Bedhaya Sapta, Ciptaan Sultan HB IX

Tarian khas Jogja, yang diciptakan langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Foto: instagram @kratonjogja

Yogyakarta yang hingga saat ini dikenal dengan kekayaan nilai budayanya yang mendunia ini memang memiliki daya tarik tersendiri di bidang kesenian, terutama dalam menarik wisatawan. Yogyakarta menjadikan pertunjukan kesenian sebagai atraksi utama dalam perjalanan wisata di Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Salah satunya adalah tarian Bedhaya Sapto

Tari bedhaya sapto ini merupakan tarian yang menceritakan tentang perjalanan utusan Sultan Agung pada masa itu untuk menuju Batavia, Pada masa itu Batavia dikuasai oleh J.P. Coen. Dalam tarian ini dua orang utusan Sultan Agung ditampilkan berusaha sekuat tenaga dalam menghadapi segal macam rintangan yang menghadang.

Foto: bahasabudaya.com

Tarian bedhaya sapto diciptakan langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan jumlah penari sebanyak tujuh orang,di mana penari bedhaya biasanya berjumlah sembilan orang. Dari akun Instagram Kraton Jogja, Bedhaya Sapta secara umum dibawakan dalam beberapa ragam gerak, antara lain: gudhawa asta minggah, mlampah semang, impang encot, gajah ngoling, impang majeng, nggrudha, bangomate, dan puspita kamarutan.

Foto: instagram @kratonjogja

Bedhaya Sapta memiliki pola lantai yang berbeda dari bedhaya pada umumnya karena langsung dipaparkan dalam pola lantai dan pesindhenan sejak awal gendhing. Peran-peran penari seperti endhel, batak dan sebagainya yang biasa terdapat dalam bedhaya tidak berlaku dalam Bedhaya Sapta. Penyebutannya diganti dengan penari 1, 2, 3, 4, 5 serta a dan b.

Foto: instagram @kratonjogja

Sementara, kemiripan Bedhaya Sapta dan bedhaya yang dibawakan sembilan penari terletak pada pola rakit lajur, rakit ajeng-ajengan atau rakit gelar. Pola garis diagonal merupakan kekhasan yang hanya dimiliki Bedhaya Sapta.