Ayo Bersilaturahmi ke Perkampungan Adat Suku Baduy, Nikmati Spot Alam dan Suasana Khas Pedesaan

“Jalani hidup selayaknya matahari dilihat orang atau tidak, ia tetap bersinar. Dihargai atau tidak, ia tetap menerangi,” kata Rahma melaporkan untuk pembaca www.pariwisataindonesia.id dari Desa Kanekes, menyoroti desa adat suku Baduy. Simak ulasannya berikut ini.
Kunjungan Turis Mancanegara ke Perkampungan Desa Adat Suku Baduy / Foto: Instagram ayudewibaduy

PariwisataIndonesia.ID – Yuk, liburan tapi ingat, tetap disiplin patuhi Protokol Kesehatan (Prokes). Jangan lupa pula, rencanakan liburan sedini mungin agar jalan-jalannya asik, menyenangkan dan seru.

Saat jalan-jalan, hal menarik yang dapat dinikmati bukan hanya melihat pemandangan yang indah. Belajar menjalani hidup sederhana dan mengenal keragaman budaya, juga dapat membuat perjalanan Anda jadi berkesan.

Salah satu destinasi yang dapat dikunjungi untuk hal tersebut adalah dengan meyambangi perkampungan suku Baduy yang terletak di pegunungan Kendeng di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten atau berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung.

Rahma Sari dari Media PariwisataIndonesia.ID melaporkan, untuk mengenal lebih dekat Suku Baduy, liputan dilakukan dengan terjun langsung menggunakan kendaraan umum.

Mengawali perjalanannya, dimulai dengan naik KRL (Kereta Rel Listrik) Commuterline jurusan Tanahabang Rangkasbitung.

Setibanya Rahma di Stasiun Rangkasbitung, dilanjutlan lagi menuju ke Desa Ciboleger dengan cara menyewa mobil Isuzu Elf.

Namun, saat proses tawar-menawar. Salah satu wartawan terbaik kami disapa seorang mahasiswi dari perguruan tinggi swasta di wilayah Ciputat, Tangerang bernama Eva Fauziah yang lagi terlihat bingung.

“Biasanya aku dengan pacar, Kak atau melakukannya bersama teman-teman di Kampus,” kata Eva, memulai percakapan. Tujuan akhir mereka, sama-sama menuju ke desa adat Baduy Banten.

“Ohh.. begitu.”

Kemudian, Eva dan Rahma sepakat satu mobil.

“Senang, tapi sebenarnya campur aduk sih, Kak,” curhat Eva di dalam kendaraan, meski berdekatan keduanya tetap menerapkan Prokes sejalan dengan imbauan pemerintah, yakni mengenakan masker.

“Tak mau disebut anak mama, ya?”

Eva Fauziah merespons sembari wajahnya manggut-manggut yang nekat melakukan pengembaraan seorang diri dan mengaku baru pertama kali.

Ada rasa senang tapi sekaligus bercampur grogi, (dirinya merasa bergayung sambut dan menilai Rahma seperti memberi dukungan, red), “sedikit nervous, Kak,” balas Eva.

“Nanti juga terbiasa.”

Obrolan dua wanita ini, seketika terhenti. Saking asiknya bercerita, lebih kurang dua jam perjalanan membuat waktu terasa bergerak cepat. Setelah sang sopir beri kode ‘sudah sampai’, mereka pun turun di Desa Ciboleger.

Jiwa wartawan Rahma dalam menjalankan tugas bak petarung sejati. Peralatan kerjanya, seperti tas ransel, topi rimba, pena, buku kecil dan tanda pengenal sebagai wartawan media Pariwisata Indonesia menggantung di badan, tak perlu menunggu lama, ‘siap!’

Lalu, pria berpenampilan baju khas yang kepalanya di ikat kain, dan memakai sandal gunung bergegas menghampiri Eva dan Rahma yang berdiri di muka tugu Desa Ciboleger (ciri khasnya, patung orangtua dengan dengan dua anak kecil, red).

Siapapun yang melihat penampilan Rahma pasti bisa menebak profesi dia adalah jurnalis. Pasalnya, liputan ini dilakukan memang secara terbuka. Untuk itu, perawakan Rahma harus menonjol saat di lapangan.

Pemandu mendatangi Rahma. Kemudian, terjadi dialog, “Ibu Rahma? Saya yang ditunjuk untuk memandu pesan dari kantor Ibu,” sapanya, memperkenalkan diri.

Sebelumnya, redaksi sudah lebih dulu mengonfirmasikan dengan menunjuk Rahma untuk meliput tentang kesederhanaan warga pedalaman suku Baduy yang tetap setia membentengi diri dari pengaruh dunia luar hingga saat ini.

Di sisi lain, Rahma juga diberikan tugas untuk cek lapangan terkait informasi berkenaan dengan perekaman KTP Elektronik di Cijahe, Lebak, Banten.

(Demi menjaga kerahasiaan nara sumber, nama pemandu disamarkan), berkat dia membocorkan, terkuak siapa saja pihak-pihak yang menginisiasi hal tersebut.

Antara lain Dirjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri, Dinas Dukcapil Kabupaten Lebak, dan Institut Kewarganegaraan Indonesia yang melakukan pelayanan jemput bola administrasi kependudukan itu.

Kabarnya, ditargetkan lebih dari seribuan orang asal suku Baduy yang belum memiliki kartu identitas resmi, diharapkan untuk mengikuti perekaman KTP Elektronik.

Tak cuma itu saja, pemimpin tertinggi suku Baduy (Pu’un, red) telah memberikan izin agar warganya dapat memiliki tanda identitas resmi sebagai bagian dari NKRI.

Dari semua informasi yang dikembangkan (setelah terbukti A1, red), dan berdasarkan hasil rapat dewan redaksi media PariwisataIndonesia.id, diputuskanlah, Rahma meliput perkampungan adat di Desa Kanekes yang sejak zaman kuliah, katanya paham dan mengenal kawasan ini.

Inisiasi mereka tersebut, patut diacungi jempol! Alasannya, kendala warga karena jarak yang jauh dan butuh ongkos menuju kota guna melakukan perekaman KTP Elektronik, dengan cara demikian, mudah teratasi.

Di samping itu, berguna sebagai salah satu persyaratan membuat rekening bank, sertifikat tanah, dan persyaratan administrasi negara lainnya.

Sebelum merangsek lebih mendalam susuri perkampungan tersebut, “Eva, apakah mau pisah atau ikut bareng silaturahmi ke Desa Adat Baduy?”

“Aku mau ikut Kakak, padahal baru saja kenal tapi berasa kayak kakak sendiri,” jawab Eva.

“Pujian atau nyindir? Jika tidak nyaman, jangan sungkan putuskan untuk pilih rute masing-masing. Oh, ya sudah jinak dijamin tidak menggigit. Yuk!”