Kalau beruntung, bahagianya tiada tara. Pasalnya, ditemani Kepala Suku berkeliling sambil dikenalkan kebudayaan suku Dayak. Sesudah itu, Sobat Pariwisata berkesempatan berswafoto dengan orang paling berpengaruh di Desa Budaya Pampang. Ini baru jos banget, Sob!
Untuk keramah tamahan dan sopan santun, tak usah ditanya-tanya lagi. Wisatawan yang datang dibuatnya bak Sultan dan Ratu, ini beneran Sob!
Di sini tersedia juga jasa sewa baju tradisional khas suku Dayak, seperti sarung, kalung, tombak, baju sapai, topi tampung hingga kalung dan masih banyak lagi item-item lainnya. Semi komplit, merogoh kocek 50-75ribu per orang. Mau yang komplit busananya? Harga beda lagi.
Seusai membayar jasanya, lekaslah berganti kostum dan berkeliling untuk berburu spot-spot foto sesuai selera. Tralala, Anda sudah mirip keseharian mereka. Rasakan sensasi saat mengenakan busana tradisional khasnya suku Dayak. Buruan, unggah ke media sosial. Nantikan, komen-komen dari netizen. Mantap, Sob!
Selain itu, terdapat pula perempuan yang usianya mendekati uzur tapi uniknya, puluhan ibu di sini, maaf, telinganya memanjang. Tradisi yang mengerikan dan tak lazim disebutnya “telingaan aruu” adalah memanjangkan telinga.
Mengulik kisahnya, telinga panjang simbol kecantikan dan kebangsawanan.
Namun, stigma kecantikan “seorang wanita Dayak bukan dinilai dari wajah, perlahan mulai pupus” penyebab kepunahan kebudayaan tersebut “dikarenakan” generasi mudanya tak mau meneruskan tradisi telingaan aruu.
Oh, ya. Jangan heran menemukan banyak pria di sini penuh tato. Sekujur tubuh dan kaki dipenuhi gambar. Ada yang bermotif tanaman dan hewan. Ada juga yang tatonya mirip orang dan tulisan. Tato khas Dayak ini paling digandrungi turis mancanegara dan sudah mendunia.
Meski tatoan, mereka tidak “segahar” yang dibayangkan dan tato yang semakin beragam menunjukkan status sosial. Keunikan ini bergenerasi sejak leluhurnya. Tradisi tato memang melegenda dan berlanjut sampai sekarang.
Bagi Sobat Pariwisata yang ingin mengenal lebih mendalam Desa Budaya Pampang, interaksi serius ini perlu merogoh kocek. Nilainya sebesar Rp15 ribu dan dibayarkan pertama kali saat membeli tiket masuk.

Penggunaan kamera untuk mengabadikan momen pariwisata berbasis budaya dikenakan biaya Rp50 ribu per satu kamera. Untuk kamera kedua, dan seterusnya dipukul rata Rp25 ribu. Bila ingin berswafoto dengan penduduk setempat, jangan lupa untuk siapkan tips ya!
Setelah menikmati objek wisata berbasis budaya di Desa Budaya Pampang, jangan lupa mampir membeli oleh oleh khas suku Dayak sebagai souvenir untuk dibagikan kepada keluarga, teman-teman maupun kerabat, termasuk berburu kuliner khas Kota Samarinda.
Diberitahukan, berwisata ke Desa Budaya Pampang untuk bus besar, dan mobil-mobil travel tidak dapat masuk sampai ke lokasi tujuan, hanya bisa untuk motor. Kendaraan berukuran besar dan sedang, silahkan parkir di depan gapura.
Tak perlu sampai ke pelosok Kalimantan untuk mengenal lebih dekat suku Dayak pedalaman. Dari Desa Budaya Pampang, Sobat Pariwisata disuguhkan dalam satu kunjungan.
Walaupun kelompok minoritas, masyarakatnya bisa hidup berdampingan secara rukun dan damai tetap menjaga nilai-nilai toleransi. Mereka mau berbaur dan beramah tamah dengan masyarakat lainnya.
Banyaknya Pulau-pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke melahirkan keragaman budaya Indonesia yang begitu kaya. Inilah Kebhinnekaan dan manifestasi dari warisan leluhur, sekaligus mengenal tarian daerah, lagu daerah, rumah adat hingga pakaian adat.
Mengenalkan budaya Indonesia sejak dini, di era globalisasi seperti sekarang, cara efektif untuk tangkal perilaku yang kurang pantas ditiru anak cucu kita kelak. Tanah Air ini mempunyai norma-norma ketimuran. Kebudayaan melekat sebagai jati diri bangsa.
Kalau bukan generasi mudanya mencintai kebudayaan, kesenian dan tarian negerinya sendiri, lalu siapa lagi yang akan mewarisi semua ini kelak?
Indonesia masih membutuhkan banyak perbaikan dalam mengembangkan potensi pariwisata berbasis budaya. Bangsa yang besar, bangsa yang harus bisa menghargai warisan nenek moyangnya sendiri.
Syukurlah, Sandiaga Salahuddin Uno di awal masa jabatannya sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, telah memastikan akan mengembangkan pariwisata berbasis budaya.
Menteri Sandiaga Uno menilai potensi pariwisata ini bakal berkembang secara cepat dan masif. Sekaligus, menyejahterakan rakyat karena membuka lapangan kerja serta meningkatkan penghasilan masyarakat di sekitarnya, sambungnya, terjadi keberlanjutan ekonomi. Kala itu, pengusaha nasional ini optimis menawarkan konsep quality tourism.
Ayo berlibur di #indonesiasaja dan wisata ke Desa Budaya Pampang adalah salah satu objek #pariwisataberbasisbudaya yang bisa menaikkan “imun” rasa cinta Tanah Air. Pastikan menerapkan protokol kesehatan dan sudah divaksin.
Jangan lupa untuk membagikan momen kebahagiaan Sobat Pariwisata Indonesia saat berlibur di Desa Budaya Pampang di media sosial, kemudian “mention” dan “tag” ke #parwisataindonesiaofficial, Sob! (Eh)





































Leave a Reply