Franciscus Welirang, Pengusaha Jangan Merengek!

Pariwisata Indonesia—Hai Gaaees!

Sejumlah kebijakan mewarnai hubungan industrial di negeri ini sejak pertengahan tahun lalu. Mulai dari kenaikan harga bahan bakar minyak, tarif dasar listrik, sampai naiknya upah minimum provinsi. Bagi Franciscus Welirang, ini keniscayaan yang harus dihadapi setiap pengusaha.

“Kalau untuk pengusaha, lupakan saja. Sudah pasti harga BBM untuk industri mengikuti harga pasaran dunia. Nah, sisanya untuk logistik. Kalau dikenakan harga mahal, tantangan perbaikan dari sudut logistik adalah bagaimana cara memperbaiki efisiensi,” katanya.

Krisis ekonomi yang tengah melanda negara-negara Eropa dan Amerika Serikat pun dianggapnya tidak berpengaruh banyak terhadap iklim investasi di Indonesia. Ini karena Indonesia, dinilainya, masih mampu mengalihkannya ke negara-negara Asia, Afrika, maupun Timur Tengah.

Franciscus Welirang menyampaikan sejumlah pandangannya sehubungan dengan perekonomian dan iklim investasi di Tanah Air. Berikut petikannya:

Bagaimana peluang dan tantangan perekonomian Indonesia ke depan?

Sebetulnya, ekonomi Indonesia bagaikan wanita cantik. Pertumbuhan ekonominya bagus dan punya potensi. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki segala kekurangan dan kelebihan demokrasi. Ini  menjadi gambaran suatu kondisi stabil yang jauh memiliki potensi lebih baik. Terlepas dari itu, ekonomi Indonesia masih memiliki dampak di Eropa maupun Amerika. Namun, dampak secara langsung bagi ekonomi Indonesia masih sangat kecil karena nilai utang kita masih kecil di Eropa.

franciscus welirang

Indonesia bisa saja lebih menggerakkan, mengalihkan, atau mendiversifikasikan partner dagangnya. Di tren itu, sejak dulu Indonesia sudah mempersiapkan peluang pada partner dagang di Afrika dan Timur Tengah. Itu sudah dijalankan. Tinggal melihat seberapa efektif partner dagang tersebut. Menurut saya itu merupakan kunci yang berarti.

Apakah masalah politik pada tahun ini akan memengaruhi ekonomi Indonesia?

Kalau kita berbicara itu, apakah ada pemilu dan proses dua tahun ini, makin hari makin pekat politik Indonesia. Selama politik dan ekonomi dipasangkan, maka akan beriringan. Selama politik berjalan, ekonomi tidak akan mandek. Pengusaha besar, menengah, dan kecil tidak akan mandek. Apalagi, peluang pengusaha kecil justru jauh lebih besar karena ada dana-dana politik. Tinggal sektor-sektor yang menjadi pilihan itu tergantung dari usaha masing-masing pengusaha. Tidak semua sektor membawa keuntungan, tetapi pasti di antara sektor itu mempunyai kelebihannya masing-masing.

Sektor mana saja yang memiliki peluang di tahun ini?

Saya berbicara kalau kenaikan upah minimum propinsi (UMP) sudah berlaku. UMP apa pun, apakah hari ini atau tahun depan, pasti ujung-ujungnya naik juga. Dengan adanya UMP itu, tidak berarti bahwa ekonomi akan mati. Karena itu daya beli naik, ada perusahaan yang mungkin pindah atau mungkin juga tutup. Kalau daya beli tersebut lari ke sektor ponsel, hanguslah. Kalau larinya ke sektor yang bermanfaat bagi mereka, maka akan berdampak baik bagi mereka, misalnya menjadi pengusaha untuk mengubah nasib dia. Yang jelas, usaha makanan akan berjalan terus. Ini karena usaha makanan merupakan consumer goods.

