Bukan Sekedar Parang Biasa

Senjata Tradisional dari Provinsi Bangka Belitung
Pariwisata Indonesia

Sobat Pariwisata mungkin sudah tidak asing mendengar kata parang atau golok. Senjata tajam ini memiliki ukuran yang lebih besar dari pisau biasa, tapi lebih kecil dibanding pedang. Parang memang bisa didapatkan di berbagai wilayah Indonesia dan kerap digunakan untuk membantu aktivitas sehari-hari, seperti membelah kelapa, memotong daging, dan sebagainya.

Akan tetapi, ada yang berbeda dengan Parang Badau. Selain bentuknya yang unik, parang ini juga memiliki sejarah dan cerita sendiri. Penasaran?

Pariwisata Indonesia

Parang Badau merupakan salah satu senjata tradisional dari Provinsi Bangka Belitung. Senjata yang terbuat dari besi ini memiliki bentuk seperti layar kapal. Pada bagian ujungnya sengaja dibentuk lebih besar dan berat, sehingga menghasilkan tebasan maksimal walaupun hanya menggunakan sedikit tenaga. Efektif sekali, kan? Objek apapun yang ada di hadapan bisa terpotong dengan cepat dan mudah.

Parang Badau dibuat pada masa Kerajaan Badau, tepatnya pada abad ke-13 di masa kepemimpinan raja yang bergelar Ronggo Udo. Pada saat itu, seorang empu pandai besi dari Kerajaan Majapahit, datang ke Badau dan mengajarkan masyarakat Badau cara untuk membuat senjata. Hal ini sesuai dengan syair Kartagama karya Empu Prapanca yang menyebutkan nama Belitung pada tahun 1365. Pasca kedatangan empu pandai besi, daerah Badau pun menjadi sentra pengrajin senjata khususnya Parang Badau.

Pariwisata Indonesia

Parang Badau dibuat dengan sangat sederhana, tanpa hiasan dan pernak-pernik yang bertabur di bagian-bagiannya. Hal ini sangat sesuai dengan fungsi utama pembuatan parang ini. Pada masa lalu, parang yang memiliki panjang sekitar 40 cm ini dipergunakan untuk memotong kayu, berladang, membersihkan area pertanian, dan membuka hutan untuk kawasan pemukiman warga.

Namun, saat terjadi perang, Parang Badau pun digunakan sebagai salah satu senjata untuk mempertahankan diri dan menyerang musuh. Untuk pertempuran jarak dekat, Parang Badau menjadi senjata yang mematikan, loh!

Menurut catatan W.S Stapel, Dosen Sejarah Kolonial Amsterdam, pada awal abad ke-17, Parang Badau menjadi salah satu barang dagangan utama yang dijual oleh masyarakat Belitung pada pihak Belanda. Hubungan dagang yang berlangsung 25 tahun ini ditopang setidaknya 7 bengkel pandai besi yang memproduksi parang di Desa Badau. Bengkel-bengkel ini di kemudian hari menjadi sejarah pengerjaan logam di Bangka Belitung.

Pada masa sekarang, pembuatan Parang Badau tetap berlangsung, turun temurun. Namun, sangat sulit menemukan Parang Badau yang benar-benar asli. Karena konon, parang yang asli mengandung unsur mistis. Hanya orang-orang khususlah yang bisa memiliki Parang Badau bermuatan klenik ini.

Untuk menghayati perjuangan para pahlawan untuk merebut kemerdekaan dengan menggunakan parang, pada tahun 2015 TNI AL bahkan menamai Kapal Rudal Cepat (KRC-40) dengan nama KRI Parang-647. Selain Parang Badau, senjata lain yang dimiliki daerah ini bisa sobat lihat di Museum Badau, Museum ini banyak menyimpan benda pusaka seperti tombak,keris, mandau,pedang, parang dan alat-alat Kerajaan Badau maupun kerajaan Balok. (Nita/RPI)