Mengenal Sosok Kadisparbud Wonosobo, Agus Wibowo: Saya Lahir dari Keluarga Petani…

Pariwisata Indonesia, Kadisparbud Wonosobo, Agus Wibowo
Kadisparbud Wonosobo, Agus Wibowo S.Sos., mendapat “SPECIAL ACHIEVEMENT AWARDS Tahun 2021” dari PVK Group, dinobatkan sebagai “Tokoh Penggerak Pariwisata Kabupaten Wonosobo”. (Foto: Media PI/Dok. Ist.)

PariwisataIndonesia.ID – Bila mendengar nama “Wonosobo”, pasti yang terbayang di benak kita adalah Dataran Tinggi Dieng yang mengemuka dengan keindahan panorama alamnya yang eksotik.

Padahal, Wonosobo, juga terkenal pula sebagai kabupaten yang memiliki berbagai potensi, mulai dari pertanian, perkebunan, pertambangan dan penggalian, dan masih banyak lagi lainnya.

Namun, Agus Wibowo S.Sos., selaku Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Kabupaten Wonosobo, penerima penghargaan “SPECIAL ACHIEVEMENT AWARDS Tahun 2021” dari PVK Group, tak menepis.

Ia mengakui, bahwa wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara lebih berbondong-bondong untuk mengunjugi kawasan pariwisata yang hawanya sejuk dengan udara yang begitu menyegarkan itu. Sebab, sebagian besar wilayah Kabupaten Wonosobo merupakan daerah pegunungan.

Ajang bergensi yang digelar tahunan oleh jaringan situs online pariwisata di bawah naungan Media PVK Grup, menobatkan Agus Wibowo yang lahir di Boyolali, Jawa Tengah, 19 Oktober 1973: “Tokoh Penggerak Pariwisata Kabupaten Wonosobo”.

Sebelum dirinya menjabat Kadisparbud Wonosobo, juga mendapat amanah sebagai Direktur Utama PT Perkebunan Tambi. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) ini, pernah dinakhodainya kala itu, dan BUMD ini sudah berdiri sejak 13 Agustus 1957.

Saat sekarang, selain memegang jabatan Kadisparbud, Agus juga dipercaya sebagai Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), dan Ketua Pengurus Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

“Pengembangan sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di tempat kami, tak mungkin dilakukan sendiri, mesti melakukan kolaborasi antar instansi dan didukung stakeholder, dalam hal ini Pemerintah Pusat,” kata Kadisparbud Wonosobo kepada PariwisataIndonesia.id mengawali wawancaranya, Jumat (8/4/2022).

“Saya lahir dari keluarga petani di daerah pelosok, dan sejak kecil karena sudah ditinggal orang tua, maka dalam menyelesaikan pendidikan sering berpindah-pindah tempat,” tambahnya.

Ia juga menyampaikan pandangannya terkait program 5 kawasan Dieng Baru, salah satunya, terletak di wilayah Margomarem, persisnya, di kawasan Telaga Menjer.

“Perlu ditunjang dengan atraksi destinasi dengan mengembangkan ekoturisme (atau ekowisata), merupakan salah satu kegiatan pariwisata berwawasan lingkungan,” paparnya.

Sambungnya, mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal, juga mengedepankan aspek edukasinya, yang memuat nilai-nilai pembelajaran dan pendidikan.

Lanjutnya, dalam memikat wisatawan tinggal lebih lama di Wonosobo, kata Agus, perlu mengusung konsep ‘what to do’, bukan sekedar ‘what to see’.

“Untuk itu, saya mengajak penggiat pariwisata di tempat itu untuk menekankan 4-A (Attraction, Accesability, Amenities, & Ancillary),” terangnya.

Agus juga menceritakan pendidikannya. “SD di Boyolali; SMP di Muntilan, Magelang; SMA, di perbatasan Salatiga, Kabupaten Semarang; dan kuliah saya di STPDN Bandung, dan Politeknik STIA LAN Jakarta,” ungkapnya.

Saat PariwisataIndonesia.id menanyakan tentang suka dukanya sebagai tokoh penggerak pariwisata di Wonosobo, “dua tahun belakangan ini, sektor pariwisata adalah yang paling terdampak imbas pandemi Covid-19, di saat pelaku pariwisata tengah terpuruk itulah, kami harus bisa memahami dan turut merasakan kegetiran dan kepedihan mereka. Apalagi seni dan budaya di tempat kami,” jawabnya.

Meskipun ‘Seni dan Budaya’ menjadi tupoksi dari ranah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Namun, pariwisata juga tak bisa dilepaskan dari dua hal itu.

Mencermati hal tersebut, Kadisparbud Wonosobo memadukannya dengan “10 Objek Budaya dalam UU Pemajuan Kebudayaan”.

“Tak sekedar datang hanya melihat alamnya saja, tapi pada destinasinya tersebut, turut pula menyuguhkan atraksi yang menampilkan ‘Seni dan Budaya’ diparelel dengan UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan,” imbuhnya.

Agus merinci yang dimaksud dalam undang-undang itu, antara lain Tradisi Lisan, Manuskrip, Adat Istiadat, Permainan Rakyat, Olahraga Tradisional, Pengetahuan Tradisional, Teknologi Tradisional, Seni, Bahasa, Ritus.

“Sehingga ada keunikan, kekhasan, sudah pasti, ini akan menjadi pembeda dan makin memikat wisatawan untuk berkunjung lama di setiap tempat-tempat pariwisata di wilayah Wonosobo,” pungkasnya.

Beberapa waktu lalu, Disparbud Wonosobo juga melakukan rapat koordinasi dengan mengundang 15 desa wisata di wilayah tersebut, yang masing-masingnya dihadiri perwakilan pemerintah desa, camat, pokdarwis, termasuk para pengelola desa wisatanya.

“Anugerah Desa Wisata Tingkat Kabupaten (ADWW), akan memberikan bantuan Rp3 juta untuk masing-masing peserta (15 desa wisata) dan hadiah total Rp25 juta diberikan bagi 5 Desa Terbaik (masing-masing mendapatkan Rp5 juta),” tuturnya.

Hal tersebut, kata Agus, dalam rangka peningkatan kualitas tata kelola desa wisata yang ada di Kabupaten Wonosobo sejalan dengan lomba Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022 yang diinisiasi oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Sandiaga Salahuddin Uno.

“Semoga Anugerah Desa Wisata baik itu yang di tingkat kabupaten bertajuk ADWW, maupun secara nasional bernama ADWI, jadi momentum semangat baru masyarakat untuk terus optimistis berprestasi, mempromosikan potensi, menumbuhkan harmonisasi Pemerintah Daerah, Pemerintah Desa, Masyarakat desa dan Penggiat Pariwisata,” kata pria berzodiak Leo, yang memiliki hobby ternak Domba Wonosobo keturunan Texel Belanda. (eh)

× Hubungi kami