Kalau tarif dasar listrik (TDL) naik, saya rasa wajar-wajar saja. Misal, ketika naik 15 persen, TDL tersebut tidak mungkin langsung naik 15 persen, tetapi pasti naik bertahap tiap kuartal. Tinggal bagaimana perilaku si industriawan tersebut. Kalau mereka masih boros terhadap listrik, ya akan menjadi beban.

Semua itu tergantung dari efisiensi pengusahanya. Jadi, pengusaha jangan merengek karena tidak ada gunanya. Saya pun orang yang mendukung listrik antisubsidi. Kalau subsidi BBM, menurut saya, lebih baik dialihkan untuk mempertahankan pertanian karena akan lebih produktif, akan ada pemasukan dana yang lebih besar ke negara. Sudah pasti harga BBM untuk industri mengikuti harga pasaran dunia. Nah, sisanya untuk logistik. Kalau dikenakan harga mahal, tantangan perbaikan dari sudut logistik adalah bagaimana cara memperbaiki efisiensi. Maka dari itu semuanya harus melakukan hemat energi.

Apakah ekonomi Indonesia mampu bersaing di dunia?

Ekonomi kita itu resilience-nya kuat. Kelihatannya, respons lebih bagus ketimbang ketahanan ekonomi. Maka dari itu, resilience kita mampu membuat ekonomi lebih fleksibel diterjang krisis dunia. Selain itu juga resilience mampu membuat ekonomi menyesuaikan diri di tengah persaingan yang ada karena ditunjang dari pasar dalam negeri yang kuat.

franciscus welirang

Bagaimana daya saing Indonesia?

Masalah utama terhadap barang impor adalah fair trick. Ini merupakan tantangan kita. Sehingga, harusnya ekonomi kita terus meningkat karena investasi yang telah ditanamkan 2012 akan mulai berproduksi di 2013. Dengan demikian, apa yang sudah berjalan di tahun 2013 akan mulai menguntungkan di tahun 2014. Kemudian, di bidang industri pangan akan semakin berkembang jika infrastrukturnya menunjang. Oleh karena itu, infrastruktur seperti jalan, tol, bandara, dan pelabuhan merupakan hal yang fundamental.

Jadi soal infrastruktur memang merupakan kunci ya?

Infrastruktur tetap menjadi masalah dan tantangan untuk dihadapi. Yang termasuk infrastruktur, yaitu jalan dan pelabuhan karena Indonesia terdiri dari kepulauan. Efisiensi dan efektivitas pelabuhan domestik kita merupakan tantangan bagi kami. Ini karena kami menginginkan distribusi produk yang lebih lancar dan mudah. Faktor risiko yang juga menjadi potensi masalah bagi kami adalah gini ratio atau indeks gini (tingkat kesenjangan antarpenduduk). Tentu hal ini merupakan masalah nasional yang harus diperhatikan. Hal ini cenderung merupakan cerminan dari kebijakan pemerintah dalam menyelesaikan masalah ini. Menurut saya, ini juga merupakan faktor penghambat karena kekuatan Indonesia ada pada pasar domestik.

Apa tantangan pengusaha di masa depan?

Menurut saya, tantangan pengusaha di masa depan, adalah bagaimana pengusaha jeli melihat tuntutan pasar, membaca tuntutan konsumen. Jeli melihat apa yang merupakan tuntutan dan potensi yang ada ke depan. Saya kira itu tantangan. Nomor satu, ada suatu proses tren daya beli masyarakat bertambah. Perkiraan setiap tahun, ada tujuh juta orang beralih ke kelas menengah di Indonesia. Tahun ini, kurang lebih ada 40 juta kelas menengah di masyarakat Indonesia. Kalau setiap tahun ada tujuh juta orang, maka sepuluh tahun ke depan ada sekitar 70 juta orang di kelas menengah.

Orang-orang di kelas menengah ini memiliki tuntutan yang sudah berbeda. Mereka sudah bersedia membayar lebih mahal, sudah mengedepankan kualitas, dan lain-lain. Gak ada pilihan lain. Kalau pengusaha tidak berusaha memenuhi tuntutan ini, maka mereka akan hilang di dunia usaha. (PI)