Ani Idrus, Wartawati Senior Indonesia

ani idrus

Pariwisata Indonesia—Hai Gaaees!

Google doodle hari ini menampilkan gambar sosok perempuan berlatar belakang lembaran koran. Siapa dia ? Kamu ada yang tau?

Ternyata gaaees, google sedang ingin menjelaskan profil tokoh pers bernama Ani Idrus. Sekarang paham ya, mengapa google melekatkan dan menempatkannya dalam mesin pencarian.

ani idrus

Menurut Wikipedia, Ani Idrus (lahir di Sawahlunto, Sumatra Barat, 25 November 1918 – meninggal di Medan, Sumatra Utara, 9 Januari 1999 pada umur 80 tahun) adalah seorang wartawati senior yang mendirikan Harian Waspada bersama suaminya H. Mohamad Said pada tahun 1947. Ani Idrus dimakamkan di Pemakaman Umum Jalan Thamrin, Medan. Terakhir ia menjabat Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Waspada dan Majalah Dunia Wanita di Medan. Google memperingati hari kelahiran Tokoh Pers wanita dengan menampilkannya di Google Doodle, Senin (25/11/2019).

ani idrus

Nahhh gaaeees, selain berkecimpung dalam dunia jurnalistik beliau mendirikan dan memimpin lembaga pendidikan yang bernaung dalam Yayasan Pendidikan Ani Idrus. Pada akhir hayatnya, juga menjabat Ketua Umum Sekolah Sepak Bola WASPADA, Medan, Direktur PT. Prakarsa Abadi Press, Medan, dan Ketua Yayasan Asma Cabang Sumatra Utara.

Waahh, hebat kan gaaeess. Luarbiasa sekali gaaaees, profil beliau sangat inspiratif dan wajib banget untuk harus kalian tahu. “Nahh,,,,, coba tebak dong beliau melahirkan karya tulis apa saja?, Betul sekali gaaees !” Hasil karya tulis beliau adalah :

Buku Tahunan Wanita – 1953
Menunaikan Ibadah Haji ke Tanah Suci – 1974
Wanita Dulu Sekarang dan Esok – 1980
Terbunuhnya Indira Gandhi – 1984
Sekilas Pengalaman dalam Pers dan Organisasi PWI di Sumatra Utara – 1985
Doa Utama dalam Islam – 1987

“Tak kenal maka tidak sayang”, peribahasa gaaeess. “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” atau disingkat Jasmerah adalah semboyan yang terkenal yang diucapkan oleh Soekarno, dalam pidatonya yang terakhir pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966.

Pendidikan

Pendidikan dimulai dari bangku Sekolah dasar di Sawahlunto. Kemudian melanjut ke sekolah madrasah dan mengaji di surau. Selanjutnya, tahun 1928 ia pindah ke Medan, melanjut di Sekolah madrasah di Jalan Antara Ujung, Medan. Setelah itu masuk Methodist English School, Meisjeskop School, Schakel School, Mulo (Taman Siswa) & SMA sederajat.

Kemudian tahun 1962-1965 menjadi mahasiswa pada fakultas hukum UISU Medan. Tahun 1975 sebagai mahasiswa fisipol di UISU, serta 19 Juli 1990 menyelesaikan ujian meja hijau dalam rangka memperoleh gelar doctoranda untuk jurusan ilmu sosial politik UISU.


Karier

Ia memulai profesi sebagai wartawan tahun 1930 dengan mulai menulis di majalah Panji Pustaka Jakarta. Kemudian, tahun 1936 bekerja pada Sinar Deli Medan sebagai pembantu pada majalah Politik Penyedar. Selanjutnya, tahun 1938 ia menerbitkan majalah politik Seruan Kita bersama-sama H. Moh. Said dan 1947 menerbitkan Harian Waspada juga bersama H. Moh. Said. Dua tahun kemudian, 1949, menerbitkan majalah ‘Dunia Wanita’.

