Seusai merinci, Ketut Mardjana menandaskan, kelima anaknya adalah generasi kedua harus lebih baik daripada Bapak dan Ibu serta kakek-kakeknya terdahulu.
“Selama saya masih hidup, manfaatkan masa muda dan jangan sia-siakan uang orang tua,” pungkasnya, untuk itu ia rela merogoh kocek walau harus dibayar mahal asalkan anaknya berhasil di kemudian hari. Meski sudah disiapkan dananya, malah tak sepersenpun terjadi. Sebab, kelima anaknya dapat beasiswa saat menempuh pendidikannya itu.
Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kabupaten Bangli, dan terpilih menjadi Ketua Umum Mahagotra Catur Sanak Bali Mula. Sebelumnya, ia pernah menjabat direktur di sejumlah perusahaan pelat merah dan swasta yang sudah mengemuka di Tanah Air.
Totalitas perjuangannya ketika membangun tanah kelahiran, dilandasi semangat yang ulet dan tekun, inovatif, kreatif, adaptif, kolabarasi bersama dengan melibatkan masyarakat setempat yang dikatakannya lagi, usaha ini dibangun bukan sekedar untuk perkaya diri sendiri tapi sekaligus juga dapat meningkatkan tarif hidup masyarakat lokal. Sebab 90% karyawan yang kerja di Toya Devasya diisi dari warga sekitar.
Siapa sosok orang paling berpengaruh dalam kehidupan Dr. I Ketut Mardjana hingga berbuah manis dan indah seperti sekarang? Jawabnya, berkat sentuhan yang tak bisa dipisahkan dari nama Nyoman Diksa adalah ayahnya yang membuatnya sukses.
Ayahnyalah yang sejak dini menanamkan nilai-nilai kerohanian dan kemanusiaan melalui Tri Hitha Karana (Tri Hita Karana berasal dari kata ‘Tri’ yang artinya tiga, ‘Hita’ berarti kebahagiaan dan ‘Karana’ diartikan penyebab. Dengan demikian Tri Hita Karana berarti Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan, red).
Sewaktu bercerita hal tersebut, penampilan pria paruh baya berusaha menenangkan diri sambil menarik napas dalam-dalam. Diduga, apa yang ditanyakan oleh redaksi hanyut terbawa suasana masa lalu.
Ketut Mardjana menerangkan ajarannya itu, katanya mengutamakan keimanan yang diintegrasikan ke dalam pendidikan yang mengajarkan kemuliaan akhlak dan budi pekerti yang menekankan hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungan, serta hubungan manusia dengan Tuhan YME.
Sejalan dengan hal itu, ayahnya berpesan, “kelak sukses bisa membangun kampung halaman.”
Untuk itu, ia diminta untuk pergi merantau. Padahal, tanpa diminta memang sudah mengimpikan hijrah ke Jakarta guna menimba ilmu. Bak bergayung sambut antara anak dan sang ayah!
Terkait hal ini, ayahnya mengumumkan bahwa esok hari, Ketut Mardjana bertolak ke Jakarta. Maka, diundanglah semua masyarakat di sini agar datang ke kediamannya.
Dibuatlah sebuah Perayaan Agung guna melepas kepergian anaknya tersebut diisi dengan ritual persembahyangan sebagai simbol permohonan doa kepada Tuhan YME. Kegiatan ini memang menjadi tradisi sejak zaman leluhur orang Bali.
Setelah upacara digelar berjam-jam, tibalah waktu bagi tamu yang datang untuk bertatap muka dan I Ketut Mardjana merespons sembari menyalami satu per satu.
Dalam ceritanya, kakek dari Putu Astiti Saraswati menyampaikan maksud dan tujuan pertemuan malam itu.
“Saya akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi terpaksa merantau dan ini kali pertama ke Jakarta. Bahkan berangkatnya disangui duit oleh orang-orang kampung, ada yang Rp500, Rp1000 dan Rp1500,” kenangnya.
Zaman itu, nilai uang segitu cukup berarti dan saat pagi harinya mulailah bersiap-siap. Sebelum berpamitan, keluarga kembali berkumpul di depan pintu untuk berdoa bersama.
