Museum Sumpah Pemuda

Menyelami Semangat Para Pemuda dari dalam Markas Besar
Pariwisata Indonesia

Beberapa puluh tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, para pemuda telah menyadari arti penting persatuan bangsa. Pemuda-pemuda yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia ini pun melakukan rapat-rapat guna membicarakan berbagai masalah dan upaya agar bangsa besar ini memiliki hal yang disepakati sebagai pemersatu bangsa.

Pariwisata Indonesia

Kongres Pemuda II digelar pada tanggal 27-28 Oktober 1928 dan dihadiri sekitar 700 peserta dari berbagai organisasi yang ada di Indonesia, di antaranya Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI), dan Pemuda Kaum Betawi. Pada kongres yang dilaksanakan di Batavia (Jakarta) itu, dihasilkan kesepakatan yang kemudian dikenal dengan nama Sumpah Pemuda, yang berisi:

 

“Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.”

“Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.”

“Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Pariwisata Indonesia

Sumpah Pemuda merupakan kristal perjuangan kemerdekaan Indonesia. Begitu pentingnya arti sumpah tersebut bagi Bangsa Indonesia hingga hari kongres tersebut diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.

Berbicara tentang Hari Sumpah Pemuda, rasanya kurang lengkap jika tidak membahas lokasi yang dijadikan tempat pelaksanaan Kongres Pemuda II tersebut. Gedung yang menjadi lokasi pembacaan ikrar tersebut saat ini menjadi Museum Sumpah Pemuda, yang terletak di Jalan Kramat Raya No. 106, Kwitang, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Untuk masuk ke dalamnya, Sobat Pariwisata hanya perlu menyisihkan uang sekitar 2.000-4.000 rupiah.

Pariwisata Indonesia

Awalnya, Museum Sumpah Pemuda merupakan rumah milik Sie Kong Liang yang dibangun pada awal abad ke-20. Pada tahun 1908, gedung ini disewa oleh pelajar Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) dan RS (Rechtsschool) sebagai tempat tinggal dan belajar, yang kemudian dikenal dengan nama Commensalen Huis.

Di tahun 1927, Commensalen Huis mulai sering digunakan sebagai markas para pemuda dan lokasi rapat berbagai organisasi pergerakan. Bung Karno bahkan kerap mendatangi gedung ini untuk menghadiri pertemuan dengan pemuda-pemuda lain. Karena fungsinya yang mulai berubah, gedung ini pun dikenal dengan nama Indonesische Clubhuis/ Clubgebouw (gedung pertemuan Indonesia). Di tahun 1928, gedung ini dijadikan tempat pelaksanaan Kongres Pemuda II yang menghasilkan ikrar persatuan para pemuda.

Pariwisata Indonesia

Beberapa tahun setelah Kongres Pemuda II dilaksanakan, para pelajar mulai meninggalkan Indonesische Clubhuis. Gedung ini pun disewa oleh orang-orang yang berbeda dan berkali-kali beralih fungsi, seperti menjadi rumah tinggal Pang Tjem Jam (tahun 1934-1937), menjadi Toko Bunga milik Loh Jing Tjoe (tahun 1937-1948), menjadi Hotel Hersia (tahun 1948-1951), hingga Kantor Inspektorat Bea dan Cukai (tahun 1951-1970).

Pada 3 April 1973, gedung ini dipugar oleh Pemda DKI Jakarta dan menjadi museum dengan nama Gedung Sumpah Pemuda yang kemudian pengelolaannya diserahkan pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 16 Agustus 1979. Pada tahun 1983, Gedung Sumpah Pemuda berganti nama menjadi Museum Sumpah Pemuda. Selanjutya, museum ini ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Nasional pada tahun 2013.

Saat berkunjung ke museum ini, Sobat Pariwisata bisa melihat beberapa diorama Kongres Pemuda II yang menggambarkan semangat yang berapi-api dari para pemuda yang menjalani pertemuan tersebut. Diroama-diorama tersebut seolah-olah bercerita dan membawa para pengunjung kembali ke zaman perjuangan kemerdekaan.

Pariwisata Indonesia

Di Museum Sumpah Pemuda ini juga terdapat biola milik Wage Rudolf Supratman yang dimainkan pada saat pelaksanaan Kongres Pemuda II. Perlu diketahui bahwa polisi Belanda mengawasi pelaksanaan kongres dengan ketat. Kata-kata ’Merdeka’ tidak boleh sekali-kali diucapkan. Hal itu pulalah yang menyebabkan lagu ‘Indonesia Raya’ hanya dimainkan dengan musik instrumen biola tanpa syair yang mengiringi.

Mengunjungi Museum Sumpah Pemuda akan mengajak Sobat Pariwisata menapaktilasi semangat perjuangan para pemuda untuk menyatukan nusantara. Semangat yang harusnya tetap dan terus berkobar selama Merah Putih berkibar dari Sabang hingga Merauke.(Nita)