Ia menjabat Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Umum Nasional ‘Waspada’, Majalah ‘Dunia Wanita’ dan edisi Koran Masuk Desa (KMD, dan Koran Masuk Sekolah) sejak tahun 1969 sampai 1999. Pada tahun 1988 ia menerima anugrah ‘Satya Penegak Pers Pancasila dari Menteri Penerangan R.I. (H. Harmoko), di Jakarta, dimana hanya diberikan pada 12 tokoh pers nasional. Selain itu, tahun 1990, ia juga menerima penghargaan dari Menteri Penerangan R.I. sebagai wartawan yang masih aktif mengabdikan diri di atas 70 thn di Ujung Pandang. Pada tahun 1990 ia menyampaikan makalah pada seminar Peranan Surat Kabar Sebagai Pers Pembangunan di Daerah yang di selenggarakan oleh FISIPOL UISU dan diikuti mahasiswa/i dari berbagai perguruan tinggi, dengan pembanding malah Bapak H. Yoesoef Sou’yb.

Sebagai wartawati senior, ia juga ikut mendirikan dan membina organisasi PWI. Tahun 1951 turut mendirikan organisasi P.W.I. Medan, dan menjadi pengurus. Tahun 1953-1963, berturut-turut menjabat sebagai Ketua PWI Kring Medan. Tahun 1959 mendirikan ‘Yayasan Balai Wartawan’ Cabang Medan, dan dipilih sebagai Ketua, selanjutnya mendirikan ‘Yayasan Akademi Pers Indonesia’ (A.P.I.) dan menjabat sebagai Wakil Ketua.

Tahun 1959 ia mendapat penghargaan dari PWI Cabang Sumut/Medan di Grand Hotel, karena telah berkecimpung dalam dunia pers selama kurang lebih 25 tahun. Ia mengambil alih kepemimpinan di Harian Waspada Medan tahun 1969 setelah H. Moh. Said mengundurkan diri.

aini idrus

ani idrus

Pada 1979 ia menerima piagam Pembina Penataran Tingkat Nasional dari BP7 Jakarta. Kemudian, tahun 1984, bersamaan dengan hari Pers Nasional menjadi anggota KPB (Kantor Perwakilan Bersama) di Jakarta dari tujuh Surat kabar terbesar di daerah.

Ia banyak melakukan perjalanan Jurnalistik ke Luar Negeri. Tahun 1953 ia mengunjungi Jepang sebagai wartawan Waspada bersama rombongan missi dagang ‘Fact Finding’ Pemerintah R.I. yang diketuai oleh Dr Sudarsono untuk merundingkan pembayaran Pampasan Perang. Tahun 1954 mengunjungi Republik Rakyat Tiongkok.

Tahun berikutnya, 1955 mengunjungi Belanda, Belgia, Prancis,Italia meliputi perundingan Tunku Abdul Rahman dengan Ching Peng, pimpinan Komunis Malaya, di Baling Malaysia. Tahun 1956 mengunjungi Amerika Serikat, Mesir, Turki, Jepang, Hongkong, dan Thailand. Kemudian, tahun 1961 dan 1962 mengunjungi Inggris dan Jerman Barat serta Paris. Lalu tahun 1963 mengikuti rombongan Menteri Luar Negeri Subandrio ke Manila, Filipina dan mengikuti perjalan Presiden R.I. ke Irian Jaya dalam rangka penyerahan Irian Barat kepangkuan Republik Indonesia. Selanjutnya, tahun 1976 mengikuti rombongan Adam Malik menghadiri KTT Non-Blok di Srilangka.

ani idrus

Ia juga mempunyai banyak pengalaman di bidang politik. Tahun 1934 ia memasuki organisasi ‘Indonesia Muda’, wadah perjuangan pergerakan pemuda, dan pernah duduk sebagai Wakil Ketua. Tahun 1937 menjadi anggota partai ‘Gerakan Rakyat Indonesia’ (GERINDO) di Medan. Kemudianj 1949, menjadi anggota ‘Partai Nasional Indonesia’ (PNI), beberapa kali menjabat sebagai Ketua Penerangan, dan pernah menjadi anggota Pleno Pusat PNI di Jakarta.