Sesudah saling berpelukan dan terasa puas barulah kepergian anaknya untuk meraih masa depan yang lebih baik dengan menimba ilmu di ibukota diikhlaskan.
Namun demikian, baru satu langkah, kata Ketut Mardjana, tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Spontan dalam hatinya berjanji, kelak berhasil semakin teguh sikapnya untuk membangun tanah kelahiran.
Walhasil, gelar sarjana pertamanya didapat. Lanjut lagi ke jenjang pendidikan lebih tinggi, bedanya ini di luar negeri.
Usai dari menamatkan pendidikannya tersebut, ia berdiri tegak dan melangkah mantap menjadi seorang profesional yang ahli dan cakap di bidangnya atau dari keilmuan yang ditekuninya.
Awal satu pintu terbuka, membuka pintu karir berikutnya. Kesempatan ini terjadi begitu terus dan semua ini sangat disyukurinya.
Kebahagiaan, rasanya, begitu mudah direguk dan sebelum menunaikan ikrarnya, sejumlah prestasi pernah ditorehkannya. Antara lain:
- Tanggal 10 Agustus 2001 : Asian Development Best Executive Awards 2001-2002,
- Tanggal 8 September 2001 : Asean Social And Economic Coorporation Golden Awards 2001,
- Tanggal 27 September 2011 : Tanda Kehormatan Satyalencana Pembangunan dari Presiden RI,
- Tanggal 8 Februari 2012 : People Of The Year 2011, sebagai Inspiring CEO 2011, dari Harian Seputar Indonesia,
- Tanggal 24 Desember 2012 : Sebagai CEO BUMN Pilihan Terbaik, Majalah Tempo,
- 28 Februari 2013 : Chairman Of Steering Committee and Working Group Meetings On ASEANPOS, E-Commerce Bussines Project,
- 15 April 2013 : Sebagai CEO Inovatif untuk Negeri, diberikan oleh Majalah Gatra (Majalah Berita Mingguan),
- 2015 – 2019 : Menerima sekitar 20 penghargaan dalam bidang tourism dan hospitality.
Anda ini terlihat energik dan happy, padahal pariwisata Bali termasuk salah satu yang ikut terdampak akibat pandemi Covid-19, ada yang mau disampaikan terkait hal ini?
“Hidup harus dibawa dengan bahagia, dan yang paling tahu untuk menyenangkan diri kita agar terlihat lebih menarik dan menyenangkan, layaknya seperti cermin. Pikiran kita yang membuatnya rumit. Padahal hidup itu sangat sederhana. Maka, kita harus bahagia. Dari hati yang selalu bahagia, sudah tentu badan pun jadi sehat,” pesannya.
Menyoroti hal ini, konteksnya sangat relevan dan sejalan dengan pelaksanaan PPKM berbasis level untuk Jawa-Bali yang diperpanjang sampai 18 Oktober, besok ini berakhir. Lanjut lagi? Tunggu pemberitahuan resminya.
Untuk mendukung imbauan pemerintah, GM Toya Devasya mengajak masyarakat Bali harus disiplin patuhi penerapan protokol kesehatan, sudah divaksinasi, dan supaya tidak terpapar virus Covid-19, jangan lupa bukan saku saja yang tebal tapi badan pun harus tetap sehat dan bugar.
Sejalan dengan sudah dibuka penerbangan internasional ke Bali sejak 14 Oktober lalu, Sangat disarankan turis mancanegara untuk berlibur ke tempat-tempat yang menyuguhkan semua ada di satu tempat, “Toya Devasya, One Stop Tourism,” tutup Dr. I Ketut Mardjana, mempromosikan.
“Say cheese, action!” Satu minta juru foto dari tim redaksi Pariwisata Indonesia yang turun mewawancarainya dan objek wisata Toya Devasya telah mengglobal dan jadi ikon Kintamani di Bali.
(eh/Nyoman)
Toya Devasya







































Leave a Reply