Bakukan Nama Rupabumi Dalam Gazeter RI, BIG: Agar Mudah dalam Pembangunan & Berbagai Keperluan

PARIWISATAINDONESIA.ID – Badan Informasi Geospasial (BIG) menerbitkan Gazeter Republik Indonesia, berisi daftar nama-nama rupabumi yang telah dibakukan.

Kepala BIG, Muh Aris Marfai mengakui istilah Gazeter belum familiar di masyarakat. Padahal fungsinya sangat vital dalam proses pembangunan nasional.

Hal tersebut dikatakan oleh Aris dalam Talkshow MNC Trijaya, “Gazeter Republik Indonesia sebagai Referensi Dokumen Pemerintahan” di Hotel Grand Kemang.

“Memang tidak semua paham Gazeter, terutama masyarakat umum. Gazeter itu adalah direktori nama geografis atau nama rupabumi, di mana kita perlu menetapkan nama-nama itu agar memberikan kemudahan dalam pembangunan dan berbagai keperluan lainnya,” kata Aris melalui keterangan tertulisnya, Selasa (14/12/2021).

Menurutnya, data yang dihimpun dalam Gazeter merupakan hasil kolaborasi dari kementerian, lembaga, stakeholder, akademisi, para pakar, dan pemerintahan daerah. Di dalamnya mencakup nama lokasi, nama bangunan, nama jalan, infrastruktur, dan sebagainya.

“Intinya adalah nama-nama yang muncul ketika peta rupabumi kita buat. Sehingga kita lihat memang bukunya tebal-tebal karena ada sekian puluh ribu, bahkan juta penamaan disitu. Jadi kita tidak perlu bingung lagi, ini menjadi semacam kamus,” jelasnya.

Misalnya nama Rawa Buaya, Rawa Bokor, Kebun Sirih, Kebun Jeruk. Nama-nama itu merefleksikan sesuatu, baik proses, kejadian maupun pengetahuan lain yang dihimpun menjadi satu dalam Gazeter.

Penamaan rupabumi, kata Aris, sudah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, tapi belum berupa direktori khusus. “Nah sekarang, Gazeter sudah bisa diakses melalui www.sinar.big.go.id,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Informasi Geospasial Dasar BIG M. Arief Syafi’i menambahkan, Gazeter sangat penting, karena rupabumi yang tak dinamai hanya akan menjadi peta buta.

“Nama yang sudah masuk di Gazeter itu sudah resmi dan dimasukkan ke peta. Kalau tanpa nama jadi peta buta, sehingga kita tidak bisa mengidentifikasi ini wilayah apa, gedung apa, dan segala macam,” katanya.

“Jadi Gazeter ini sama dengan akta lahir kita, intinya untuk mengidentifikasi nama dari sebuah wilayah atau tempat,” imbuhnya.

Pengidentifikasian nama inilah, yang kemudian menjadi referensi dokumen pemerintahan, termasuk di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Sementara Direktur Toponimi dan Batas Daerah Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri, Sugiarto mengatakan informasi dalam Gazeter menjadi acuan kementerian dalam penamaan dan penetapan batas wilayah.

“Ketika kita mau tetapkan wilayah administrasi darat maupun laut, kami mengacu pada data-data Gazeter. Termasuk ketika kami akan menetapkan wilayah provinsi sampai desa/kelurahan,” ucapnya.

“Kami lihat dulu di Gazeter nya, nama gunungnya apa, jalannya apa, sungainya apa, termasuk koordinatnya. Baru kita masukkan ke Peraturan Menteri Dalam Negeri,” tuturnya.

Sejarawan JJ Rizal mengapresiasi ikhtiar BIG menerbitkan Gazeter Republik Indonesia. Sebagai orang yang menggeluti ilmu sejarah, JJ sangat terbantu dengan pengarsipan nama tempat yang dilakukan BIG dalam bentuk Gazeter.

“Kita berbahagia ya, sekarang sudah ada BIG. Artinya benar-benar konsen memperhatikan rupabumi sebagai alat untuk mendeteksi wilayah kita,” kata JJ Rizal.

Penamaan rupabumi, kata JJ, merupakan informasi yang sangat penting untuk memulihkan kesalahan di masa lalu.

“Beberapa kali kita ramai tentang perbatasan, seperti Natuna dan Sipadan Ligitan. Dulu, anehnya disebut pulau terluar, padahal harusnya pulau terdepan karena itu halaman muka kita. Karena dia disebut pulau terluar, jadi gampang keluar karena dianggap bukan bagian dari kita,” ucap JJ.

Dalam kacamata sejarawan, JJ menganggap nama-nama adalah arsip atau sumber sejarah yang penting. Nama sebuah tempat, misalnya, acapkali memiliki tautan erat dengan peristiwa masa lalu yang jarang diketahui orang.

“Misalnya kalau saya belajar sejarah Jakarta, kok ada nama kampung Tiang Bendera. Rupanya itu terkait dengan kapten Tionghoa pertama di kota Batavia yang tugasnya mengumpulkan pajak dari orang-orag Tionghoa untuk pembangunan kota Batavia. Dia mengerek bendera setiap akhir bulan di depan rumahnya, sebagai tanda pajak harus dibayar. Karena itu dinamakan kampung tiang bendera,” pungkas JJ.

Sementara itu, Asisten Pengamanan Kerjasama dan Perbatasan (Aspamkersamtas) Danpushidrosal, Kolonel Laut Yanuar Handwiono menambahkan, data di Gazeter juga merupakan salah satu cara untuk menjaga kedaulatan.

“Gazeter ini adalah suatu media penting,  tidak hanya dari aspek inventaris nama pulau tapi juga aspek kedaulatan dan keamanan,” tegas Yanuar.

Pushidrosal dengan BIG dan kementerian lain bekerja sama dalam mengelola nama unsur rupabumi di wilayah laut, yang kemudian menjadi bahan laporan ke International Hydrographic Organization (IHO).

Secara praktis nama tersebut menjadi acuan dunia internasional, salah satunya untuk keperluan navigasi.

Meski diakui Yanuar, BIG masih harus menyempurnakan Gazeter agar dapat mengakomodir semua unsur rupabumi, khususnya di perairan.

“Ada beberapa unsur rupabumi wilayah laut yang belum terakomodir dalam Gazeter 2021. Ini yang menjadi tantangan bagi tim Gazeter RI untuk melengkapinya,” harap Yanuar. (Ben)