Profil Teuku Badruddin Syah
Pria berzodiak Aries yang akrab disapa Abu Turki oleh masyarakat Aceh adalah President Director PT Korina Refinery Aceh, CEO PT Kimco Citra Mandiri (KIMCO Group), dan President Director PT Wangsa Energi Prakarsa.
Kemudian aktif sebagai pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin), juga diminta untuk menjabat Wakil Ketua Umum Bidang Migas di bawah kepemimpinan Eddy Ganefo selaku Ketua Umum periode 2020-2025.
Selain itu, Teuku Badruddin Syah juga memiliki kekerabatan dengan tokoh-tokoh utama Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Di sisi lain, ayah tiga anak ini tetap ingin menjadi sosok pribadi “low profile” sekalipun diangkat bersaudara dengan Royal Family “Al Thani” yakni salah satu keturunan dari penguasa Qatar, yang namanya tercatat sebagai satu dari deretan orang-orang terkaya di dunia.
Terungkap saat wawancara, pertama, produksi kilang minyak terintegrasi milik suami Irmawati Sudrajat akan segera berdiri di bekas lahan ExxonMobil Oil Indonesia.
Lokasinya itu, persisnya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe, dan digadang-gadang akan menjadi yang terbesar kedua di Indonesia setelah kilang minyak di Balongan.
Kedua, bercita-cita untuk memakmurkan masyarakat Aceh dan dengan izin Allah SWT ingin sekali diberikan kemudahan memperoleh Surga dari pintu sedekah.

Penabalan Gelar Sultan Malik Teuku Haji Badruddin Syah Samudera Pasai Zhillullah Fil ‘Alam
Sabtu (1/3/2022) lalu, pecinta motor besar ini menjalani samadiah, doa bersama, dan peusijuek, masih dilanjutkan lagi dengan acara inti yaitu santunan anak yatim dan tausiah.
Selepas berbagai prosesi adat Aceh dilakukan, Teuku Badruddin Syah diberikan pengesahan Pin Emas. Moment itu sekaligus menandai telah resmi sebagai penerus generasi Samudera Pasai ke-21.
Menilik waktunya, digelar bersamaan dengan acara Isra Mi’raj Nabi besar Muhammad SAW, dan penabalan gelar “Sultan Malik Teuku Haji Badruddin Syah Samudera Pasai Zhillullah Fil ‘Alam” dimaknai sebagai pelindung, naungan dan bayangan di mana rakyat Aceh dapat bernaung dan berlindung di bawah panji-panji kekuasaan Sang Sultan.
Makna berikutnya, sebagai bayangan Tuhan di alam, diharapkan sifat-sifat “Rahman dan Rahim” (kasih dan sayang), adil, bijaksana dari Sang Sultan turut memberikan ketentraman, kenyamanan dan kedamaian, juga sejahtera buat tanah dan negeri. Itulah makna dari gelar yang disematkan kepadanya guna melanjutkan sultan sebelumnya, yakni Sultan Zainal Abidin IV (1514-1517).
Acaranya tersebut dilangsungkan di Komplek Makam Sultan Malikussaleh, Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Di acara itu, sejumlah Ulama Kharismatik Aceh hadir memberikan dukungan, dan ikut mendoakan Abu Turki dalam memikul amanah sebagai Sultan Samudera Pasai ke-21.
Di antaranya: Abu Kuta Kreung (Tengku H. Usman Bin Tengku H. Ali), Abu Mudi Samalanga (Tengku H. Hasanoel Bashry bin H Gadeng), Waled NU (Nurruzahri Yahya Dauah Ummul Ayman) Samalanga , Abi Lampisang (Tengku Ahmad Tajuddin Dayah Al Muhajirin) Seulimuem, Aceh Besar , Habib Harits dari Tgk Di Anjong ,Abu Busthomi Tareqat Syatarriyah Naqsabandiyah dan Abu Hanafiah (Abu Piah) Lhokseumawe Aceh Utara.
Turut hadir pula di kesempatan itu, antara lain: Walikota Langsa, Usman Abdullah; Kabag Ops Polres Aceh Utara, Wakapolres Lhokseumawe; Danramil serta Camat Samudera, dan masih banyak lagi lainnya.
Tujuan Kesultanan Samudera Pasai saat sekarang
Kesultanan Samudera Pasai dalam konteks kekinian, bertujuan untuk memotivasi masyarakat Aceh atas dasar ilmu Tuhan 4 yakni mempelajari “Tarekat, Tasawuf, Fiqih dan Mantiq”.
Hal tersebut sebagai dasar untuk memahami ajaran Islam lebih mendalam, termasuk mempelajari adat dan budaya Samudera Pasai, serta menghormati adat dan adab indatu leluhur Samudera Pasai agar tetap lestari, maupun merawat peninggalan-peninggalan para indatu terdahulu.
Lebih lanjut, katanya, juga untuk mempersatukan kembali nasab keturunan pewaris Kesultanan Samudera Pasai di Aceh secara khusus, dan seantero dunia pada umumnya. Dalam penjelasannya, tak sedikit putra daerah asal Aceh masih menetap di luar negeri.
Sambungnya, dengan mempelajari kembali sanad keilmuan Sultan Malikussaleh. Setidak-tidaknya, untuk mengingatkan publik di tanah air bahwa Islam masuk pertama kali ke nusantara dimulai dari Samudera Pasai.
Selanjutnya, Islam makin lama terus berkembang pesat hingga penyebarannya sampai ke Tanah Jawa yang dibawa oleh Wali Songo, juga sampai ke Asia Tenggara.
Dari uraian tersebut, Sultan Aceh ke-21 ingin meyakinkan, dengan demikian kerajaan Samudera Pasai telah memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap studi Islam di Nusantara dan di Asia Tenggara.
Sultan Samudera Pasai ke-21 berharap, sifat-sifat kemuliaan yang dimiliki Sultan Malikussaleh semoga memberikan sikap teladan bagi kita bersama agar terbentuk “Rahman dan Rahim” atau kasih dan sayang, adil, bijaksana yang bisa memberikan ketentraman, kenyamanan dan damai sejahtera tanah dan negeri dalam kehidupan sehari- hari.
Sehingga, nantinya, akan lahir kembali peradaban Samudera Pasai sebagai bentuk kecintaan rakyatnya kepada Sang Indatu, Sultan Malikussaleh sebut dia.
Bersambung ke halaman berikutnya
Visi dan Misi Sultan Samudera Pasai ke-21







































Leave a Reply