Mendandani Mayat untuk Memuliakan Leluhur

Ritual Ma'nene Sulawesi Selatan

Dengan wilayah luas yang terdiri dari pulau-pulau terpisah, menjadikan negara kita kaya akan budaya dan adat istiadat. Sobat Pariwisata bisa melihat semua itu dari dari sabang hingga merauke. Adat dan budaya itu dilakukan secara turun temurun sehingga kita masih bisa kita menyaksikannya di zaman sekarang.

Salah satu adat istiadat unik yang ada di Indonesia adalah ritual ma’nene. Ritual ini dilakukan oleh warga Kecamatan Baruppu, daerah Pegunungan Balla. Ritual ini adalah salah satu yang dipertahankan secara turun temurun. Warga Baruppu percaya, jika ritual ini tidak dilakukan maka akan terjadi gagal panen yang melanda desa mereka.

Tana Toraja Sumatera Selatan
Tana Toraja Sumatera Selatan. foto: alaminimisteri.blogspot.com

Ma’nene adalah sebuah tradisi mengenang para leluhur dan keluarga yang sudah meninggal. Dalam tradisi ini, mayat yang sudah sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun akan dikeluarkan dari dalam tempat pemakaman, dibersihkan,dan diganti pakaiannya dengan baju baru. Biasanya, tradisi ini dilakukan di bulan Agustus, setelah panen dan sebelum masa tanam.

Ritual ma’nene berawal dari ratusan tahun lalu, loh, Sobat Pariwisata. Saat itu ada seorang pemburu yang bernama Pong Rumasek yang masuk hingga kawasan pegunungan Balla. Pemburu ini menemukan jasad dengan kondisi mengenaskan. Melihat kondisi itu, hati Pong Rumasek pun tergugah. Ia lalu memakaikan baju yang dikenakannya pada jasad tersebut dan meletakkannya di tempat yang layak.

Ritual Ma'nene
Ritual Ma’nene, foto: kemendikbud

Semenjak kejadian itu, Pong Rumasek selalu dengan mudah mendapatkan binatang buruannya. Konon, arwah dari mayat yang pernah dirawatnya, akan membantu dan membimbingnya dalam proses perburuan. Lahan pertanian Pong Rumasek pun mendapatkan hasil panen yang melimpah. Maka, Pong Rumasek pun mengambil kesimpulan bahwa jasad orang yang sudah meninggal pun harus dimuliakan.

Ritual ma’nene ternyata memiliki rangkaian yang cukup pajang, Sobat Pariwisata. Proses pelaksanaan ma’nene dimulai dengan datangnya pihak keluarga ke Patane (kuburan berbentuk rumah) untuk mengambil jasad sanak saudara mereka. Sebelum membuka peti, Ne’tomina selaku tetua adat atau pendeta, akan membacakan do’a serta memohon ijin leluhur agar musim tanam dan panen masyarakat mendapat rahmat dan keberkahan.

ma'nene ritual
ma’nene ritual, foto: alaminimisteri.blogspot.com

Jasad yang dikeluarkan lalu akan dibersihkan menggunakan kuas, lalu pakaiannya akan diganti dengan baju dan kain baru. Perlakuan ini dianggap sebagai upaya untuk menghormati para leluhur. Saat ritual ini berlangsung, Sobat Pariwisata tidak akan melihat jasad yang diletakkan di dasar tanah. Karena hal itu merupakan pantangan. Jasad akan dipangku oleh sanak keluarga dan akhirnya menghadirkan tangis pilu.

Setelah dipakaikan baju baru, jasad tersebut akan dikembalikan ke Patene setelah sebelumnya diajak berjalan-jalan. Rangkaian acara ma’nene pun akan ditutup dengan berkumpulnya anggota keluarga di rumah adat Tongkonan untuk beribadah bersama.

Keunikan ritual ma’nene membuatnya menjadi salah satu incaran para wisatawan. Bahkan, media asing pernah meliput tahapan-tahapannya dengan rinci. Yuk, jadwalkan liburan Sobat Pariwisata ke Tana Toraja saat tradisi ini dilakukan dan saksikan ritual turun-temurun ini.