PariwisataIndonesia.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) merespons kritikan mahasiswa dan salah satunya menyebut dirinya sebagai ‘The King of Lip Service’.
Baca juga : Jokowi Bicara Soal Penyampaian Kritik Mahasiswa dan Tetap Fokus Penanganan COVID-19, Ehhh Ketua DPP PKS Naik Panggung
Putri pertama (alm) Gus Dur selaku aktivis GUSDURian, Alissa Wahid, angkat bicara menyoroti pemanggilan pengurus BEM UI oleh rektorat.
“Kalau jaman dulu begini, gak bakal ada reformasi. Rektorat-rektorat mungkin perlu pemahaman ulang tentang bedanya critical thinking dan hate-speech,” cuitnya di twitter.
Meski sehari sebelumnya, pihak Istana ambil sikap, diduga, ‘diam atau cari selamat’ terhadap komentar menohok tertuju kepada Kepala Negara di momen bahagia Presiden Jokowi tersebut
Padahal, hari ini pun jagat media sosial melalui twitter dan instagram mendapat ‘hentak’, responsnya beragam dari warganet.
Namun, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin, persoalan itu ‘iya’ seharusnya diselesaikan di internal kampus.
Ngabalin bicara itu, sebelum sesi wawancara di Istana Merdeka, Jakarta, yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden di Jakarta, Selasa (29/6).
Tidak demikian dengan konduktor orkestra mendunia, Addie Muljadi Sumaatmadja atau akrab disapa Addie MS dan konduktor legend Indonesia ini bangkit dan ‘suara tak terima’.
Addie yang juga terkemuka sebagai pianis, pencipta lagu, komponis, arranger, dan sekaligus produser musik menangkisnya.
Dilansir dari laman resmi Addie MS, berikut katanya.

“Alhamdulillah, aku merasakan hidup di era kepemimpinan semua Presiden Indonesia. Lahir di era Presiden Soekarno, aku beruntung bisa berkenalan dengan semua Presiden berikutnya.
Aku berterima kasih pada semua pemimpin bangsaku dengan segala kekurangannya. Semua juga memiliki kelebihannya masing,masing. Salah satu hal yang kukagumi dari Presiden Jokowi adalah kesabaran dan kemampuannya mengelola emosi.
Seumur hidupku, belum pernah kusaksikan adanya Presiden Indonesia yang dicela dalam kurun waktu bertahun-tahun seperti yang dialami oleh Pak Jokowi. Hebatnya, beliau tidak terpancing emosinya, tapi tetap fokus bekerja.
Disebut lembek, plonga plongo
Tapi besoknya disebut otoriter.
Disebut komunis,
Tapi besoknya disebut liberal dst.
Tak ada manusia sempurna.
Presiden Jokowi pun bukan manusia sempurna. Tapi setidaknya aku belajar mengenai akhlak dari sikap dan tindakannya. Action speaks louder than words.
Presiden Jokowi, aku bersamamu,” kata konduktor orkestra mendunia dikutip instagram addiems999, Selasa (29/6).
Mengomentari ramai kritik ‘sumbang dan merdu’, Presiden pun merasa perlu dan keberatan pun ‘tidak’ untuk tampil walaupun disinyalir ‘king of lip service’ adalah bentuk ekspresi mahasiswa di ‘Negara Demokrasi’.
“Saya kira ini bentuk ekspresi mahasiswa dan ini negara demokrasi. Jadi, kritik itu, ya, boleh-boleh saja dan universitas tidak perlu menghalangi mahasiswa untuk berekspresi,” kata Kepala Negara kutip Redaksi Pariwisata Indonesia, Rabu (30/6).
Meski demikian, Presiden juga mengingatkan bahwa bangsa Indonesia memiliki budaya tata krama dan kesopansantunan.
“Tapi ingat kita ini memiliki budaya tata krama, memiliki budaya kesopansantunan. Ya, saya kira biasa saja, mungkin mereka sedang belajar mengekspresiakan pendapat. Tapi yang saat ini penting kita semuanya memang bersama-sama fokus untuk penanganan pandemi COVID-19,” kata Presiden.







































Leave a Reply