Ia juga menghadiri Kongres Wanita Pertama di Jogya. Lalu, tahun 1950, ia mendirikan ‘Front Wanita Sumatra Utara’ menjabat sebagai Ketua. Kemudian menjabat Ketua Keuangan Kongres Rakyat seluruh Sumatra Utara, menuntut pembubaran Negara Bagian ‘Negara Sumatra Timur’ (NST). Selanjutnya menjadi anggota Angkatan-45 tingkat Pusat Jakarta. Ia juga mendirikan ‘Wanita Marhaeinis’ dan menjadi C.P. (Komisaris Provinsi) ‘Wanita Demokrat’.

ani idrus

1960-1967 ia menjadi anggota DPRGR Tingkat-I Provinsi Sumatra Utara dari Golongan Wanita. Tahun 1961 menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jendral ‘Front Nasional Sumatra Utara’ yang dibentuk Pemerintah R.I. Tahun 1967-1970 menjadi anggota DPRGR Tingkat-I Sumatra Utara untuk Golongan Karya (Wartawan). Selanjutnya, 1984 diangkat sebagai Penasehat ‘Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia’. Selain menggumuli dunia jurnalistik dan politik, ia juga berkecimpung dalam dunia pendidikan. Tahun 1953 mendirikan ‘Taman Indria’ berlokasi di Jl. S.M. Raja 84, Medan khusus untuk Balai Penitipan Anak, Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar.

Pada tahun itu juga sempat mendirikan Bank Pasar Wanita selama dua tahun berkantor di Pusat Pasar 125, Medan. Tahun 1960 mendirikan ‘Yayasan Pendidikan Democratic’ di Medan dengan tujuan mengembangkan dunia pendidikan dengan mendirikan: Democratic English School di Jl. S.M. Raja 195, Medan (kemudian dibubarkan karena adanya larangan sekolah berbahasa asing).

Kemudian ia mendirikan S.D. Swasta ‘Katlia’, di Jl. S.M. Raja 84, Medan. S.D. ‘Katlia’ ini kemudian menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi ‘Pembangunan’. Tahun 1978 mendirikan ‘Yayasan Pendidikan Democratic’ dengan membuka: – T.K., SD, SMP ‘Perguruan Eria’ di Jl. S.M. Raja 195. Selanjutnya, 1984 mendirikan Sekolah Pendidikan Agama Islam setingkat S.D. yaitu Madrasah Ibtidaiyah ‘Rohaniah’ di Jl. Selamat Ujung Simpang Limun, serta membangun masjid disampingnya. Kemudian, 1987 mendirikan ‘Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan’ (STIKP) dan mendirikan ‘Kursus Komputer Komunikasi’ (K-3) di Gedung Kampus STIKP.

ani idrus

Nah gaaees kalau kita rangkum, deretan history maka sugudang karya ditelurkan beliau dan tinta emasnya menorehkan sungguh banyak kemuliaan, bahwa : Ani menekuni dunia pers sejak usia muda. Perhatiannya terhadap kegiatan mengarang telah dimulai saat bersekolah di Meisjeskopschool Medan ketika berusia 12 tahun. Setelah selesai bersekolah di Meisjeskoschool, Ani Idrus melanjutkan ke Schakel Schol Taan Siswa. Dia pun aktif mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah. Selain itu, Ani juga memiliki perhatian yang begitu besar terhadap masalah-masalah kemasyarakatan dan politik.

Di zaman kolonial Belanda, untuk menjadi seorang wartawan tidak gampang. Membutuhkan keberanian menerima perlakuan-perlakuan pemerintah kolonial Belanda yang senantiasa berusaha memadamkan semangat perjuangan kebangsaan. Ani Idrus memulai karir sebagai wartawan pada tahun 1930 dengan mulai menulis di majalah “Panji Pustaka” Jakarta. Dan pada tahun 1936 bekerja di “Sinar Deli” Medan sebagai pembantu pada majalah “Politik Penyedar”. ani idrus

Pada tahun 1938 beliau menerbitkan majalah politik “Seruan Kita” bersama-sama H. Mohammad Said dan selanjutnya di tahun 1947 menerbitkan “Harian Waspada” juga bersama H. Mohammad Said. Dua tahun kemudian, 1949, menerbitkan majalah “Dunia Wanita”. Selain pengalamannya di bidang wartawan, dia juga mempunyai pengalaman di bidan politik. Pada tahun 1934, dia memasuki organisasi “Indonesia Muda”, di mana organisasi itu merupakan wadah perjuangan pergerakan pemuda, dan dia pernah duduk sebagai wakil ketua. Pada tahun 1937 menjadi aggota partai “Gerakan Rakyat Indonesia” (GERINDO) di Medan. Kemudian pada tahun 1949, menjadi anggota “Partai Nasional Indonesia (PNI), beberapa kali menjabat sebagai Ketua Penerangan,dan pernah menjadi anggota Pleno Pusat PNI di Jakarta.