Kumpulan Dongeng Sungai Kawat (Seri 2)

Nelayan yang Serakah

Klik:   Seri-1  |  “Cukup!, Wahai nelayan. Kau tarik kawat itu. Sudah cukup. Segera potong kawat yang di dalam sungai. Kamu sudah diberikan sesuai kebutuhan keluargamu. Sekarang, pulanglah!”, bunyi suara bergema dari dalam air meminta nelayan pulang. Suara aneh itu seperti tahu keadaan ekonomi si nelayan keluarga miskin.

Sang nelayan keheranan kok suara itu seperti tahu keadaannya yang orang miskin.

Suaranya aneh dan sepertinya dari dalam air.

Cepat-cepat ditengoknya, dilihat jelas-jelas ke dalam air, tidak ada apa-apa.

Dicari-cari. Sekaligus memastikan adakah nelayan yang sama seperti dia di dekatnya memancing.

Ke kiri, ke kanan. Semua diputari, tidak ada orang.

Nggak melihat seorangpun dalam keremangan malam. Saking gelap.

Cahaya cuma datang dari sinar bulan, nggak ada penerangan.

Sang nelayan miskin terdiam. Duduk di pinggir perahu sejenak mikir. ‘Abaikan aja suara itu!”

Hari semakin gelap, suara aneh tadi nggak bikin berhenti.

Terus aja ditarik tanpa mengenal lelah.

Gulungan yang sudah jadi diletakkan dalam perahu yang mulai terlihat miring. Beban di perahu bertambah.

Sang nelayan terus menarik dan meletakkan gulungan kawat di sisi sebelah perahu. Keringat meleleh di dahi tanda dirinya mulai kelelahan.

“Hai nelayan, cukuplah. Tarik kawatnya, sudahi. Potong, potong cepat. Selesaikan apa yang sudah kamu ambil.”

“Pulanglah!”, bunyi suara aneh yang bergema-gema makin kuat dari suara pertama. Suaranya sama tapi lebih keras dan menakutkan.

“Padahal ambil satu meter, hidup keluarga kamu sudah berkecukupan,” tambah tinggi suaranya, suara ini makin bergema-gema. Lebih tinggi dari suara sebelum-sebelumnya.

Sang nelayan sama sekali nggak menghiraukan suara gema dari dalam air itu.

Bahkan dalam hati berkata, “Bila satu meter aja hidupku sekeluarga luar biasa dengan ditambah lagi. Hidup kami makin-makin. Tujuh turunan masa depan terjamin. Harus tarik lagi kawat emasnya. Kawat ini harus ditarik kuat-kuat. Sekeluargaku akan bergelimang harta, kaya raya,” pikirnya sambil tersenyum lebar.

Ketamakan mulai menguasai hati sang nelayan miskin.

“Cukuuup!, Menarik kawatnya sudah selesai. Bantuan ini sudah selesai. Lekas dipotong. Cepat kamu potong nelayan. Dan pulanglah!”, suara kembali menggelegar kuat dan menggema-gema.

Suara aneh kali ini terdengar lebih dahsyat, gemanya menakutkan. Bikin perahu bergoyang-goyang.

Nelayan terkejut, berhenti. Ia ketakutan.

Aktivitas tarik kawat dihentikan. Suara aneh ini  seperti mau menerkam.

Diamati sekeliling. Nggak terlihat, gelap gulita.

“Enak aja kau menyuruhku berhenti”, jawab nelayan miskin balas teriak, tantang.

“Inilah kesempatanku jadi orang kaya.”

“Aku harus tarik semua. Tanggung kadung, sekalian aja.”

“Nggak mungkin dua kali kejadian ini,” Dalam hatinya makin tamak.

Pikiran jahat menguasai. Serakah dan tamak.

Kesadaran berpikir jernih terlambat.

Nasi sudah menjadi bubur.

Nelayan miskin nggak sempat lagi menyelamatkan diri.

Kawat emas nggak putus-putus. Nelayan miskin kelelahan.

Tidak berapa lama, air memenuhi semua bagian perahu.

Saat itu juga perahu si nelayan tenggelam ke dasar sungai untuk selamanya. Nggak ada orang bisa menolong.

Hari gelap dan sunyi. Perahu dan nelayan ditelan sungai. Sungai kembali seperti biasa.

Nelayan nggak muncul-muncul. Mati sia-sia.

Turuti nafsu serakah, berubah menjadi manusia tamak.

Sungai tempat tenggelamkan perahu dan nelayan diberi nama sungai Kawat. Itulah asal-usul nama Sungai Kawat.

Baca Juga:  Ada Pesan Moral Wisata ke Batu Malin Kundang

Pesan moral untuk menahan diri dari nafsu yang tidak bertepi. sifat serakah bukan hanya merugikan orang lain (keluarga), tetapi juga diri sendiri.

Keserakahan sering membuat orang buta mata dan hatinya mati. Kekayaan dan kebahagian yang dicari, akhirnya menjadi petaka karena jiwa dipenuhi nafsu serakah yang tidak pernah ada puas. (Selesai).

Terima kasih untuk dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dalam Tiga Video di Channel Youtubenya. Silahkan, ditonton dan jangan lupa untuk subscribe.