Prasasti Batutulis, Tulisan Masa Lalu yang Terabaikan

Prasasti Batu Tulis

Berbicara tentang sejarah Indonesia, tentu tidak lepas dari sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara. Salah satu kerajaan Hindu yang pernah ada di pulau Jawa adalah Kerajaan Galuh Pakuan atau Kerajaan Pakuan Pajajaran atau Kerajaan Pajajaran. Letaknya yang berada di Pakuan, Kota Bogor, membuat kerajaan ini memiliki tempat tersendiri di hati warga kota hujan. Menjadi bagian sejarah yang tak terpisahkan dari Kota Bogor.

Unggahan Video Ig dari netizen@falling_word, menggambarkan jelas Prasasti Batutulis.

https://www.instagram.com/p/Bm7o-YSgcIA/

Banyak benda sejarah yang membuktikan keberadaan ibu kota Pajajaran. Salah satunya, Prasasti Batutulis. Prasasti ini terletak di Jalan Batutulis, Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Prasasti yang sejak ditemukan hingga saat ini, masih berada di lokasi aslinya, dan Kompleks Prasasti Batutulis cuma memiliki luas 17 x 15 meter. 

Prasasti dari bahan batu terasit dibuat oleh Prabu Surawisesa, Raja Pajajaran yang telah berkuasa dari tahun 1521 hingga 1535 M. Dibuat untuk mengenang kejayaan sang ayah, bernama Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi (1482-1521M). Prasasti yang dibuat pada 1455 tahun saka atau 1533 masehi, masih tersimpan dalam sebuah bangunan yang berada di kompleks situs tersebut.

Buat kamu yang kunjungi Prasasti Batutulis, mendapati di samping prasasti, terdapat sebuah batu lingga berukuran hampir sama tinggi. Batu lingga dipercaya sebagai perwujudan sang ayah, Prabu Siliwangi. Sementara Prasasti Batutulis adalah perwujudan Prabu Surawisesa yang bertahta setelahnya.

Dan di dekat Prasasti Batutulis juga terdapat tiga buah batu berbentuk ukiran jejak tangan, jejak kaki, dan jejak lutut. Tampak ilustrasi foto dari instagram@adamfawara1, memposting Bima Arya, Wali Kota Bogor saat silaturahmi dengan warga Kota Bogor menjelaskan sejarah singkat Prasasti Batutulis.

Setelah 12 tahun kematian sang ayah, Prabu Surawisesa memandang perlu untuk menyebutkan karya-karya besar sang ayah dalam menjalankan roda pemerintahan Kerajaan Sunda. Upaya peringati itu dibuatlah sakakala.

Isi sasakala: “Wangna pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana di wastu diya wingaran sri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran seri sang ratu dewata pun ya nu nyusuk na pakwan diva anak rahyang dewa niskala sa(ng) sida mokta dimguna tiga i(n) cu rahyang niskala-niskala wastu ka(n) cana sa(ng) sida mokta ka nusalarang ya siya ni nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sa(ng)h yang talaga rena mahawijaya, ya siya, o o i saka, panca pandawa e(m) ban bumi”

Terjemahan: “Semoga selamat. Inilah tanda peringatan (untuk) Prabu Ratu almarhum, dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) di Pakuan. Dia anak Rahyang Dewa Niskala yang mendiang di Gunatiga, cucu Rahyang Niskala Wastu Kancana yang mendiang di Nusa Larang. Dialah yang membuat tanda peringatan gunung-gunungan, mengeraskan (jalan) dengan batu, membuat hutan samida, membuat Sanghiyang Talaga Rena Maha Wijaya. Ya dialah (yang membuat semua itu). (ditulis) Dalam tahun Saka lima-pandawa-pangasuh-bumi.”

Konon, hutan samida yang dimaksud dalam prasasti adalah Kebun Raya Bogor. Sebuah hutan buatan yang sengaja dibuat oleh pemimpin terbesar Kerajaan Pajajaran tersebut. Jika memang benar demikian, maka Kebun Raya Bogor bisa menjadi kebun raya tertua di dunia, mengalahkan Orto Botanica di Padova, Italia. Namun, masih perlu penelusuran dan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan.

Netizen@anisridwanmilan, memposting semua yang ditemui di dalam Prasasti Batutulis. Ada apa aja, yuk lihat jepretan foto-fotonya.

https://www.instagram.com/p/B6dH6HzFeID/

Berdasarkan cerita, prasasti yang memiliki tinggi 151 cm dan lebar 145 cm itu, ditulis dalam suasana pilu sebagai ungkapan penyesalan Prabu Surawisesa karena tidak sanggup menahan gempuran dari Kesultanan Cirebon yang mengakibatkan lepasnya beberapa wilayah Kerajaan Pajajaran. 

Bila ditelisik, terlihat jelas Surawisesa sendiri tidak mencantumkan namanya di prasasti. Ia cuma memvisualkan dalam bentuk diorama berbentuk dua buah batu di depannya. Pertama, astatala berbentuk jejak tangan dan berikutnya padatala, mirip seperti jejak kaki. Dalam banyak sejarah menyebutkan peletakan batu tulis bertepatan upacara srada yaitu ‘penyempurnaan Sukma’ yang konon, jadi tradisi setelah 12 tahun wafatnya seorang raja. Filosofinya, sukma sang raja dianggap telah lepas dari dunia.

Dalam cerita lain, lokasi Prasasti Batutulis adalah tempat yang dipakai sebagai podium penobatan raja-raja di Kerajaan Pajajaran. Terlepas dari kisah mana yang paling mendekati kebenaran, Prasasti Batutulis adalah salah satu peninggalan sejarah yang tak ternilai harganya. Sayangnya, tidak banyak pengunjung yang datang ke situs sejarah yang buka dari pukul 8 pagi hingga 4 sore. Padahal untuk memasuki situs ini, pengunjung tidak harus membeli tiket masuk. 

Wali Kota Bogor, Bima Arya dalam Video IG memposting, agar mari melestarikan sejarah dan budaya Nusantara. ‘Semoga bukan pencitraan, mohon dilanjutkan kembali Pak Wali Kota Bogor!’

Yuk, Sobat Pariwisata, kita berkunjung ke Situs Prasasti Batutulis, dan susuri jejak-jejak salah satu Kerajaan Hindu di Nusantara.