Air Terjun Moramo, Wisata Bernuansa Alam di Sultra Cocok Buat Basah-basahan; Yuk, Sejukkan Tubuh di Cuaca Panas

Cukup sering di Air Terjun Moramo dijumpai pasangan muda-mudi, pecinta "trekking", pemburu spot wisata instagramble, dan tak sedikit pula kalangan "emak-emak" yang membawa keluarganya berekreasi di objek wisata air bernuansa alam, malah ada kalanya, kepergok anak muda yang "hedon". Jangan heran, bila mereka terlihat menggelar tikar sambil asyik menikmati bekal santapan di tempat wisata ini.
Cukup sering di Air Terjun Moramo dijumpai pasangan muda-mudi, pecinta "trekking", pemburu spot wisata instagramble, dan tak sedikit pula kalangan "emak-emak" yang membawa keluarganya berekreasi di objek wisata air bernuansa alam, malah ada kalanya, kepergok anak muda yang "hedon". Jangan heran, bila mereka terlihat menggelar tikar sambil asyik menikmati bekal santapan di tempat wisata ini.
Air terjun Moramo di Konawe Selatan, Sultra (Foto: Media PI/Dok.Instagram/@pijakan.batu)

PariwisataIndonesia.ID – Air Terjun Moramo adalah salah satu objek wisata terfavorit yang masih alami sampai kini yang ada di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), dan destinasi wisata ini berbeda dari air terjun kebanyakan, Air Terjun Moramo diselimuti batu marmer yang melimpah.

Konon, kemolekan lanskapnya sanggup menggoda bidadari-bidadari khayangan untuk turun menikmatinya.

Alasan ini, lebih merupakan mitos semata, katanya, hal itu karena saking eksotis dan memukaunya Air Terjun Moramo.

Saat pertama kali tiba, perjalanan Anda dimulai dari gerbang retribusi. Lalu, melanjutkan kembali dengan terus menuju air terjun, sudah tentu akan sangat menyenangkan. Mengapa?

Karena, selain udaranya bersih dan sejuk, hijaunya rerimbunan hutan suaka margasatwa Tanjung Peropa benar-benar mampu menghipnotis dan memanjakan mata Anda.

Air terjun ini, berada di kawasan konservasi seluas total 38.937 hektar, yang hidup beraneka macam flora dan fauna, di antaranya berbagai jenis burung, kupu-kupu, rusa, dan kuskus.

Bila Anda beruntung, akan pula mendapati satwa endemik Sulawesi, seperti anoa dan monyet hitam.

Sesampainya di lokasi, dan selepas rasa ‘nano-nanonya’ tuntas, karena Anda berjalan kaki sejauh 2 kilometer dari pintu masuk dengan kondisi jalan sedikit menanjak disertai pemandangan hutan tropis, yang sesekali mendapati air terjun kecil.

Perjuangan Anda untuk sampai ke klimaks wisata air ini bisa disimpulkan, tentu membutuhkan tenaga ekstra, karena menempuhnya perlu berjalan kaki.

Namun, terbayar saat tiba di air terjun yang Anda nanti-nantikan.

Bersambung ke halaman berikutnya
Aih, pastinya tralala trilili, deh!