekaligus lucu dan gaul,” tawanya, spontan, sambungnya, “aku ikut Kakak!”
Pemandu itu biar gampang diumpamakan saja ‘Mursyid’, sepanjang perjalanan mendapati deretan rumah tradisional yang antara satu sama lainnya jaraknya tidak berjauhan, terbuat dari kayu, bambu, jerami serta atapnya dipenuhi ijuk.
Mursyid menjelaskan rumah yang disaksikan oleh Rahma dan Eva tak sekadar tempat tinggal yang memberikan rasa aman tapi sekaligus cerminan kepribadian atau jati diri si penghuninya, termasuk ekonomi, status sosial, dan religinya.
Sesekali rombongan berhenti. Rahma meminta Mursyid mengenalkan kepada kepala keluarga yang berada di beranda rumah itu. Aktivitas menenun dengan cara tradisional menggelitiknya untuk cari tahu sekalian foto-foto.
“Wah, Kakak tahu banget tempat-tempat buat cekrek-cekrek. Beruntung banget. Pak, fotoin kami dong,” pinta Evi kepada pemandu.
Pemandu juga menyampaikan cara berpakaian suku Baduy kepada Rahma, sebutnya, “Baduy Dalam” berwarna putih atau kadang bagian celananya saja bewarna hitam ataupun biru tua.
Warna putih, menurut penjelasan Mursyid, melambangkan kesucian dan budaya yang tidak terpengaruh dari luar. Sedangkan Baduy Luar yang menggunakan baju serba hitam atau biru tua saat melakukan aktivitas.
Jauh sebelum itu, Rahma juga melaporkan terdapat sejumlah lapak UMKM telah menerapkan transaksi digital berbasis Quick Response Indonesia Standard (QRIS) Code saat di Desa Ciboleger.
Jangan kaget, lantaran warganya berasal dari suku Baduy tak melulu ketika menjajakan pernak-pernik dan oleh-oleh khas daerah itu masih kuno, “nggak gitu-gitu juga, kok!,” terang Rahma.
Mereka sudah mengenal pembayaran digital menggunakan QR Code, saat ditanya Rahma, bertujuan untuk mendorong efisiensi transaksi.
Lanjut berjalan lagi dari Desa Ciboleger atau lapak UMKM itu, untuk menuju ke “Baduy Luar dan Baduy Dalam” sampai ke perkampungan Baduy Luarnya saja, ditempuh sekitar 2,5 jam. Akses ke dalam campuran tanah dan bebatuan. Naik turun melewati banyak sungai kecil.
Semua rumah tradisional di kawasan ini, disimpulkan Rahma terbuat dari bambu dan ijuk serta menghadap ke arah yang sama, juga terdapat lumbung milik suku Baduy.
Cerita kembali mengulang sedikit, setelah melewati lapak-lapak UMKM, pengunjung akan mendapati jembatan yang terbuat dari bambu berukuran sedang, kata Mursyid, jembatan inilah yang menjadi tanda untuk memisahkan “Baduy Luar dan Baduy Dalam”.
Melompat ke lokasi deretan rumah tadi, penataan rumah atau tata letak antara satu dengan lainnya terawat dan bersih, teratur-rapi.
Sementara, wilayah kampung “Baduy Dalam” ditempuhnya semakin lebih lama lagi dan jauh lebih sepi suasananya. Ditambah lagi, menghampar luas perbukitan yang masih hijau dan terjaga keasliannya.
Suara ayam dan kicauan burung di atas pepohonan serta menyaksikan kondisi warganya, berasa banget kehidupan perkampungan ini teramat sederhana.
Sewaktu menuju ke perkampungan Baduy Luar, gemericik air sungai juga menghadirkan suasana kebatinan yang luar biasa.
Bagi yang terpikat dan tak kuasa menahan alam yang indah itu, dijamin ingin menceburkan diri atau sekedar membasahkan kaki sambil meraup wajah dengan air sungai yang menyegarkan.
Dalam obrolannya, Mursyid berterus terang berasal dari luar perkampungan adat di sini. Selain menjelaskan usianya hampir 40 tahun, hal lain yang disampaikannya, seperti telah dikaruniai tiga orang anak dan mengenal sekali seluk beluk perkampungan ini.
Hal lain yang dijelaskannya, sudah diterangkan Mursyid secara mendetail jauh sebelum Rahma tiba di Desa Ciboleger.
Kepada redaksi, Mursyid menuturkan, jarak perjalanan harus dilewati dengan berjalan kaki dan sangat menguras tenaga.





































Leave a Reply