Silakan datang mencicipi makanannya dan langsung membuktikan sendiri menu-menunya yang sungguh asyik.
Soal rasa? Dijamin bikin ngeces, mantap dan maknyus. Nampol abis!
Awak redaksi PariwisataIndonesia.id berhasil mewawancarai Devi Natalia yang akrab disapa “Devi” adalah salah satu dari pedagang yang berjualan di kawasan tersebut.
Devi menceritakan kepada Alex saat di penghujung malam, bahwa salah satu kedai lainnya juga terdapat di Blok M Square. Untuk yang berada di Jalan Kramat, kedainya itu bernama Nasi Kapau Raya 13.
Sebelum pandemic, kawasan ini ketika bulan puasa selalu ramai dikunjungi pembeli. Sehingga, meja dan bangku umumnya, ‘full.’
Oleh karena itu, jangan heran bila pengunjung tidak kebagian tempat. Menurut Devi, pembeli di sini rela sabar dan mau antre hanya untuk makan di kiosnya.
Padahal, Nasi Kapau miliknya terletak di pinggiran jalan. Bahkan, menjorok ke trotoar. Kendati demikian, Devi tidak sendiri. Sebab, pola ruang yang tersedia di sini memang tampak seperti berbagi antara pejalan kaki dan penjual Nasi Kapau.
Saat sekarang, semua bisnis tengah terpukul. Kiosnya pun ikut termasuk di dalamnya yakni mengalami hal serupa dampak dari wabah Corona.
Menurut Devi, pembeli yang datang ke Nasi Kapau Raya 13 setiap harinya selalu ada.
“Memang ada pembeli, tapi tak seperti dulu yang selalu ramai,” kata Devi kepada media Pariwisata Indonesia, pada Jumat (13/11) malam.
Mengapa selalu diminati dan tak pernah lengang kedainya? Dijawabnya, ia fokus dan konsisten dalam menjaga kulitas makanan. Ditambah, lokasinya terbilang strategis.
Devi juga mengungkapkan, bahwa pengelola kedai di sini ada yang telah dikelola oleh generasi ketiga. Sementara Devi sendiri adalah generasi kedua.

Bila diperhatikan lokasinya secara seksama. Maka, Nasi Kapau milik Devi berada di depan Panti Asuhan Muslimin sisi yang kanan.
Devi juga membilangkan bahwa kios ini milik mertuanya, dan sudah berjualan sejak tahun 1978.
Dikisahkannya, kondisi dulu saat memulai jualan sungguh menyedihkan. Lebih lanjut, katanya, tidak seperti sekarang.
Alasannya, pertama, kerap bongkar pasang alias buka tutup. Kedua, gerobaknya terpaksa dibawa lagi usai berjualan. Malahan, semakin parah sewaktu turun hujan.
Devi menambahkan, “sudah begitu pembelinya bisa dihitung jari saking sepi,” ujarnya, ia menceritakan masa lalu bisnis ini sewaktu merintis dan bila hujan deras yang turun disertai dengan angin kencang. Maka, berpengaruh pula kepada omzet penjualan, hal tersebut menjadi alasan ketiganya.
“Ibu bersama ayah mertua kala itu benar-benar berjuang sekali, begitu banget kerasnya mencari rezeki untuk hidup di ibu kota,” curhatnya, menambahkan.
Bersambung ke halaman berikutnya
Itulah sepenggal kisah mereka .. “





































Leave a Reply