Kunjungan Turis Mancanegara ke Perkampungan Desa Adat Suku Baduy / Foto: Instagram ayudewibaduy

Ayo Bersilaturahmi ke Perkampungan Adat Suku Baduy, Nikmati Spot Alam dan Suasana Khas Pedesaan

“Jalani hidup selayaknya matahari dilihat orang atau tidak, ia tetap bersinar. Dihargai atau tidak, ia tetap menerangi,” kata Rahma melaporkan untuk pembaca www.pariwisataindonesia.id dari Desa Kanekes, menyoroti desa adat suku Baduy. Simak ulasannya berikut ini.

“Jalani hidup selayaknya matahari dilihat orang atau tidak, ia tetap bersinar. Dihargai atau tidak, ia tetap menerangi,” kata Rahma melaporkan untuk pembaca www.pariwisataindonesia.id dari Desa Kanekes, menyoroti desa adat suku Baduy. Simak ulasannya berikut ini.

Oleh karena itu, siapapun yang tertarik untuk mengenal perkampungan tersebut lebih mendalam harus kuat untuk trekking. Begitu juga, soal peralatan yang dibawa, idealnya sepatu mesti nyaman, bawa jas hujan, jaket, senter, dan sleeping bag untuk digunakan saat tidur.

Masih menyoroti kenyamanan perjalanan, saran lainnya, pilih tas yang berbentuk ransel (digendong, red). Mursyid menambahkan, apalagi pas turun hujan. Alhasil, jalanan tersebut cukup licin.

Percakapan Rahma dan Mursyid mengembang ke turis mancanegara, katanya, melalui travel agen di Indonesia kerap diminta untuk bertindak sebagai tour guide.

Mengulik jalan di perkampungan itu, tidak ditemukan sampah atau kotoran dan jalannya pun hanya setapak.

Di akhir perjalanan, Rahma dan Eva menginap di salah satu rumah suku Baduy. Momen ini yang paling ditunggu-tunggu. Masak memakai tungku kayu bakar, tanpa deru mesin, tanpa listrik, tanpa gadget, dan kamar mandinya, maaf kata Rahma, harus berjalan ke sungai. Terbuka? “Iya, ampun deh.”

Ketika malam hari, gelap dan hening juga ditemai suara binatang. Di sini, kata Rahma, tak ada lampu yang menerangi rumah-rumah itu. Warga biasa menggunakan senter sebagai penerang. Mengisi waktu, Rahma dan Eva duduk-duduk di teras sambil mengobrol mengenal kebudayaan Baduy dengan warga sambil gelap-gelapan.

Silaturahmi ini menjadi tantangan seru bagi siapapun yang ingin mengenal lebih dekat perkampungan adat suku Baduy di Desa Kanekes.

Biaya untuk sewa sehari menginap? Rahma menjawabnya, “Pengunjung dapat membayar dengan harga sesuai kantong.”

Catatan akhir Rahma melaporkan, suku “Baduy Dalam” mengatur begitu ketat bagi pengunjung yang mau tinggal. Warganya tidak suka dipotret, bersih-bersih badan di sungai dilarang memakai sabun.

Laporan lainnya, terdapat pembagian tiga kampung di “Baduy Dalam” yaitu Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik.

Untuk mata pencaharian, umumnya berladang sayur-sayuran, buah-buahan hingga tanaman keras tapi tidak semuanya berprofesi seperti itu, hanya saja, secara umum, kata Rahma, “iya!”

Dari pantauannya selama dua hari tinggal di perkampungan tersebut, sejak Sabtu-Minggu (9-10/11), tidak sedikit warga Baduy menjual hasil pertanian di Pasar Rangkasbitung, seperti durian, manggis, daun sereh, petai, nangka, pisang dan padi huma.

Meski begitu, ada pula mereka yang menjadi kuli panggul, membuat gula merah, berburu di hutan untuk mencari madu dan perburuan hewan buat dimakan.

Kemudian, untuk percakapan mereka sehari-hari, komunikasinya menggunakan Bahasa Sunda. Tidak mengenal pendidikan formal. Sekolah, dianggapnya berlawanan dengan adat-istiadat jadi catatan penutup yang dilaporkan oleh Rahma dari desa tersebut.

Eva Fauziah, mengisahkan jalan-jalan ke perkampungan desa adat suku Baduy, menambah pengalaman dan jadi pengetahuan baru.

“Mereka masih sangat menjaga tradisi dan kebudayaan leluhurnya, meskipun ada beberapa hal yang sudah modernisasi,” kenang Eva Fauziah.

Menyambangi kampung suku Baduy cocok bagi Anda yang menginginkan wisata alam dan budaya.

Bonus lainnya banyak sekali, dari keramahan masyarakat setempat dan kesederhanaan warga suku Baduy yang menetap di kawasan yang berada di Provinsi Banten jadi perenungan agar tak memiliki sifat sombong.

Sebab, orang yang berjiwa rendah hati cenderung tak selalu menganggap dirinya lebih baik dari orang lain.

Di akhir tulisan, Rahma meyakini, sifat selalu ingin tampak lebih dari orang lain mendorong seseorang untuk selalu ingin mendapat pujian dan perhatian.

Satu untaian mutiara disematkan Rahma Sari di penghujung artikelnya.

“Jalani hidup selayaknya matahari dilihat orang atau tidak, ia tetap bersinar. Dihargai atau tidak, ia tetap menerangi.”

Rahma melaporkan untuk pembaca www.pariwisataindonesia.id dari Desa Kanekes, dan perkampungan desa adat ini tidak harus merogoh kocek dalam hingga berjuta-juta. Tertarik?  (Eh/Rs)